DENPASAR, Balipolitika.com– Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali merespons fenomena kemunculan kawanan lebah yang terpantau melintasi ruas Tol Bali Mandara, Minggu, 19 April 2026.
Kepala BKSDA Bali, Ratna Hendratmoko menjelaskan pergerakan kawanan lebah dalam jumlah cukup besar di beberapa titik jalur tol sesuai hasil pemantauan awal dan laporan masyarakat merupakan fenomena atau kejadian alami.
Migrasi lebah itu berkaitan dengan perilaku biologis serangga, khususnya dalam proses perpindahan koloni.
Secara ilmiah, sesuai kajian entomologi, lebah merupakan serangga sosial yang memiliki mekanisme adaptasi terhadap perubahan lingkungan, seringnya karena perubahan cuaca.
Lebah merupakan hewan ektotermal yang regulasi suhu tubuhnya sangat tergantung pada lingkungannya.
“Fenomena perpindahan koloni (swarming) bertujuan untuk mencari sarang yang baru. Lazim terjadi jika habitat yang lama tidak lagi mendukung; terjadi perubahan kondisi lingkungan (suhu, kelembapan, atau gangguan); koloni lebah berkembang dan membutuhkan ruang baru. Fenomena ini juga dapat dikaji dalam perspektif ekologi sebagai bentuk respons organisme terhadap dinamika ekosistem,” ucap Kepala BKSDA Bali, Ratna Hendratmoko.
Terkait fenomena tersebut, Balai KSDA Bali berkoordinasi dan berkonsultasi dengan tokoh akademisi, Prof. Dr. Ni Luh Putu Eswaryanti dari Fakultas FMIPA, Universitas Udayana.
Ia memverifikasi bahwa musim pancaroba, panas terik, dan angin dapat memicu perpindahan koloni lebah menuju tempat yang lebih favorable.
Selain itu, Tol Bali Mandara berada dekat dengan kawasan hutan mangrove Tahura Ngurah Rai di Teluk Benoa yang memang habitat alami serangga seperti lebah, yang memanfaatkan nektar dari bunga-bunga mangrove.
Infrastruktur dari bangunan Tol Bali Mandara (kolong atau terowongan) menyediakan perlindungan dari hujan, angin kencang, perubahan suhu yang ekstrem, dan minim gangguan dari predator sehingga menjadi tempat yang ideal untuk membuat sarang.
“Hingga saat ini tidak terdapat laporan korban jiwa maupun luka serius akibat kejadian tersebut. Aktivitas Lebah bersifat sementara dan tidak menunjukkan perilaku agresif secara masif. Kondisi lalu lintas tetap terkendali
meskipun sempat terjadi perlambatan kendaraan,” urai Ratna Hendratmoko .
Meski belum jatuh korban, ia mengimbau kepada masyarakat yang melintas di Tol Bali Mandara agar meningkatkan kewaspadaan.
“BKSDA Bali mengimbau kepada seluruh pengguna jalan untuk (1) tetap tenang dan tidak panik; (2) mengurangi kecepatan saat melintasi area terdampak; (3) menggunakan alat pelindung diri, khususnya bagi pengendara
sepeda motor; dan (4) tidak melakukan tindakan yang dapat memicu agresivitas lebah, seperti mengganggu atau mencoba mengusir kawanan,” rinci Ratna Hendratmoko.
Lebih lanjut, BKSDA Bali akan menindaklanjuti fenomena langka itu dengan melakukan pemantauan lanjutan di lokasi kejadian; berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk pengelola jalan tol dan aparat setempat; serta memberikan edukasi kepada masyarakat apabila diperlukan.
“BKSDA Bali menegaskan bahwa fenomena ini bukan hal aneh, namun bagian dari proses adaptasi lebah terhadap perubahan lingkungan. Fenomena ini umumnya berlangsung dalam waktu singkat. Masyarakat
diharapkan tetap waspada namun tidak perlu merasa khawatir berlebihan,” tutup Ratna Hendratmoko. (bp/ken)













