AKU pindah ke kota D bukan karena pekerjaan. Setidaknya bukan semata-mata karena pekerjaan. Setelah lulus SMA aku sudah ditawari sahabat Ayah untuk membantunya di kelurahan sebagai staf bagian penginputan data. Aku menolaknya. Lowongan sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan distribusi sebenarnya bisa kutemukan di kecamatan. Tidak jauh dari kampungku. Aku pun menolaknya. Bukan karena aku tidak berminat, melainkan karena satu nama, Arga.
Suatu ketika, Arga menelepon, “Aku keterima kerja di sini, Ra. Kota ini besar. Peluangnya banyak,” Arga bersemangat bercerita banyak hal tentang masa depannya di kota D. Dia berapi-api menjelaskan tentang rencana-rencananya. Aku mendengarkannya, mengiyakan rencananya, dan tentu saja tetap mencintainya.
Aku mencintai Arga jauh sebelum cinta itu sendiri tahu caranya mencintai. Kami duduk sebangku di kelas dua SMA. Ia selalu datang terlambat dengan rambut masih basah dan sering lupa serta teledor dalam banyak hal. Terutama seringnya lupa membawa buku pelajaran dan tentu saja lupa mengerjakan PR. Aku terkadang sering membuatkannya PR dan menyelipkan buku matematika diam-diam ke dalam tasnya karena ia sering lupa. Guru-guru mengira kami pasangan yang saling menyeimbangkan dan saling melengkapi. Mereka tidak tahu bahwa yang menyeimbangkan dan selalu melengkapi itu, aku.
Suatu sore setelah hujan, kami terjebak di halte kosong. Arga menggambar matahari di kaca berembun dan menuliskan namaku di bawahnya.
“Kalau nanti aku sukses,” katanya, “Aku bakal ajak kamu ke mana-mana.”
Aku tertawa. “Kalau kamu nggak sukses?”
Ia mengangkat bahu. “Ya kita gagal bareng.”
Kalimat itu yang membuatku bertahan bertahun-tahun. Aku tidak pernah benar-benar bertanya waktu itu, “Apakah ia mencintaiku sebesar aku mencintainya?”
***
“Aku akan ke kota Bu?”
“Jauh,” kata Ibu.
“Cuma seratus kilometer, Bu.”
Ayah mengangguk pelan. “Seratus kilometer kalau naik motor dua jam. Tapi kalau hati yang pergi, bisa lebih jauh.” Aku tertawa saat itu. Aku merasa Ayah terlalu dramatis.
Aku pergi ke kota B dan ngekos di gang sempit tak jauh dari pusat kota. Kamar berukuran tiga kali empat, dengan jendela menghadap tembok rumah tetangga.
Setiap bulan aku mentransfer sebagian gaji untuk Ibu dan setiap akhir pekan, kalau lembur tidak mengejarku, aku pulang naik bus sore. Awalnya semuanya terasa seperti petualangan. Aku dan Arga sering bertemu setelah jam kerja. Kadang makan mi ayam di pinggir jalan, kadang hanya duduk di taman kota yang lampunya redup. Ia bercerita tentang atasannya yang galak, tentang target yang harus dikejar, tentang mimpinya naik jabatan sebelum usia tiga puluh, tentang rencana membawaku ke mana pun.
“Kita lagi bangun hidup, Ra,” katanya sambil menggenggam tanganku.
“Nanti kalau sudah mapan, kita nggak perlu capek begini.”
Kita, kata itu membuat kamar kosku terasa layak. Membuat dinding lembap dan suara tikus di plafon terasa sementara. Semenjak kata “Kita” itu menjadi akrab di hati dan pikiranku. Imbasnya, aku jarang pulang. Bukan karena tak bisa, tapi karena ingin selalu ada di kota yang sama dengannya. Kalau ia lembur, aku menunggu di kafe kecil dekat kantornya. Kalau ia dinas keluar kota, aku menghitung hari seperti anak kecil menunggu ayahnya pulang kerja.
Pelan-pelan, jarak seratus kilometer itu berubah makna. Ibu mulai sering berkata di telepon, “Kamu kapan pulang, Ra?” Aku menjawab, “Sedang banyak lemburan, Bu.” Sesekali Ibu bertanya juga tentang Arga, tentang kabar Arga dan tentu saja tentang hubunganku dengannya. Ketika sudah begitu, aku akan tersenyum sendiri, malu, bercampur bahagia, karena diam-diam Ibu merestui hubunganku dengan Arga.
