Mantra Rintik yang Menolak Kering
Aku menulis lagi—
bukan karena ada yang baru,
melainkan karena hujan
mengulang namamu
dengan ketukan yang sama.
Rintik.
Rintik.
Rintik.
Seperti langkah kecil rumah
yang kembali menua
di dalam kepalaku.
Setiap tetes jatuh
seperti jeda napasmu
yang tertahan,
seperti ingatan yang merayap
ke kulitmu sendiri
tanpa kau undang.
Aku mendengar ritme itu,
—ritme lelaki yang melukis
bukan untuk mengabadikan,
melainkan untuk menunda sesuatu yang nyaris karam.
Kau tahu itu:
dua tetes cepat,
satu lambat,
lalu diam sebentar—
diam yang bukan hening,
melainkan ruang
di mana patah mencari tempat tidur.
Dan aku ikut terjebak di dalamnya,
duduk berlama-lama
di antara huruf yang tak mau
menjadi pesan.
Surat ini hanya ingin menjadi rintik,
tidak ingin menjadi kabar.
aku hafal cara hujan memanggilmu:
tik, tik, tik—
kapan pulang?
Dan kau selalu menjawabnya
tanpa suara:
bahwa tubuhmu
tidak lagi mengenal arah.
Aku membayangkan kau berdiri
di tengah kamar —
kamar yang ingat
tapi tidak memanggil,
kamar yang sepi
tapi tidak kosong,
kamar yang seperti
bagian tubuhmu sendiri
yang pernah kau tinggalkan.
Kau membuka jendela
dan membiarkan rintik masuk,
seperti seseorang
yang membiarkan masa lalu
merayap pelan di dadanya.
Tidak untuk mengulang,
hanya untuk memastikan
bahwa ia masih hidup.
Dan ritme hujan
mengiringimu melukis lagi:
satu garis patah,
satu tarikan panjang,
satu warna gelap
yang seolah ingin bicara
namun memilih menjadi kabut.
Aku tahu kenapa
kau melukis rintik yang menolak kering.
Bukan karena kau ingin menguasai cuaca,
melainkan karena kau takut
jika tubuh kanvas itu mengering,
maka sesuatu akan padam seketika lebih dulu.
di bagian ini
aku hampir mengirimkan surat ini—
hampir,
tetapi ritme hujan
menghentikan tanganku:
tik
tik
tik
jangan.
Jadi aku biarkan lagi
surat ini tertinggal di meja,
tumbuh lembab
seperti tanah halaman rumahmu
yang selalu mencium hujan pertama.
Dan jika kelak
kau menemukan gulungan kertas
yang membasah lambat
di pojok-pojok studio,
ketahuilah:
itu bukan pesan
Itu hanyalah hujan
yang menulismu kembali
dengan caranya sendiri.
Nitiprayan, 2025
Hujan yang Tak Mau Selesai
1/
Hujan turun seperti rahasia yang akhirnya patah,
mencari tubuh yang mau menampungnya.
Lelaki itu berdiri di beranda
udara berbau besi dan arang,
dan di balik lehernya mataku menyala
seperti bayangan lampu yang terlalu lama dipendam dalam kaca.
2/
“Kau datang lagi,” bisiknya
padahal ia tahu aku tak pernah pergi
dari retak-retak dinding pikirannya.
Ia menautkan jemarinya pada udara
seakan memegang denyut
yang mengapung di sela-sela rintik
—dan hujan pun menolak kering
sebab ia ingin menyaksikan mereka pecah lagi.
3/
Di bawah lampu yang menguning,
Aku menyadari betapa tubuh
adalah peta luka yang selalu dihafal
Setiap langkah mendekat
adalah satu kota rindunya yang runtuh.
“Kenapa kau selalu hadir saat aku rapuh?”
tanyanya.
Lelaki itu tersenyum kecil,
seperti goresan yang tak sengaja menjadi penting.
“Karena rapuhmu menciptakanku.”
4/
Hujan semakin pekat.
Butir-butirnya jatuh seperti mantra
yang tak boleh diucapkan keras-keras.
Ketika bibir menyentuh bahu
sunyi lembap itu menjadi semacam pintu—
pintu ke ruang yang hanya mereka kenal:
bahwa di sana, tak ada jawaban,
taka da kepastian
melainkan serangan pelan
yang menunggu dada untuk menyerah.
5/
hujan berputar seperti makhluk lapar,
menyerkap dan menunda habis.
