DENPASAR, Balipolitika.com- Gelombang akumulasi logam mulia oleh otoritas moneter berbagai negara kini mencapai level tertinggi dalam sejarah modern. Bank sentral di seluruh dunia terus mempertebal cadangan emas mereka secara masif sepanjang beberapa kuartal terakhir. Fenomena ini menjadi sinyal kuat bahwa ketergantungan global terhadap mata uang Dolar Amerika Serikat mulai memudar secara perlahan.
“Peran emas sebagai lindung nilai terhadap tren dedolarisasi dan risiko geopolitik akan mendorong lebih banyak bank sentral masuk ke pasar,” ujar Shaokai Fan, Kepala Global Bank Sentral World Gold Council.
Sejumlah negara seperti Guatemala, Indonesia, hingga Malaysia mulai menunjukkan taringnya dalam perburuan aset aman di pasar internasional. Mereka kembali aktif melakukan pembelian emas setelah sekian lama absen menambah pundi-pundi cadangan devisa negara. Langkah strategis ini mencerminkan kegelisahan negara berkembang terhadap stabilitas nilai tukar mata uang kertas di tengah gejolak ekonomi.
“Beberapa bank sentral mulai membeli emas kembali baik setelah lama tidak aktif maupun untuk pertama kalinya dalam sejarah,” tutur Shaokai Fan menambahkan.
Para analis ekonomi sepakat bahwa langkah memborong emas merupakan upaya nyata negara-negara untuk melakukan praktik dedolarisasi. Ketidakpastian geopolitik akibat konflik yang berkepanjangan membuat aset fisik jauh lebih menarik daripada instrumen utang luar negeri. Keamanan cadangan devisa menjadi prioritas utama agar kekayaan negara tidak mudah terkena dampak sanksi ekonomi sepihak.
“Banyak negara belajar dari pembekuan aset Rusia oleh Barat sehingga mereka ingin mengalihkan cadangan ke aset yang lebih netral,” kata seorang pengamat pasar.
Negara-negara besar seperti Tiongkok, India, dan Turki menjadi pelopor utama dalam aksi borong logam mulia yang sangat agresif. Bank Rakyat Tiongkok bahkan tercatat terus menambah simpanan emas mereka selama berbulan-bulan tanpa ada tanda akan berhenti. Diversifikasi portofolio ini dilakukan demi menjaga nilai kekayaan negara dari hantaman inflasi global yang semakin sulit untuk diprediksi.
“Emas dianggap sebagai aset aman utama yang tidak lagi hanya mengandalkan obligasi pemerintah Amerika Serikat atau surat utang Treasury,” lapor World Gold Council dalam rilisnya.
Permintaan masif dari institusi negara ini menjadi bahan bakar utama bagi lonjakan harga emas di pasar internasional. Harga emas diprediksi akan memiliki fondasi dukungan yang sangat kuat selama bank sentral terus mempertahankan posisi beli. Kondisi ini memberikan rasa aman bagi para investor meskipun suku bunga global masih mengalami fluktuasi yang cukup tajam.
“Selama bank sentral terus membeli emas maka harga logam mulia akan tetap terjaga pada level yang sangat kompetitif,” pungkas laporan tersebut.
Langkah berani dari berbagai negara ini menandai babak baru dalam sistem keuangan internasional yang tidak lagi berpusat pada satu mata uang tunggal. Emas kembali menjadi primadona karena sifatnya yang universal dan tidak memiliki risiko gagal bayar dari negara penerbit. Transisi besar ini diperkirakan akan mengubah peta kekuatan ekonomi dunia dalam jangka waktu yang relatif tidak terlalu lama lagi. (BP/CHA).













