BADUNG, Balipolitika.com- Sejarah Desa Kuwum Mengwi. Kisah ini berawal dari kekosongan pimpinan Kerajaan Mengwi. Seorang Brahmana, famili dari Ida I Gusti Agung Ketut Griya, diutus raja. Brahmana itu mencari keputusan raja sementara. Brahmana tersebut akhirnya ditunjuk langsung oleh Raja Mengwi. Keputusan ini dibawa Brahmana ke Buruan, Sanur.
Ida I Gusti Agung Ketut Griya, yang mengungsi, mendapat kabar itu. Raja sementara dipegang seorang Brahmana yang bijaksana. Permaisuri raja dianggap belum mampu memerintah sendiri. Sang Brahmana berkata, biarkan saja Kengetan, Katik Lantang, dan Samu dirampas. Ada hal lebih penting yang harus dikerjakan saat ini.
Membangun Kembali Desa Sembung
Desa Sembung dulunya adalah hutan (alas). Penduduk desa telah pergi ke desa lain. Mereka takut dan dibujuk penguasa di Marga dan Perean. Perselisihan paham dengan Raja Mengwi menjadi penyebabnya.
Dahulu, tombak milik Perean dipinjam Raja Mengwi. Kejadian ini membuat orang Sembung, Karanjung, dan Nyelati pindah. Mereka terutama pindah ke Marga. Di Marga, mereka mendirikan Pura Desa sendiri. Pura itu diberi nama Bale Agung Sembung.
Maha Patih Mengwi mengeluarkan perintah tegas. I Gusti Agung Ketut Griya harus segera ke Sembung. Beliau diperintahkan mendirikan Desa Sembung yang baru. Desa ini harus diperkokoh sebagai benteng perbatasan. Benteng ini untuk menangkal serangan dari utara Mengwi.
Lahirnya Kuwum dari Kubu-kubu Kecil
I Gusti Agung Ketut Griya membawa serta pengikutnya. Mereka adalah orang perarudan dari Tauman, Belang, dan Pasekan. Bekas rakyat Kengetan ditampung di Sembung Baru. Rakyat Karanjung, Nyelati, dan Kuwum juga diberi penduduk baru. Ini dilakukan karena Mengwi khawatir mudah diserang dari utara.
Istri I Gusti Agung Ketut Griya menyetujui rencana ini. Mereka berangkat ke Sembung bersama putra mereka. Brahmana mengucapkan terima kasih dan berjanji membantu. I Gusti Agung Ketut Griya mendirikan pemerintahan pertama di Puri Sembung.
Untuk menangkal musuh Marga dan Perean. I Gusti Agung Gede Jelantik diperintah membuat kerajaan kecil. Ia membangun kerajaan kecil kedua di Banjar Nyelati. Pembangunan Nyelati ini berdiri tahun 1870. I Gusti Agung Gede Jelantik dibimbing ayahnya, I Gusti Gede Rai.
Namun, tanah garapan tidak seimbang dengan jumlah penduduk. Tahun 1875, beliau memperluas daerah hingga Banjar Kuwum. Beliau membuat pusat pemerintahan baru di Jero Kuwum. Rakyat mulai membangun kubu-kubu kecil untuk tempat tinggal. Karena banyaknya kubu-kubu kecil inilah. Masyarakat menyebutnya Kuwum, dan akhirnya menjadi Desa Kuwum.
Semedi Raja dan Pemekaran Desa
Setelah 40 tahun memimpin, beliau mencari jalan baru. Ida Anak Agung Gede Rai bersemedi di Pura Dalem Surya. Beliau mendapat anugerah (Paica) langsung dari sana. Anugerah ini disungsung di Jero Gede Kuwum. Rakyatnya pun menjadi tentram, adil, dan makmur.
Setelah Kuwum makmur, barulah Br. Balangan dibangun. Masyarakat Desa Kuwum melaksanakan pembangunan gotong royong. Mereka berpegang pada filosofi Gemah Ripah Loh Jinawe. Mereka juga berpegang pada paras paros Sarpanaye yang suci.
Desa Kuwum merupakan satu kesatuan dengan Desa Sembung. Namun, wilayahnya yang luas menuntut pemekaran. Pemekaran menjadi dua daerah desa dinas dilakukan. Desa Sembung dan Desa Kuwum resmi berpisah. Pemekaran ini sesuai SK Bupati Badung 342 Tahun 2002. Batas wilayahnya adalah sepetak sawah antara Kuwum dan Karangjung. Sejarah Desa Kuwum adalah kisah perjuangan dan penyatuan. (BP/CHA).