Setiap helaan napas menjadi garis,
setiap gigil menjadi catatan pinggir
yang tak pernah selesai dibaca.
aku menggenggam punggung
seakan ingin mengoyak senyap yang memantul dari tulangnya.
Lelaki itu memejam—
takut bagaimana aku kembali
mengubah dunia kecilnya menjadi badai.
6/
Ada saat ketika tubuh mereka
hanya suara air yang mengalir:
lirih, terjaga, nyaris patah.
Seperti dua puisi basah
yang saling merobek
agar bisa menyatu lebih dalam.
Dan ketika lelaki itu membisikkan nama
Aku seperti retakan cermin yang menemukan maksudnya:
ia pecah agar cahaya bisa masuk.
7/
Namun hujan tahu lebih banyak daripada mereka.
Ia tahu ini adalah perjumpaan yang selalu menuntut harga.
Ia tahu tiap gesekan kulit
meninggalkan bayang yang tak bisa benar-benar pulang.
Ia tahu lelaki itu mencintai dengan cara yang gelap,
dan aku mencintainya dengan cara yang sunyi
—keduanya sama-sama haus,
keduanya sama-sama berdarah.
8/
Ketika selesai,
hujan masih belum mau berhenti.
Ia menolak kering
karena ia ingin menghapus jejak perih
yang menempel di kulit
Tetapi ia juga gagal,
sebab kisah semacam ini
tak bisa diringkas menjadi air dan udara.
Lelaki itu menatap
menyadari bahwa malam ini pun
ia takkan sanggup meraih seluruhnya.
9/
“Mungkin kita cuma dua badai,”
kataku pelan,
“yang bertabrakan karena tak punya tempat lain untuk jatuh.”
“Jika iya,” katanya lelaki itu,
“biarkan tubuhmu menjadi hujan terakhir
yang berani memelukku.”
10/
Dan malam itu,
di sebuah sudut yang berbau tanah dan cat,
dua tubuh menjadi satu luka
yang tidak ingin sembuh.
Hujan tetap turun, keras, dalam, gigil—
enggan berakhir,
sebab ia tahu:
selama aku dan lelaki itu saling mencari,
dunia akan selalu menetes
sedikit lebih lambat dari seharusnya.
Nitiprayan, 2025
Doa Tanah untuk Lelaki yang Selalu Hilang
sebelum aku menulis,
tanah di luar jendela bergerak pelan—
bukan longsor,
bukan angin,
melainkan semacam gumaman tua
yang merambat ke seluruh halaman rumahmu.
Seolah tanah itu ingin berbicara,
tapi hanya bisa bergetar.
Aku tahu nama getaran itu:
kau.
Tanah di Purbalingga
selalu mengingat langkahmu,
bahkan ketika dirimu sendiri tidak.
Ada bekas sol sepatu kecil
yang masih tersimpan
di lapisan paling tua,
tertutup akar,
tertutup waktu,
namun tidak hilang.
Dan malam ini,
ketika hujan turun perlahan
seperti tangan yang ragu menyentuh luka,
tanah itu mulai berdoa.
Bukan dalam bahasa manusia,
melainkan dalam bahasa
yang hanya dimengerti oleh lelaki
yang sering pulang ke dirinya
dengan cara yang tidak utuh.
Doanya seperti ini—
perlahan, patah-patah:
jika engkau tersesat,
biarkan tubuhmu membungkuk
bahkan sebelum kau memutuskan arah.
tidak semua pulang harus lurus—
kadang ia melingkar,
kadang ia hanyut,
kadang ia tenggelam dalam diam.
berhentilah menyamar menjadi kuat—
bumi lebih menerima patahan
daripada wajah yang dipaksa utuh.
Dan hujan—
yang sedari tadi menolak kering—
ikut mengamini doa itu
dengan ritme paling pelan
yang pernah kudengar:
tik…
tik…
tik…
seperti jantung yang sedang belajar
berdenyut kembali.
aku membayangkan kau berdiri
di tengah halaman basah,
kaki telanjang,
kepala menunduk,
seakan ingin merasakan
apa yang mendoakanmu dari bawah.
Ada getir di bahumu,
ada sesuatu yang rontok,
ada masa lalu yang akhirnya
tidak lagi mampu berdiri tegak.
Dan itu tidak apa-apa.
Tidak pernah apa-apa.
Di titik itu,
kamar lamamu gelap,
rumahmu tidak berbunyi,
hawa dingin masuk sampai ke tulang.
Namun untuk pertama kalinya,
malam tidak menolakmu.
Ia memelukmu seperti makhluk purba
yang mengenalmu dari hidup lain.
aku tahu kau selalu merasa
bahwa dunia bukan tempat
untuk menjejak kaki.
