BALI, Balipolitika.com – Perayaan Nyepi baru saja terlewati, pada 19 Maret 2026. Hari ini, adalah Ngembak Geni, pada 20 Maret 2026. Sementara sehari sebelum Nyepi, adalah Ngerupuk pada 18 Maret 2026.
Pada malam Ngerupuk, semua orang khususnya pemuda dan pemudi menyelenggarakan pagelaran ogoh-ogoh di masing-masing desa dan banjarnya.
Tentu saja dari tahun ke tahun, tetap Denpasar menjadi magnet pagelaran di Bali. Walaupun daerah lain juga tak kalah hebat membuat ogoh-ogoh.
Dan lagi-lagi, 2 banjar menjadi icon setiap tahunnya yaitu Banjar Gemeh dan Banjar Tainsiat. Keduanya mampu menyedot antusias khalayak ramai, untuk datang berdesakan menantikan melihat karya Marmar dan Keduk.
Namun sayang, hingga pergantian tengah malam, hanya Gemeh yang turun dan melingkari pusat kodya, sementara ogoh-ogoh Tainsiat mengalami kendala usai sang gajah ada bagian yang patah.
Tak patah arang, penonton yang penasaran pun mendatangi langsung Banjar Tainsiat untuk melihat ada apa dengan ogoh-ogohnya. Sampai pukul 02.00 WITA ada kabar bahwa pemuda Tainsiat tak jadi tampil karena kendala itu.
Kolom komentar pun pecah, banyak yang mendukung Keduk dan pemuda pemudi Banjar Tainsiat, agar tidak putus asa. Ada pula komentar, agar ini menjadi pelajaran ke depan, karena sudah dua kali kejadian tahun 2025 dan 2026.
Bahkan tahun 2025, ogoh-ogoh terpaksa harus keluar pagi lewat dari jam seharusnya Ngerupuk, yang notabene membuat polemik di Bali, karena itu sudah pergantian hari dan sudah memasuki Nyepi. Keduk pun meminta maaf dan tentu saja dukungan terus berdatangan.
Sejatinya, memang tidak seharusnya Ngerupuk sampai lewat jam 12 malam, sebab jam itu adalah hari peralihan menuju Nyepi. MDA Denpasar pun telah menegaskan, ogoh-ogoh hanya boleh terarak sampai pukul 12 malam saja.
Semoga saja tahun depan, Banjar Tainsiat dan Banjar Gemeh kembali mampu memberikan mahakaryanya sehingga memberikan vibrasi terbaik bagi pulau dewata khususnya di Denpasar. (BP/OKA)