Memang, sewaktu masih SMA, Arga beberapa kali datang ke rumah. Bertemu Ibu dan Ayah. Aku anak tunggal sehingga kehadiran Arga bisa menjadi teman dan sahabatku juga, ujar Ayah. Jadi, menurutku Ibu dan Ayah juga setuju hubunganku dengan Arga. Buktinya, sebagai anak tunggal, aku masih diizinkan ngekos di Kota B yang jaraknya seratus kilometer itu. Ya, sepertinya kedua orang tuaku menyetujui hubungan kami.
Suatu Minggu sore, ketika aku memutuskan tidak pulang karena Arga mengajakku menghadiri acara kantornya. Ada acara peresmian kantor baru di Kota C yang jaraknya seratus kilo meter dari Kota B. Artinya, jarak yang lebih jauh dari kampung halamanku. Aku menjadi sedikit takut, kalau-kalau Arga akan dipindahkan ke kantor baru itu.
Di acara itu, aku berdiri di sudut ruangan, memegang gelas berisi minuman yang tak kusukai. Arga sibuk berbicara dengan rekan-rekannya. Ia memperkenalkanku sekilas. “Ini Dara, teman lama.”
“Teman lama.” Pikirku agak terkejut. Aku menunggu ia menambahkan sesuatu. Tidak ada. Tidak ada tambahan kalimat apa pun dari Arga. Aku hanya sebatas teman lama. Pulangnya, saat kami berjalan ke parkiran, aku bertanya pelan, “Aku cuma teman lama?” Arga tertawa kecil. “Ya, masa aku jelasin panjang lebar di situ? Nanti juga mereka tahu.
Nanti, kata yang mengusik pikiranku setelah acara malam itu. “Apakah aku hidup dan berjuang selama ini dari kata “nanti”?” Sementara itu, kampung dan rumahku terasa makin jauh. Ayah pernah jatuh dari tangga saat memperbaiki atap dan aku baru tahu dua hari kemudian. Ibu tidak ingin menggangguku. “Kamu kerja yang benar saja,” katanya. Aku duduk di lantai kamar kos malam itu, merasa bersalah. Seratus kilometer tiba-tiba seperti jurang yang dalam, seperti palung yang gelap.
Tapi keesokan harinya Arga menjemputku untuk sarapan dan semua rasa bersalah malam itu berangsur surut. Ia membicarakan rencana pindah ke apartemen yang lebih dekat dengan kantornya. Ia membicarakan promosi. Ia membicarakan masa depan. Aku tidak pernah benar-benar yakin apakah dalam semua rencananya itu ada ruang yang jelas untukku. Aku tidak yakin. Tapi, sekali lagi aku tunduk pada perasaan cintaku pada Arga. Pada laki-laki yang rambutnya sering masih basah dan sering teledor itu.
Aku bertekad akan tetap tinggal di kota ini. Aku tetap membayar kos setiap bulan. Tetap bertahan di kantor yang pekerjaannya tak benar-benar kucintai. Tetap menolak tawaran sepupuku untuk pindah kerja ke kota lain. Ya, karena Arga ada di sini. Karena aku percaya cinta perlu diperjuangkan dengan jarak yang ditaklukkan. Sampai suatu malam, setelah ia semakin sering membatalkan janji dan semakin jarang menggenggam tanganku di ruang publik, aku mulai bertanya pada diri sendiri “Apakah aku pindah ke kota ini untuk membangun hidupku, atau hanya untuk memastikan aku tidak tertinggal dari hidupnya?”
Seratus kilometer itu tidak pernah berubah. Yang berubah adalah jarak antara aku dan Arga, yang perlahan-lahan jaraknya lebih jauh daripada kampung halamanku sendiri. Dan aku tetap tinggal. Demi nama cinta dan tentu saja demi Arga dan masa depan yang kuperjuangkan itu. Aku meyakini dengan berada di kota yang sama dengannnya, aku bisa memastikan cinta itu tidak benar-benar pergi.