Kau bergerak dari kota ke kota,
dari kertas ke kertas
dari kanvas ke kanvas
dari studio ke studio,
dari galeri ke galeri,
dari garis ke garis,
dari sunyi ke sunyi—
dan setiap tempat yang kau singgahi
hanya menjadi singgah,
tidak pernah menjadi rumah.
Tapi tanahmu berdoa malam ini
dengan cara paling lembut—
seperti tangan yang menunggu
meski tidak dijanjikan apa pun:
jika kau tidak bisa pulang,
biarlah kami yang menarikmu
pelan-pelan
kembali ke tubuhmu sendiri.
Aku menutup surat ini
dengan gemetar kecil
yang bukan dingin,
melainkan semacam kesadaran:
bahwa beberapa lelaki
tidak pernah benar-benar pulang,
tetapi bumi—
entah bagaimana caranya—
tetap menyebut nama mereka
dengan penuh kesabaran.
Dan esok pagi,
jika tanah terasa lebih berat,
lebih hangat,
lebih dekat,
ketahuilah:
itu bukan hujan,
Itu adalah doa tanah
yang akhirnya menemukanmu
di antara serpih yang tersembunyikan.
Nitiprayan, 2025
Malam di Punggung Lelaki
ada sesuatu yang bangkit dari malam ini—
bukan roh,
bukan ingatan,
melainkan warisan gelap
yang selama ini bersembunyi
di sumsummu sendiri.
Aku mendengarnya sebelum hujan tiba:
suara kecil, serak, retak,
seperti kayu tua digerogoti waktu.
Ia memanggilmu
tanpa memanggil nama:
kau—
lelaki yang selalu pergi,
lelaki yang selalu kembali,
lelaki yang tidak pernah selesai
menjadi utuh.
malam ini bukan milikmu.
Malam ini milik mereka
yang pernah hidup sebelum kita,
yang tubuhnya hilang,
namanya gugur,
tetapi napasnya
masih menempel di tanah bernama.
Dan mereka mendekat—
perlahan,
tanpa langkah,
tanpa cahaya.
Seperti kabut yang tahu jalan pulangmu
lebih baik daripada kau sendiri.
Aku ingin kau tahu ini:
Mereka tidak datang
untuk menuntut.
Mereka datang
karena kau terlalu lama
memikul sesuatu
yang bukan milik satu manusia saja.
Lebih tua dari garis yang kau lukis,
lebih tua dari luka yang kau simpan,
lebih tua dari kampung yang menumbuhkanmu.
Mereka berdiri di belakangmu—
aku melihatnya seperti bayangan
yang tidak menempel pada tubuh,
melainkan pada jiwa.
Salah satu dari mereka
meletakkan tangan dingin
di punggungmu,
dan punggungmu
turun satu derajat,
seolah beban itu
pindah mengikuti aliran mereka.
Ia berbisik—
dalam bahasa yang tidak lagi ada,
namun entah bagaimana
kau mengerti:
“Kami yang memanggilmu pulang.
Bukan rumah.
Bukan hujan.
Bukan tanah.
Kami.”
aku tahu kau takut pada malam tertentu
yang terasa terlalu besar.
Tetapi malam ini
bukan untuk ditakuti.
Malam ini tanpa mantra
tanpa dupa,
tanpa upacara—
kecuali tubuhmu sendiri.
Kau berdiri di halaman basah
dengan baju melekat di kulit,
dan leluhurmu
mengelilingimu seperti angin
yang terbuat dari ingatan.
Mereka mengangkat wajahmu
perlahan,
seakan ingin menunjukkan satu hal
yang selama ini kau hindari:
bahwa pulang
bukanlah tujuan.
Pulang adalah tempat retak
yang harus kau lihat
tanpa menutup mata.
ketika hujan mulai turun lebih rapat,
aku melihat tubuhmu bergetar
bukan karena dingin,
melainkan karena kebenaran
yang akhirnya kau izinkan lewat.
Leluhurmu berujar lagi,
lebih dalam,
lebih seperti gema dari batu:
“Lanjutkan lukisanmu.
Jangan sembuhkan hujan.
Biarkan rintik menjadi saksi
bahwa tubuhmu pernah hilang
namun tidak menyerah.”
jika besok kau bangun
dan merasa punggungmu lebih berat,
itu anugerah.
Itu tanda bahwa malam ini
kau tidak lagi sendirian
menanggung sejarahmu.
