RECHA mengadu pada kekasihnya dari jarak jauh disaksikan pohon-pohon. Saya mohon, kirimkanlah nafasmu untuk saya yang terengah-engah di sini menunggumu. Saya bukan saja merindukanmu, tapi lebih dari itu. Saya menginginkan pertemuan yang sahdu denganmu, tidak seperti dulu kau ajak saya bertemu di kuburan, mengerikan sekali bercinta denganmu. Entah apa maksudmu menyeret saya ke tempat mengerikan seperti itu, aku pun tak tahu. Ketika saya tanya, kau pun menjawab seperti bercanda, sambil tertawa, orang hidup jauh lebih mengerikan daripada orang mati yang tidak bisa bikin keonaran di dunia ini lagi. Setelah berkata dalam hati, airmata perempuan itu jatuh ke atas seprai. Ia mengingat kenangan indah dengan seorang kekasih yang belum tentu terulang lagi, lalu ia meraung lagi. Kali ini bibirnya bergerak, sebelum mulutnya bicara,
“Kapan kau pulang dari perantauan? Kau ingin saya yang sekarat ini mati dulu, baru kau datang bergegas dengan langkah terseok-seok memeluk saya dengan airmata buayamu,” kemudian ia mendesah seperti mengeluh. Ia tak butuh kesuksesan lelaki itu. Mau berhasil atau merana ia di sana, sama saja bagi perempuan itu, tak akan membuat cintanya berbelok. Kalau perlu, ia berharap lelaki itu menderita, sehingga lekas pulang, tertidur di pangkuannya sampai ia mengkedipkan mata terakhir.
“Saya yang terkapar sendirian di sini disiksa rindu. Hanya bisa melahirkan sair-sair cinta untukmu wahai pacarku. Sampai-sampai saya disebut perempuan penyair, seperti kau pernah memanggilku dengan sebutan itu. Saya selalu mencintaimu walaupun kau seorang bajingan seperti kata orang-orang itu, saya takpernah peduli. Perasaan yang tak terbendung dan terus tumbuh ini tidak akan pernah patah dan berubah seperti hembusan angin, tapi ia terus harum seperti buah.”
Perempuan bermata kecil itu menangis dalam kamarnya. Ia masih saja bicara sendiri, seolah-olah lelaki itu mendengarnya. Ia terus merindukan sosok lelaki yang mengusik tidurnya setiap malam. Parahnya, selama diperantauan lelaki itu tak pernah mau vidio call. Ia hanya mengangkat telpon biasa, dan itu pun jarang-jarang dengan waktu yang cukup sebentar dengan alasan yang tak jelas, sepertinya ia sok sibuk.
“Apa kau sengaja membuat saya memekik, dan terus-terusan memeluk kesunyian? Saya yang terlalu berharap padamu, malah kau permainkan. Apakah kau benar menaruh hati pada saya seperti yang saya rasakan? Hati saya yang condong ini sudah terkubur di bawah hatimu. Bibirku telah kering menunggu bibirmu yang selalu manis mengecup keningku. Kertas-kertas yang tergores, sudah menumpuk di mejaku menuliskan sair-sair cinta untukmu.” Dalam pikirannya, melintas suatu ingatan yang takterlupakan.
“Jangan sampai saya yang tetap sabar menunggumu kau sia-siakan. Kau tahu, apa yang saya takutkan dalam hidup ini, dan terus menghantui jiwa saya. Yaitu penantian yang terus-menerus dan berujung menyakitkan. Sementara kau bermain di sana dengan perempuan-perempuan kota yang lebih pandai berhias mempercantik diri, dan pekerjaannya cuma masuk dan keluar kantor. Ia tidak pernah bermandi lumpur seperti saya. Wajahnya yang tak pernah tersentuh air wuduk, walaupun tak bersinar, tapi tetap harum semerbak, tak pernah kena terik mentari berjam-jam seperti wajah saya yang terbakar. Di mata orang yang buta hati, dia tetap terlihat cantik.” Ia yang lemas memegang dadanya, merasakan jantung yang berdetak, sambil memejamkan mata sejenak. Kemudian meninggalkan ranjangnya, membuka jendela yang sudah berumur tua dengan suara menderik. Ia memandang tumbuh-tumbuhan di belakang rumahnya yang menyerupai hutan kecil. Ia berharap ada seseorang yang dirindukannya di sana, berlari-lari kecil menuju rumah itu. Sepoi berhembus menerpa wajahnya, membuat rambutnya tergerai. Dan ia yang murung, mengerjab-erjabkan mata. Airmatanya titik lagi untuk yang kesekian kali.
“Sedih, dan pilunya hatiku,” bisiknya, kemudian menggigit bibirnya yang kering.
* * *
“Kau kan datang dari jauh Dicky. Kenapa mau mengajar di pesantren ini? Kau tahu sendiri gajinya kecil?” Pertanyaan dari temannya ia anggap angin lalu. Ia sibuk mencicipi buku Sirah Nabawiah yang membuat wajahnya berubah, ada setumpuk kesedihan pada mukanya. Ia yang baru bertaubat dari masa lalu yang kelam, merindukan seorang sosok yang paling mulia, dan paling suci hatinya.
“Setelah tahu ada lamaran di sini, saya bermimpi didatangi seorang berwajah bersih. Dia bilang saya harus melamar, dan mengajar di sini.” Dicky tak menoleh kawannya sedikit pun.
