DENPASAR, Balipolitika.com– Ketua Dewan Pimpinan Daerah I Partai Golongan Karya (DPD I Golkar) Provinsi Bali, Gde Sumarjaya Linggih alias Demer, menegaskan pentingnya langkah serius dan terintegrasi untuk menjaga keberlanjutan Bali di tengah berbagai persoalan kompleks.
Demer menilai ruang publik, khususnya media sosial (medsos) hari ini ramai membicarakan kondisi Bali yang kian berat seperti soal sampah, keamanan, hingga kemacetan parah.
“Kita tahu, banyak sekali sekarang ini di media sosial ada perbincangan tentang kondisi Bali yang dianggap sudah agak berat. Misalnya tentang sampah, tentang keamanan, kemudian juga tentang kemacetan,” ungkap Demer di sela-sela diskusi bertajuk “Membangun Bali yang Sustainable” di Istana Taman Jepun, Denpasar, Rabu, 7 Januari 2026.
Diskusi “Membangun Bali yang Sustainable” ungkap Demer yang duduk di Komisi VI DPR RI itu digelar untuk menggali pandangan para pakar mengenai kondisi Bali sesungguhnya sekaligus merumuskan solusi konkret.
DPD I Golkar Bali berusaha menggali pemikiran para pakar terkait bagaimana kondisi Bali sebenarnya dan cara penyelesaianya; bukan teori belaka.
Demer menilai, tanpa langkah cepat dan terukur, Bali berpotensi kehilangan daya saing sebagai destinasi pariwisata dunia.
Jika kondisi itu terjadi, perekonomian Bali yang sangat bergantung pada sektor pariwisata akan luar biasa terdampak.
“Kalau ini tak segera kita diskusikan, kemudian disampaikan kepada para pemangku kepentingan, tentu akan menyebabkan Bali yang tidak sustain atau Bali yang akan ditinggalkan,” tegasnya.
Demer menggarisbawahi bahwa Bali tidak bisa menghindar dari realitas pergerakan ekonomi berbasis pariwisata di mana investasi besar telah dilakukan, mulai dari pendidikan sumber daya manusia hingga pembangunan destinasi.
“Anak-anak kita sudah sekolah di sana, kita juga sudah menyiapkan destinasi-destinasi pariwisata yang baik. Tetapi kalau tidak kita pelihara dengan sistem transportasi yang baik, infrastruktur yang baik, termasuk persoalan sampah, banjir, dan keamanan, maka itu akan mendegradasi pariwisata itu sendiri,” paparnya.
Agar Bali tak ditinggalkan turis mancanegara, Demer menyampaikan komitmen untuk terus melakukan kajian dan diskusi bersama para akademisi, praktisi, dan profesor yang kompeten, khususnya yang memahami Bali secara mendalam.
“Golkar berinisiatif mengambil program kajian dan diskusi dengan para profesor yang telah bergelut di bidangnya. Nantinya ini akan menjadi sebuah kesimpulan yang kita sampaikan melalui saluran Partai Golkar, khususnya fraksi,” katanya sembari berharap kajian-kajian ini menjadi referensi kebijakan bagi pemerintah alias eksekutif.
Menyimak jalannya diskusi, Demer menyimpulkan benang merah penyajian dari para narasumber yang menekankan pentingnya integrasi pariwisata, pertanian, dan industri, sejalan dengan nilai-nilai Tri Hita Karana.
“Hampir semua pembicara menekankan pariwisata yang terintegrasi dengan pertanian dan industri, dikaitkan dengan Tri Hita Karana, planet, people, dan profit. Artinya, selama ini kita belum benar-benar mengintegrasikan kepentingan pariwisata yang ditopang pertanian dan ditunjang industri,” tegasnya. (bp/ken)













