BADUNG, Balipolitika.com- Transformasi Menakjubkan Tanjung Benoa. Pernahkah Anda membayangkan, sebelum deru mesin Jet Ski memenuhi udara, Tanjung Benoa adalah sebuah hutan camplung yang sepi? Nama “Benoa” sendiri sebenarnya berasal dari kata “Benua”, yang dalam konteks lokal berarti perahu atau pelabuhan. Sejarah Tanjung Benoa tercatat sejak tahun 1546 sebagai sebuah semenanjung tempat berlabuhnya perahu dari berbagai penjuru dunia.
Siapa sangka, penghuni pertama kawasan ini bukanlah etnis Bali, melainkan para pelaut dari Pulau Hainan, Tiongkok. Pada abad ke-16, kapal-kapal “Wangkang” mereka berlindung di Teluk Tanjung Benoa dari hantaman badai. Sebagai rasa syukur, pada tahun 1548, mereka mendirikan Klenteng Caow Eng Bio.
Hingga kini, klenteng ini berdiri megah sebagai klenteng tertua di Bali dan kelima tertua di Indonesia. Keistimewaannya? Ini adalah satu-satunya tempat di Indonesia yang menyimpan patung Dewi Laut Shui Wei Shen Niang, pelindung para pelaut. Bukti toleransi pun terlihat saat Raja Badung, Ida Cokorda Pemecutan X, menghibahkan lahan permanen untuk klenteng ini pada tahun 1800-an.
Harmoni Lima Etnis dalam Satu Semenanjung
Barulah pada abad ke-17, etnis Bali dari Klungkung mulai berdatangan dan menetap secara dominan. Mereka membawa tradisi Hindu yang kental, mendirikan pura-pura agung seperti Pura Dalem Ning yang tersohor. Salah satu pura, yakni Pura Dalem Tengkulung, memiliki kisah unik tentang “capil” (topi nelayan) milik bangsawan yang diterbangkan angin kencang di tengah hutan.
Seiring berjalannya waktu, sejarah Tanjung Benoa kian berwarna dengan kehadiran etnis lain:
-
Etnis Bugis (1950-an): Datang dengan kapal Pinisi dan mendirikan Masjid Jami’ Mujahidin.
-
Etnis Jawa: Menyusul tak lama setelah Bugis dan bermukim di sekitar masjid.
-
Etnis Palue dari Flores (1970-an): Datang karena keahlian luar biasa mereka dalam menyelam dan pekerjaan laut.
Kelima etnis ini—Tionghoa, Bali, Bugis, Jawa, dan Palue—hidup berdampingan dalam harmoni yang jarang ditemukan di belahan dunia lain.
Kelahiran Surga Watersport Dunia
Titik balik sejarah Tanjung Benoa menuju pariwisata terjadi pada tahun 1973. Seorang prajurit TNI AL bernama Amir Sarafudin memperkenalkan konsep olahraga air pertama. Awalnya, masyarakat sempat skeptis, terutama saat aktivitas Parasailing pertama kali dicoba. Namun, setelah melalui pelatihan intensif, warga mulai menerima dan bahkan mengelolanya secara profesional.
Ketika kawasan Nusa Dua (BTDC) mulai dikembangkan pada tahun 1980-an, Tanjung Benoa awalnya hanya direncanakan sebagai daerah penyangga untuk pemukiman karyawan hotel. Namun, pesona pesisirnya yang tenang tidak bisa diabaikan. Kini, ia resmi menjadi pusat wisata tirta internasional.
Memahami sejarah Tanjung Benoa membuat kita sadar bahwa keindahan tempat ini bukan hanya pada pantainya, tapi pada sejarah panjang persaudaraan lintas bangsa. Saat Anda melesat dengan Banana Boat nanti, ingatlah bahwa Anda sedang berada di atas perairan yang pernah menjadi saksi bisu pelayaran pelaut Hainan ratusan tahun silam. (BP/CHA).













