DI TEPIAN Danau Maninjau, saat lembayung jingga memeluk bukit-bukit, aku seringkali terhanyut dalam lamunan. Bukanlah lamunan kosong, melainkan sebuah jejak ingatan yang berputar, seperti dayung sampan yang tak henti mengelilingi perairan. Jejak itu adalah tentang Engku Putri, seorang perempuan dengan mata yang menyimpan seribu rahasia, dan senyum yang mampu menggetarkan setiap serat jantungku. Ia hadir di setiap sudut Ranah Minang yang sunyi, di setiap helaan napas angin yang berbisik di antara pepohonan kelapa.
Kami berjumpa di sebuah balai adat, saat perhelatan perkawinan anak mamak. Aku, seorang pemuda dari kaki Marapi yang baru saja merantau ke kota, merasa asing di tengah riuh rendah sanak saudara. Namun, mataku terpaku pada sosoknya yang berdiri anggun di antara keramaian. Pakaian kurung basiba berwarna merah marun membalut tubuhnya, menyisakan jejak keindahan yang tak terlukiskan. Jemarinya lentik, bergerak pelan saat ia membantu menyajikan hidangan. Sejak saat itu, hati ini bagaikan terjerat pukat nelayan, tak kuasa melepaskan diri dari jeratannya.
“Siapa gerangan gadis jelita itu?” bisikku pada Mak Tuo yang duduk di sampingku.
Mak Tuo tersenyum tipis, “Itu Engku Putri, anak dari Datuk Rangkayo Basa. Ia baru saja pulang dari kota. Konon, ia menyimpan kepintaran yang luar biasa, tak hanya mahir dalam adat, tetapi juga dalam ilmu pengetahuan.”
Kisah Engku Putri menjadi desas-desus yang menarik di kalangan pemuda. Ia bukan sekadar elok paras, tetapi juga cerdas dan berpandangan luas. Aku, yang selama ini hanya sibuk dengan buku-buku dan cita-cita merantau, tiba-tiba merasakan sebuah dorongan lain dalam diriku. Dorongan untuk mendekatinya, untuk menyelami kedalaman hatinya, dan memahami pikiran-pikiran yang bersemayam di benaknya.
Malam itu, di bawah kerlip bintang yang bertebaran di langit Minang, aku mencoba memberanikan diri. Aku hampiri ia yang tengah duduk sendirian di pelataran balai, memandangi bulan sabit yang menggantung.
“Engku Putri,” sapaku pelan.
Ia menoleh. Senyumnya bagaikan rembulan yang menyinari kegelapan. “Ambo?”
Kami berbincang panjang malam itu. Tentang adat, tentang mimpi-mimpi merantau, tentang keindahan Ranah Minang yang tak pernah pudar. Setiap kata yang terucap dari bibirnya bagaikan melodi yang membuai, mengikatku semakin dalam. Aku merasa, di hadapannya, tak ada lagi dinding penghalang. Ia mampu memahami setiap keresahan dan harapan yang terpendam dalam jiwaku.
Hari-hari berikutnya, kami sering bertemu. Kadang kami bertemu di pematang sawah saat senja, kadang di bawah pohon beringin tua di pinggir desa, atau di serambi rumahnya yang berukir indah. Setiap pertemuan adalah sebuah pelajaran, sebuah penemuan baru tentang diri kami masing-masing. Engku Putri, dengan segala kepintarannya, tak pernah merasa tinggi hati. Ia justru merangkulku dengan kehangatan, seolah aku adalah bagian dari dunianya yang luas.
Namun, cinta tak selamanya berjalan mulus. Ada saja kerikil yang menghadang. Beberapa pemuda lain di kampung juga menaruh hati pada Engku Putri. Mereka adalah pemuda-pemuda terpandang, dengan harta dan kedudukan yang lebih tinggi dariku. Aku hanyalah seorang perantau muda yang belum memiliki apa-apa, kecuali semangat dan cinta yang tulus. Rasa cemburu seringkali menyelinap, membakar dada. Namun, Engku Putri selalu menenangkanku dengan tatapan matanya yang teduh, seolah berkata, “Jangan khawatir, hatiku hanya untukmu.”
