BALI, Balipolitika.com – Calista Amore Manurung, dokter muda cantik akhirnya muncul juga. Wajahnya boleh cantik, tapi siapa sangka dia menjadi salah satu yang membully mendiang Timothy bahkan setelah insiden dia melompat dan meninggal dunia di kampus Unud.
Setelah tersebar chat perundungan, Calista adalah salah satu mahasiswi yang kini magang jadi dokter muda ikut merundung almarhum Timothy. Namun ia tak muncul ke publik, untuk meminta maaf seperti teman – teman mahasiswa lintas fakultas lainnya.
Sehingga membuat warganet geram dan terus mencari Calista, menunggu etikat baik dirinya sebagai manusia setelah tindakan nir empati yang ia lakukan. Dari chat yang tersebar, Calista tampak menyepelekan kematian Timothy, padahal ia adalah calon dokter di masa depan.
Hal ini lantas yang membuat dia menjadi bulan-bulanan netizen. Bahkan banyak HRD agar tidak menerima dia dan beberapa nama lain, yang ikut merundung mendiang Timothy. Sampai akhirnya Calista muncul dan mengaku salah lalu meminta maaf.
Sanksi DO
Sejumlah mahasiswa Universitas Udayana, yang melakukan dugaan perundungan atau pembullyan bisa terkena sanksi terberat secara permanen alias drop-out (DO).
Saat ini mereka belum kena sanksi apapun oleh Rektor Unud. Para mahasiswa pembully ini pun masih mengikuti perkuliahan seperti biasa di kampus negeri terbesar di Bali ini.
Mahasiswa dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unud tersebut, dugaan melakukan perundungan terhadap rekannya Timothy Anugerah Saputra (TAS), yang meninggal dunia setelah terjatuh dari gedung FISIP pada Rabu (15/10/2025).
Ketua Unit Komunikasi Publik Unud Dr. Dewi Pascarani mengatakan, keputusan sanksi untuk beberapa mahasiswa tersebut setelah hasil investigasi tim Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT) selesai.
“Karena saat ini masih dalam tahap UTS dan ada yang sedang dalam pemeriksaan, jadi belum ada putusan skorsing atau apa yang oleh fakultas karena kami sekali lagi menunggu hasil dari Satgas PPKPT,” jelas Dewi saat konferensi pers di Aula Pascasarjana Lantai 3, Gedung Unud Sudirman, Denpasar, Senin (20/10/2025).
Fakultas telah memanggil mahasiswa yang terlibat dalam ucapan nir empati tersebut, serta merekomendasikan untuk memberikan nilai tidak baik bagi kemampuan soft skill.
Sanksi akhir akan rektor tetapkan, berdasarkan hasil rekomendasi dari Satgas PPKPT. Ada enam mahasiswa dari FISIP yang telah terpanggil untuk pemeriksaan, sementara dari fakultas lain masih menunggu konfirmasi.
Dewi menjelaskan sanksi terberat bisa berupa pengeluaran dari universitas. “Maksimal ketika ada kasus perundungan dan pelanggaran etika, berkaca dari kasus sebelumnya, adalah pengeluaran dari universitas jika memang terbukti,” tegasnya.
Unud menegaskan serius menelusuri dugaan perundungan dan ucapan nir empati, yang beredar di media sosial pasca kejadian. Pihak kampus bersama Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan serta Dekan FISIP telah menugaskan satuan tugas untuk melakukan pendalaman.
Selain isu perundungan, Dewi menepis kabar yang menyebut tekanan akademik menjadi penyebab meninggalnya almarhum. “Kami telah melakukan klarifikasi langsung kepada dosen pembimbing skripsi almarhum. Berdasarkan keterangan yang kami terima, proses bimbingan skripsi baru berjalan sekitar 20 hari dan telah pembimbingan sebanyak dua kali. Proses berjalan baik dan komunikatif,” ujar Dewi. (BP/OKA)













