DENPASAR, Balipolitika.com– Di tengah meningkatnya penggunaan gadget pada anak, Duta Anak Kota Denpasar melalui Komisi Partisipasi menginisiasi sebuah gerakan edukatif bertajuk ARJUNA (Aksi Riang Bersama Anak Jelajahi Nusantara) sebagai upaya mencegah kecanduan gadget sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap budaya Bali sejak dini.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Selasa, 17 Maret 2026 ini diikuti oleh 40 siswa-siswi tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Denpasar. ARJUNA hadir sebagai ruang alternatif bagi anak-anak untuk belajar, bermain, dan berinteraksi secara langsung tanpa ketergantungan pada perangkat digital.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembagian kelompok untuk melatih kerja sama dan komunikasi antar peserta.
Selanjutnya, peserta mendapatkan pelatihan pembuatan klakat dan tipat yang dipandu oleh juri, sebelum mengikuti lomba yang menguji kreativitas, kerapian, serta kekompakan tim.
Sembari menunggu proses penilaian, peserta diajak bermain berbagai permainan tradisional yang tidak hanya menghadirkan keseruan, tetapi juga memperkenalkan kembali nilai-nilai kebersamaan dan kearifan lokal yang mulai tergerus oleh perkembangan teknologi.
Duta Anak Kota Denpasar Komisi Partisipasi, Ni Komang Tria Putri Paramita menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian terhadap kondisi anak-anak saat ini yang cenderung lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadget.
“Melalui kegiatan ARJUNA, kami ingin menghadirkan alternatif kegiatan yang menyenangkan, edukatif, serta mampu mengalihkan perhatian anak dari penggunaan gadget berlebihan menuju aktivitas yang lebih bermanfaat,” ujar Tria.
Kegiatan ditutup dengan pengumuman pemenang lomba pembuatan klakat dan tipat, serta pemberian apresiasi kepada peserta.
Antusiasme peserta terlihat tinggi sepanjang kegiatan berlangsung, mencerminkan keberhasilan program dalam menciptakan suasana belajar yang interaktif dan menyenangkan.
Melalui gerakan ini, Forum Anak Daerah Kota Denpasar berharap dapat mendorong lebih banyak anak untuk terlibat dalam kegiatan positif berbasis budaya, serta menjadi generasi yang tidak hanya cakap secara teknologi, tetapi juga memiliki karakter kuat dan kecintaan terhadap warisan budaya Bali. (bp/ken)