“Apa kau percaya dengan mimpi? Mimpi cuma bunga tidur.” Kawannya itu berpindah tempat, duduk di atas kursi, menyeruput kopi yang masih panas. Asab yang mengepul berkeluaran dalam gelas putih itu.
“Masalahnya saya mimpi lima kali berturut-turut dengan orang yang sama, Wal.”
“Serius kau, Dicky.”
“Serius.” Ikhwal langsung turun dari kursi membawa gelasnya, duduk mendekat. Mereka saling pandang.
“Walaupun gaji saya kecil mengajar di pesantren, tapi rezeki itu datang saja dari berbagai pintu, dan dari arah yang tidak disangka-sangka. Sebelum mengajar di sini tidak pernah terjadi hal seperti itu pada saya,” Dicky meletak bukunya di atas meja.
“Ah, kau ini ngaur Dicky. Kelihatannya kau miskin terus.”
“Wal, kau masih ingat dengan Pak Labib?” Seperti mengalihkan pembicaraan. Tatatapan Dicky pada kawannya semakin serius.
“Masih. Emang kenapa?”
“Beliau pernah menawarkan saya sebuah mobil, dan setumpuk tanah, asal mau tinggal di kampungnya sebagai ustaz tetap. Bahkan beliau bilang, jika saya ridho, sekalian dia menikahkan saya dengan putrinya yang cantik jelita itu.”
“Ya, tapi apa hubungannya dengan kau mengajar di pesantren?”
“Kau benar-benar belum mengerti juga ya, Wal. Coba kau pikir, itu semua terjadikan setelah saya mengajar di pesantren. Coba kalau saya tidak datang kemari, pasti saya tidak dapat tawaran menggiurkan seperti itu. Anggap saja mengajar di pesantren sebagai bahan loncatannya. Kau jugakan tahu, saya ditawarin tinggal di asrama kalau sudah menikah, dibangun rumah untuk saya di sana.” Ikhwal baru mengerti, sebelumnya ia takberpikiran jauh ke sana.
“Terus, apa kau menerima tawaran itu?”
“Yang mana?”
“Tawaran Pak Labib, termasuk beliau yang ingin menjodohkanmu dengan putrinya yang cantik itu.”
“Tidaklah, Wal.”
“Kenapa?” Ikhwal menyeruput kopi yang masih panas. Asabnya terbang melayang-layang entah ke mana membawa pikirannya yang bercabang.
“Saya bukan pengagum kecantikan. Lagi pula saya sudah mencintai seseorang, dan saya lelaki tulus tidak bisa mencintai dua perempuan dalam waktu bersamaan.” Suasana hening, sesekali terdengar suara kicauan burung melintas di luar ketika angin mendesau.
* * *
Dicky baru saja pulang kampung. Anak-anak santri alias murid-muridnya libur untuk beberapa hari. Ia mengajak Recha bertemu di suatu tempat.
“Kenapa harus bertemu di sini? Aku yang menunggumu dengan kerinduan yang kau reguk, malah membawaku ke tempat seram seperti ini. Dulu juga begitu. Kau tidak pernah berubah,” sambil Recha membelai rambutnya sendiri. Kemudian ia mencubit manja pipi lelaki itu.
“Ya, kau benar perempuan penyair. Seperti cintaku padamu, tidak pernah berubah. Asal kau tahu, yang berubah itu cuaca, bukan cinta.”
“Bukan itu maksud saya, tapikan aneh saja, pacaran kok di kuburan”, sambil ia tersenyum.
“Kau marah?”
“Tidak. Kau bawa pun saya pada pintu kematian, saya ikut. Asal kau ada di situ bersama saya.”
“Lebai kamu,” Dicky menjulurkan tangan memberi oleh-oleh dalam bungkusan.
“Ini apa?”
“Alquran yang ada terjemahannya, sengaja saya belikan untukmu. Karena itulah saya mengajakmu datang ke kuburan ini.”
“Apa hubungannya Alquran yang kau kasih dengan tempat menyeramkan ini?” Hari mulai gelap, pertanyaan belum terjawab.
“Kuburan bukan tempat yang menyeramkan bagi mereka yang bersih hatinya.”
“Sudah, kita pulang saja Dicky. Nanti datang saja ke rumah, saya tunggu.” Recha tak mau pembicaraan itu berlarut-larut di kuburan, ia bergegas pergi. Belum beberapa langkah,
“Kau sendiri tahu perempuan penyair, Ibu dan ayahmu tidak senang dengan saya.”
“Karena itu kau mengajak saya bertemu di kuburan?” Dicky menelan ludah, kemudian menarik napas, menghembuskannya lega. Ia tidak ingin perempuan itu salah paham.
“Kalau kau ingin tahu kenapa saya mengajakmu pacaran di kuburan, tanyalah pada mereka pembaca cerpen saya nanti. Mereka pasti tahu jawabannya.
BIODATA
Depri Ajopan, lahir di Desa Lubuk Gobing, Sumatera Barat, 7 Desember 1989. Karya-karyanya dimuat di berbagai media massa lokal dan nasional serta di media daring. Ia bergiat sebagai anggota Komunitas Suku Seni Riau dan mengajar di Pesantren Basma Darul Ilmi Wassa’dah, Kepenuhan Barat Mulya, Rokan Hulu, Riau.