***
“Ra, ini ada undangan,” siang itu ketika hujan turun begitu lebatnya. Aku lihat undangan itu. Amplopnya tebal, putih, dengan tulisan tangan yang kukenal bahkan sebelum kubuka. “Tulisan Arga.” Tulisan yang selalu sedikit miring ke kanan, seperti orang yang terburu-buru mengejar sesuatu. Aku membawanya ke meja kerja tanpa langsung membukanya.
Anehnya, jantungku tidak berdegup kencang, malah berdetak terlalu pelan, teramat pelan. Mungkin karena aku sudah tahu isi suratnya. Ya itu surat undangan. Undangan pernikahan.
Malamnya, di kamar kos yang pengap, kamar kos yang sudah tidak memberikan harapan masa depan, aku membuka amplop itu. Arga Pratama & Nabila Sasmita. Nama yang selalu kupuisikan dan kulantunkan dalam doa-doa panjangku kini bersanding dengan nama perempuan yang tidak pernah kudengar sebelumnya. Tanganku gemetar, bukan hanya karena terkejut, melainkan karena sesuatu yang sudah lama aku khawatirkan dan aku takutkan akhirnya memiliki tanggal dan tempat.
Resepsi akan diadakan di hotel besar di pusat Kota B. Kota yang sama. Kota tempat aku tinggal untuknya. Kota yang menjadi harapan dan masa depanku. Aku duduk lama di lantai kosku yang terasa makin panas. Di luar, suara motor di gang kecil bersahutan dengan suara hujan yang semakin lebat.
Hidup tetap berjalan seperti biasa. Tidak ada yang runtuh hanya dengan surat undangan itu, kecuali sesuatu di dalam dadaku. Esok harinya, aku mengemas pakaian dan membeli tiket bus pulang. Ibu tidak bertanya banyak saat kubilang aku akan pulang.
***
Di saat hari pernikahan Arga, aku sedang membantu Ibu mencuci beras di dapur. Tanganku terendam air dingin ketika ponselku dipenuhi notifikasi dari media sosial. Foto-foto pernikahan dan pelaminan. Arga tersenyum dengan jas hitam, berdiri di samping perempuan yang kini sah menjadi istrinya. Aku memperbesar foto itu. Aku tidak mengenal perempuan itu, tapi ia tampak bahagia. Begitu juga dengan Arga. Untuk sesaat, hatiku seperti ditarik ke masa SMA, ke halte kosong, ke gambar matahari di kaca, ke janji gagal bersama. Aku ingin membenci diriku yang dulu, tapi buat apa?
Senja turun di kampungku dengan cahaya kemerahan yang sendu, ketika telepon itu datang. “Ra… kamu sudah dengar?”
“Dengar apa?”
“Arga kecelakaan. Habis resepsi. Dalam perjalanan ke vila di pegunungan. Mobilnya tergelincir.”
“Istrinya selamat. Luka ringan. Arga…”
“Nggak tertolong.” Telepon langsung ditutup.
Aku belum sempat berkata-kata, air di baskom tumpah ke lantai dapur. Ibu menoleh. Aku tidak bisa menjelaskan apa-apa. Hanya berdiri dengan tangan basah dan kepala kosong.
Setelah telepon itu mati, aku berjalan ke kamar. Menutup pintu. Duduk di lantai. Aku menunggu rasa hancur itu datang. Tangis yang besar. Jeritan. Atau apa pun. Tapi, tidak terjadi apa-apa padaku, yang datang hanya sunyi. Selama ini aku pikir aku kehilangan Arga saat ia menikah. Ternyata aku sudah kehilangan dia jauh sebelum itu, yaitu saat ia berhenti melihatku sebagai “Kita”.
Bandung, 28 Februari 2026
BIODATA
HERI ISNAINI lahir di Subang, Jawa Barat, pada tanggal 17 Juni. Pernah mengikuti acara “Temu Penyair Asia Tenggara 2018” di Padang Panjang, Sumatera Barat, mengikuti Festival Seni Multatuli 6-9 September 2018 di Rangkasbitung, Lebak, Banten. Puisi-puisinya juga pernah dimuat pada Jurnal Aksara, Deakin University, Australia. Cerpennya pernah dimuat pada koran Radar Banyuwangi, Radar Kediri, dan Harian Rakyat Sultra. Kegiatan sehari-harinya adalah Dosen Sastra IKIP Siliwangi Cimahi.













