BALI, Balipolitika.com – Tumpek Wayang adalah salah satu hari raya Hindu di Bali, setiap 210 hari sekali, yaitu pada hari Saniscara Kliwon Wuku Wayang.
Sejak Minggu Wage hingga Sabtu Kliwon, merupakan Wuku Wayang. Dalam kitab Sundarigama, bahwa mulai hari Minggu Wage hingga Jumat Wage Wayang sebagai waktu sakral, sekaligus tabu bagi umat Hindu.
Dalam Alih Aksara, Alih Bahasa, dan Kajian Lontar Sundarigama, hari-hari itu adalah hari yang kurang baik. Khususnya melakukan penyucian diri. Karena sebagai hari-hari pertemuan antara Sang Sinta dan Sang Wayang.
Nah, jika ada pelanggaran hal itu akan dapat menyebabkan punahnya kualitas diri. Sementara itu pada hari Jumat Wage Wayang, namanya Alapaksa, yakni hari yang kotor atau hari tercemar. Ada kemungkinan hari itu sakral dan tabu, untuk melakukan sesuatu.
Sebab hari tersebut, memang merupakan hari terakhir menjelang memasuki puncak peralihan yang terjadi besok harinya. Yakni Sabtu Kliwon Wayang atau Tumpek Wayang.
Tumpek Wayang hari yang paling keramat, karena merupakan hari pertemuan dari waktu-waktu yang sakral atau keramat. Hari Sabtu merupakan hari terakhir, menurut perhitungan Saptawara. Kliwon merupakan hari terakhir menurut perhitungan Triwara.
Wuku Wayang merupakan wuku terakhir dari 30 wuku yang memiliki tumpek. Sehubungan dengan itu, umat Hindu agar mengenakan sarana penolak bahaya dengan menyelipkan pandan berduri di pinggang.
Serta menorehkan kapur sirih di ulu hati. Termasuk pula memasang pandan berduri di pintu masuk rumah atau di bawah tempat tidur. Kemudian besok paginya, sarana penolak bahaya itu terkumpul dan taruh di atas sidi sebagai simbol bahwa telah berhasil menyelamatkan diri.
Menghindari berbagai rintangan dan bencana. Lalu sarana pandan berduri itu buang di jalan. Ada pemberian segehan dan iringan doa permakluman membuang segala noda, kotoran, penderitaan dan bencana.
Pada hari Sabtu Kliwon Wayang, adalah Tumpek Wayang. Umat Hindu meyakini bahwa pada hari Tumpek Wayang merupakan hari suci pemujaan kepada Bhatara Iswara sebagai dewa penguasa segala alat kesenian. Baik gamelan gong, gambang, gender, angklung, selonding dan lain sebagainya.
Termasuk kentongan, genta, dan wayang. Adapun sesajen yang patut untuk mengupacarai alat-alat kesenian tersebut. Antara lain, suci, peras ajuman, rayunan parangkatan, sajeng, daging itik putih, sedah woh, canang raka, pasucian.
Sedangkan sesajen untuk mengupacarai diri manusia adalah sasayut agung satu, prayascita, panyeneng. Maknanya adalah membangkitkan kesadaran diri, bahwa diri kita adalah bayangan atau tiruan wujud Sang Hyang Suksma. Diri kita merupakan wayang dari Sang Hyang Suksma.
Dan Sang Hyang Iswara bertindak sebagai dalang. Kodratinya sebagai dalang, maka Sang Hyang Iswara memiliki peran ganda, yaitu yang masuk undangan dan sekaligus mengundang. Sebagaimana halnya seorang dalang.
Jika dalang tidak dalam undangan, maka dia tidak akan mau pentas. Ketika sedang pentas, dalang pun mengundang kehadiran para dewa ataupun roh-roh yang datang memberikan kekuatan serta perlindungan. Sehingga ia dapat melakukan tugas dengan baik.
Kemudian pementasannya berjalan lancar. Orang yang menganggapnya pun menemukan keselamatan dan kesejahteraan lahir batin. Dengan demikian perayaan suci Tumpek Wayang, dapat berjalan lancar. (BP/OKA)













