BALI, Balipolitika.com – Ari Dwipayana, Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, mengkritik pemimpin Bali sejak dahulu tidak serius menangani masalah sampah, pembangunan yang mencaplok sempadan sungai dan pantai.
Hal ini menjadi salah satu penyebab, Bali kini kerap mendapatkan banjir bandang, khususnya saat musim hujan yang terus menerus terjadi tanpa henti.
Ke depan jika masalah ini tidak tertangani dengan jelas, maka banjir bandang akan menjadi fenomena rutin yang Bali rasakan dari sampah dan area resapan yang kian hilang oleh beton bangunan.
Alih fungsi lahan yang menggila juga harus menjadi atensi, agar ada sumber resapan air tatkala hujan di hulu dan debit air membesar. Masyarakat juga harus sadar, agar tidak membuang sampah sembarangan.
Semua orang harus sadar, demi Bali ke depan yang lebih baik, dan tidak sampai ada lagi korban jiwa dari bencana alam yang seharusnya bisa ada antisipasinya sejak awal.
Berikut beberapa faktor yang menjadi penyebab banjir bandang di hampir seluruh area Pulau Dewata.
Faktor Alam
Curah hujan yang tinggi, lebih dari 150 mm per hari, katagori sebagai hujan sangat berbahaya. Fenomena atmosfer seperti gelombang ekuatorial Rossby memicu pertumbuhan awan konvektif secara masif, menyebabkan hujan lebat berhari-hari tanpa jeda.
Fenomena pasang laut (rob) memperparah genangan air di daratan, terutama saat hujan deras mengguyur dan air laut sedang pasang tinggi.
Saluran air tersumbat sampah, terutama plastik dan limbah padat, serta kurangnya pemeliharaan rutin oleh pemerintah kota. Kapasitas drainase yang kecil tidak sebanding dengan volume air hujan ekstrem.
Topografi dataran rendah seperti Denpasar, terutama di area dekat aliran sungai, membuat kota ini lebih rentan terhadap banjir. Kemudian tata ruang yang amburadul menjadi pemicu salah satunya.
Alih fungsi lahan menggila, pembangunan di bantaran sungai dan area resapan air memperparah banjir. Alih fungsi lahan yang tidak terkendali mempersempit ruang resapan air, membuat air hujan langsung menjadi limpasan permukaan.
Kurangnya ruang terbuka hijau, Bali hanya memiliki sekitar 15-20 persen ruang terbuka hijau (RTH), padahal idealnya minimal 30 persen untuk menyerap air hujan.
Dampak banjir di Bali
Banjir menelan korban jiwa dan ratusan orang terpaksa mengungsi ke lokasi aman. Kerusakan infrastruktur dan transportasi, karena banjir membuat akses jalan utama lumpuh, beberapa ruas jalan tidak bisa terlewati, dan kendaraan terendam.
Dampak ekonomi dan sosial terganggu, ribuan pedagang kecil kehilangan pendapatan, dan peralatan rumah tangga rusak. Untuk mengurangi resiko banjir di masa depan, beberapa langkah mitigasi adalah dengan revitalisasi drainase, pengerukan sedimen dan pembersihan rutin saluran air.
Pengendalian tata ruang, menghentikan pembangunan ilegal di bantaran sungai dan mengembalikan fungsi aliran air. Penambahan ruang terbuka hijau, menambah area resapan air melalui taman kota dan hutan kota.
Sistem peringatan dini, memperkuat sistem peringatan dini banjir untuk membantu warga bersiap saat hujan ekstrem diprediksi. (BP/OKA)