Dan surat ini—
seperti semuanya—
akan tetap di sini,
di sisi gelap rumahmu,
di sela genteng yang mengembun,
di bawah langkah leluhur
yang menjaga namamu.
Aku menutup bagian ini
dengan satu kalimat
yang bergetar sendiri:
Pulangmu tidak selesai, —
tapi malam ini,
kegelapan pun memilih memelukmu.
Nitiprayan, 2025
Surat yang Tertinggal di Ambang Pintu
di malam yang pucat ini
kau kembali menjadi lelaki yang berjalan tanpa bayangan,
membawa hujan kecil yang selalu kau pelihara
di lipatan baju, di sudut kuku, di dada yang tak pernah selesai.
Kau berdiri di ambang rumahmu sendiri
seperti orang asing yang lupa mengetuk,
lupa apakah pintu itu seharusnya dibuka,
atau kau biarkan tetap menua bersama engselnya
yang berdecit seperti doa yang tak lagi punya nama.
Aku melihatmu—
dalam gelap yang hanya dipatahkan oleh satu lampu minyak
dan aroma kayu basah yang tumbuh dari masa kecilmu.
Kau menghapus embun di jendela
dengan punggung tangan yang dulu kau pakai
untuk mengusap wajah ibu,
untuk menulis nama jalan pulang,
untuk menggambar hujan yang tak mau berhenti.
Tapi malam ini,
tanganmu gemetar seperti seseorang
yang baru saja kehilangan alamatnya sendiri.
Di suatu tenpat yang tak jauh itu,
aku tahu:
ada satu kamar yang selalu menggigil
walau tidak ada angin.
Kamar yang kau tinggalkan setengah mati,
setengah hidup,
seperti seluruh riwayatmu.
Kau pernah menulis di dindingnya:
“Hujan ini bukan cuaca,
Ini yang tersisa dariku.”
Dan setiap kali kau kembali ke kota ini
dengan tubuh yang dipenuhi garis-garis tak selesai,
kau mendapati tulisan itu semakin buram,
seperti kepercayaan yang ditinggal terlalu lama.
kapan terakhir kali kau benar-benar pulang?
Ke sebuah tubuh?
Ke sebuah doa?
Ke sebuah ranjang
yang terus menyebut namamu
tanpa getir dan gentar?
Kau selalu berdiri di antara dua dunia—
rumah yang hilang,
dan rumah yang menolak menjelma.
Seperti hujan kecil itu,
yang kau bawa kemana pun
namun tidak pernah kau biarkan jatuh sepenuhnya.
Aku tahu,
di dalam dirimu ada seorang bocah
yang menolak kering:
yang menyimpan tik-tik hujan
sebagai bahasa pertama,
dan kehilangan sebagai bahasa terakhir.
Malam ini,
kau duduk di lantai rumahmu
yang senyap seperti perut bumi.
Lilin kecil menyala,
terlalu kecil untuk menerangi wajahmu,
tapi cukup untuk menampakkan bayanganmu
Kau membuka lembar-lembar kertas
yang mestinya menjadi surat.
Surat untuk siapa pun
yang berani menjadi tujuanmu.
Tapi kau biarkan kosong —
hanya noda hujan di tepinya,
dan garis-garis samar
yang mungkin goresan pena,
atau mungkin denyut jantungmu sendiri.
aku ingin menanyakan sesuatu
yang mungkin tak pernah ingin kau jawab:
Jika suatu hari hujan itu berhenti,
apakah kau masih mengenal dirimu?
Atau kau akan menghilang
seperti jalan pulang yang terlalu sering kau tangguhkan?
Jika rintik itu akhirnya kering,
apakah lelaki itu juga hilang?
Atau justru kau selama ini hidup
karena ketidak-keringan itulah yang menjadi rumah terakhirmu?
Aku menutup surat ini—
yang mungkin tak pernah sempat kau baca—
seperti seseorang menutup mata jenazah
yang tak pernah benar-benar mati.
Dan di luar sana,
hujan kembali turun,
pelan, bandel,
seakan ingin menyampaikan
bahwa tidak semua kehilangan harus disembuhkan.
Beberapa,
cukup disimpan
sebagai satu-satunya arah pulang
yang tersisa.
Nitiprayan, 2025
Mira MM Astra, lahir di Denpasar, 25 April 1978. Puisi-puisinya termuat di sejumlah media nasional: Kompas, Jurnal Sajak, Indo Post, Bali Post dan sejumlah buku kumpulan puisi bersama. Buku puisinya berjudul “Pinara Pitu” (Gambang, 2016).













