BULELENG, Balipolitika.com- Diwarisi turun-temurun, gula ental khas Desa Sambirenteng, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali hingga kini masih diminati masyarakat.
Memiliki cita rasa khas dan menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat setempat, produksi gula ental tradisional ini memanfaatkan pohon nira yang juga diwariskan secara turun-temurun.
Setiap pagi, para perajin memulai aktivitas dengan menyadap nira dari pohon ental yang tumbuh di sekitar desa.
Nira yang terkumpul kemudian dimasak menggunakan tungku tradisional selama beberapa jam hingga mengental.
Setelah mencapai tingkat kekentalan tertentu, cairan tersebut dicetak menjadi gula merah yang siap dipasarkan.
Selain dibawa ke pasar, produksi gula ental para perajin Desa Sambirenteng juga dipesan khusus oleh konsumen dari Buleleng hingga ke luar daerah.
Selain dimanfaatkan sebagai pemanis alami berbagai jenis makanan dan minuman tradisional Bali, gula ental juga mulai diminati oleh wisatawan yang berkunjung ke wilayah Tejakula.
Cita rasanya yang khas juga membuat gula ental Sambirenteng kerap diperjualbelikan di marketplace hingga tembus ritel modern.
Menurut salah seorang perajin gula ental Sambirenteng, I Gede Widiarta pembuatan gula ental membutuhkan ketelatenan dan keterampilan khusus.
Diwawancarai Minggu, 14 Juni 2026, I Gede Widiarta menyebut cara pembutannya pun khusus untuk menghasilkan cita rasa khas Sambirenteng yang berbeda dari gula merah pada umumnya.
“Meskipun menghadapi persaingan dengan gula modern, masyarakat Sambirenteng tetap berupaya mempertahankan produksi gula ental sebagai sumber penghasilan sekaligus pelestarian budaya lokal,” ungkap I Gede Widiarta.
Lebih lanjut, I Gede Widiarta berharap gula ental khas Sambirenteng semakin dikenal luas oleh masyarakat sehingga mampu meningkatkan perekonomian ratusan warga yang menggantungkan hidupnya dari sektor tersebut. (Ade Octariana Dewi/4C/PBSI/Undiksha)