Suatu sore, di tepian sungai yang mengalir jernih, Engku Putri menggenggam jemariku. “Ambo,” katanya pelan, “Ayah ingin menjodohkan awak dengan kemenakan Datuk Bandaro Kayo. Ia pemuda yang baik, dari keluarga terpandang.”
Hatiku mencelos. Dunia seolah runtuh seketika. Aku menatapnya, mencari jejak kebohongan di matanya, namun yang kutemukan hanyalah kesedihan yang mendalam.
“Tapi… Engku Putri… bagaimana dengan kita?” suaraku bergetar.
Ia menunduk, air mata menetes membasahi pipinya. “Adat adalah adat, Ambo. Kita tak bisa melawan. Ayah telah mengambil keputusan.”
Malam itu, aku tak bisa tidur. Kata-kata Engku Putri terus terngiang di telingaku. Aku tahu, adat memang sebuah aturan tak tertulis yang kuat di Ranah Minang. Namun, apakah cinta harus dikalahkan oleh adat? Apakah hati ini harus menyerah begitu saja?
Keesokan harinya, aku menemui Engku Putri di rumahnya. Dengan hati yang berat, aku mencoba meyakinkannya. “Engku Putri, marilah kita perjuangkan cinta ini. Aku akan bekerja keras, aku akan membuktikan bahwa aku pantas untukmu. Aku akan bicara dengan Ayahmu.”
Engku Putri menggeleng. “Jangan, Ambo. Kau hanya akan memperkeruh suasana. Ayah takkan berubah pikiran. Ia ingin yang terbaik untukku, sesuai dengan adat dan martabat keluarga.”
Aku terdiam, tak mampu berkata-kata lagi. Ada jurang yang terbentang di antara kami, jurang yang terlalu lebar untuk kuseberangi. Ranah Minang yang tadinya adalah surga, kini terasa seperti penjara.
Seminggu kemudian, undangan pertunangan Engku Putri tersebar. Hatiku hancur berkeping-keping. Aku tak sanggup datang. Malam itu, aku memutuskan untuk kembali merantau, pergi jauh dari Ranah Minang, membawa serta luka yang menganga di dada.
Tahun-tahun berlalu. Aku mencoba mengubur kenangan tentang Engku Putri dalam-dalam. Aku bekerja keras di perantauan, membangun kehidupan baru. Namun, setiap kali senja tiba, saat lembayung jingga memeluk cakrawala, bayangan Engku Putri selalu hadir. Jemarinya yang lentik, senyumnya yang teduh, dan tatapan matanya yang menyimpan seribu rahasia, tak pernah pudar dari ingatanku.
Suatu hari, kabar dari kampung halaman sampai padaku. Engku Putri telah menikah, dan kini telah memiliki anak. Ia hidup bahagia, sesuai dengan kehendak adat. Aku tersenyum pahit. Sebuah kebahagiaan yang dibangun di atas pengorbanan, di atas cinta yang tak sempat bersemi.
Aku memandangi jemariku sendiri, yang kini telah mengeras karena pekerjaan. Jemari ini, yang dulu pernah menggenggam erat jemari lentik Engku Putri, kini hanya bisa menyimpan kenangan. Sebuah kenangan tentang cinta pertama yang tak sampai, tentang sebuah kisah di Ranah Minang, di mana adat dan tradisi menjadi penentu takdir.
Aku tak tahu apakah Engku Putri masih mengingatku. Mungkin tidak. Mungkin ia telah bahagia dengan kehidupannya yang sekarang. Namun, aku akan selalu mengingatnya. Sebagai perempuan pertama yang mampu menggetarkan jiwaku, sebagai bagian dari cerita masa mudaku yang takkan pernah usai.
Di tepian Danau Maninjau, saat lembayung jingga kembali memeluk bukit-bukit, aku tahu bahwa cinta adalah sebuah misteri. Ia datang tanpa permisi, dan pergi tanpa pamit. Namun, jejaknya akan selalu ada, terukir dalam setiap hembusan napas, dalam setiap detak jantung, abadi di relung hati yang paling dalam.
BIODATA
Fitri Rusandi adalah seorang penulis dan penyair Indonesia yang aktif di platform daring. Ia dikenal karena karya-karya fiksi dan puisinya yang sering mengangkat isu sosial.













