Pernahkah Anda membayangkan bahwa tanah yang Anda pijak di utara Denpasar merupakan hamparan tanah suci berwarna keputihan yang ditemukan oleh para pencari pencerahan spiritual? Jauh sebelum menjadi pusat ekonomi yang dinamis di Denpasar Utara, sejarah Desa Penatih adalah sebuah narasi panjang tentang pengembaraan murid Maha Rsi Markandya, kemegahan kadipaten Majapahit, hingga sinkretisme indah antara ajaran Siwa dan Buddha.
DENPASAR, Balipolitika.com- PENATIH bukan sekadar nama kelurahan, melainkan identitas yang lahir dari perpaduan kekuatan militer Arya Wang Bang Pinatih dengan kedalaman spiritual para pertapa kuno.
Secara etimologi, sejarah Desa Penatih berakar dari kata Tanah Putih. Nama ini lahir dari penglihatan murid Maha Rsi Markandya, Bhujangga Sari, yang menemukan hamparan lahan berwarna keputihan di sepanjang aliran sungai besar. Dalam bahasa Bali kuno, kata ini diserap dari istilah pinih dan tih yang bermakna “pertama” atau “paling awal”. Di sinilah Bhujangga Sari membangun pasraman dan mendirikan Pura Payogan Hyang Api sebagai tempat pemujaan kekuatan Tri Sakti yang agung.
Wajah Penatih mengalami transformasi besar pasca penaklukan Bali oleh Majapahit di abad ke-14. Atas perintah Ratu Tribhuwana Tunggadewi, Dalem Ketut Kresna Kepakisan diutus menjadi Adipati Bali dengan didampingi para ksatria tangguh. Salah satu tokoh paling berpengaruh yang menetap di wilayah ini adalah Arya Wang Bang Pinatih yang bergelar Kyai Anglurah Pinatih Mantra.
Di bawah kendali beliau, Penatih berkembang pesat menjadi sebuah kadipaten yang disegani dengan kekuatan militer mencapai 35.000 pasukan. Tak hanya kuat di medan laga, Kyai Anglurah juga memperhalus sisi spiritual wilayah ini. Beliau memugar Pura Payogan Hyang Api menjadi Pura Penataran Agung Penatih yang megah.
Harmoni Siwa-Buddha dalam Satu Atap
Salah satu keunikan dalam sejarah Desa Penatih adalah adanya simbol toleransi beragama yang sangat maju di masanya. Kyai Anglurah membangun dua bangunan suci utama, yaitu Padma Siwa dan Padma Budha (Padma Kurung). Pembangunan ini merupakan bentuk penghormatan luar biasa kepada leluhurnya, Mpu Sidhimantra yang menganut ajaran Buddha dan Mpu Sedah yang merupakan penganut Siwa. Sinkretisme ini menjadi bukti bahwa sejak dahulu, masyarakat Penatih telah menjunjung tinggi keharmonisan perbedaan keyakinan.
Jejak Tradisi dan Modernitas
Penatih juga mencatatkan sejarah unik dalam budaya pemakaman di Bali. Di desa inilah, upacara pengabenan kinembulan (pengabenan massal) pertama kali dilaksanakan pada tahun 1938, yang kemudian menjadi inspirasi bagi banyak wilayah lain di Pulau Dewata untuk melaksanakan tradisi serupa secara gotong royong.
Kini, meskipun telah bertransformasi menjadi bagian penting dari Denpasar Utara, ruh “Tanah Putih” tetap terasa. Jejak kejayaan masa lalu masih terjaga rapi melalui Pura Penataran Agung Penatih yang kini dipuja sebagai Kahyangan Tunggal oleh masyarakat adat setempat. Memahami sejarah Desa Penatih adalah cara kita menghormati setiap jengkal tanah yang pernah menjadi saksi bisu keberanian ksatria dan ketulusan doa para yogi. (BP/CHA).













