Sungai, seperti sebentuk batas. Seperti baris-baris waktu, hulu pengembaraan. Pengembaraan yang jauh atas cinta dan maut. Kata masih sendiri, wajah yang asing menuju rindu
yang tak juga bertenaga.
Sungai membias dalam kenang, kepada
waktu yang tak berakanan .Mengalir,
mengalir .Kemana? Bibir nan kelu tak pandai mengucap,
kata yang satu menebas waktu mengguncang batu menyiru suara sungai
dalam sajak.
Sungai
Mereka yang sendiri
menurun lembah
di bayang telanjang
Sunyi berjaga di puncak
menara
Jauh di kolong kota
kasihku bermuka-muka dengan
hening maut
sampai burung-burung pulang
di kening pagi tua
ini akhir perjalanan
senja gelisah
Desir daun-daun segala musim
Peraduan mimpi perkasa
Karena cinta kami Satu
Kebebasan rajawali
Kemurnian malam hitam
Di gua-gua hati
Sebab sepi di ruang semesta
Rindu di tunas segala
Pelukmu wajah manusia
Inilah akhir jalan
Sampai hari terhibur di paginya
sungai tiba di malamnya
bertudung surya
seteguk lagi!
Biar terisi batu jalanan
Sedu perempuan bertaburan
Lonceng mengguris angka kelu
di langit pagi
Tanda kafilah telah tiba
Nafsu berpisah dari rindu
Sungai yang kulepas
tiada tiba-tiba
di lautnya .
(1952)
Sungai sebagai bagian dari daratan,
dalam sajak ini mengalun, mengalir
sunyi perlahan menyigi segala basa dan percakapan. Penyairnya, Sitor Situmorang, membawa Subjek yang hadir atas bayang dan bayang yang jauh dan sunyi. Mengucap diri atas waktu
dan mereka. Perjalanan menatap kata dan kesedihan.
Bahasa berarah pada subjek
yang hilang dan pulang.
Mereka yang sendiri
menurun lembah
di bayang telanjang
Sunyi berjaga di puncak
menara
Sebuah gerak, dan kontradiksi mungkin. Mengawal Mereka sebagai orang ketiga jamak, bukan
Dia orang ketiga tunggal. Subjek yang jamak menunjuk pada orang ramai, tak tertentu.
Pertemuan kata Mereka dan
sendiri sebagai yang berlawanan membawa kepada olahan bahasa
yang tidak umum dan suatu keberanian yang memikat.
Dalam suasananya, Sungai di sini bagai jalan liku
arus yang menghempas ke hulu. Bunyi
yang bertaut sampai ke nadi, nadi
kota. Rangkaian kata sajak Sitor Situmorang
menyusuri sunyi heningnya pagi ke lembah hati.
Dalam laku tenang beriring Sitor umumnya menggurat
waktu sajak empat serangkai (kwatrin), pada sajak Sungai ini menemu likunya
ke dalam variasi bentuk larik 5. Bentuk yang mengada, pada ragam bentuk sajak, gaya
dan variasinya.
Bentuk sajak Sungai ini dapat dilihat terdiri
atas delapan (8) bait. Dengan susunan larik tiap bait: 5, 5, 4, 4, 5,
5, 3, dan 4. Bentuk yang tidak
umum dari sajak Sitor. Dan bila dibandingkan dengan sajak-sajaknya yang lain, Sajak
Sungai ini merupakan sebuah terobosan bentuk persajakan Sitor Situmorang. Bentuk sajak yang disukai Sitor secara umum:
4, 4, 3, 3. Seperti pada sajak
Surat Kertas Hijau, Dia dan
Aku, dan lainnya.
Penyair Sitor Situmorang seakan menyakini kesukaan dan kekuatan sajaknya bermula pada tautan bentuk larik
4 dan larik 3. Dan atas kesadarannya itu, dia mengolah bentuk
yang lebih kaya pada pencapaian
percakapan, larik 5, 4 dan 3 pada sajak
Sungai ini dan hasilnya terasa lebih dinamis
dan indah. Tak ayal, sajak Sungai ini salah satu yang terbaik dalam pencapaian
sajak Sitor Situmorang dimana bentuk sajak membawa
dinamikanya sendiri.
Sajak Sungai juga membawa nuansa liris yang indah dan kompleks; pertautan bunyi dan variasinya dan gerak makna antara yang tergenggam dan lepas. Pertautan bunyi vokal dan konsonan membawa unsur bunyi
tak terpisah dari sajak; seperti
antara vokal a, dan konsonan ah, ang memberikan kekuatan pada bunyi dan alur sajak. Sebagai
yang lembut dan keras, yang
sedih dan yang menggelora. Selain itu, olahan
diksi membawa lompatan kata atas kalimat sajak dan makna.
Larik sajak sebagai bentuk
pernyataan (penyair) bila kita pertajam
maknanya dalam satu kalimat sajak:
Mereka yang sendiri menurun lembah di bayang telanjang sunyi berjaga di puncak menara.
Di sini penyair
seakan ingin menyampaikan suatu pesan dalam larik-larik
sajak. Tapi kalimat pesan yang dibawanya tertutup kabut, begitu samar
dan rahasia. Dengan pilihan kata (diksi) yang ketat yang merujuk pada frasa sebagai penanda:
menurun lembah, bayang telanjang, sunyi berjaga di puncak– dimana penanda-penanda itu muncul atau hadir
atas susunan frasa. Artinya dalam membangun sajak ini, sepenuhnya
penyair banyak menggunakan anasir frasa.
Puisi yang indah pada umumnya menggunakan olahan kata dan frasa yang indah. Dan penyair Sitor Situmorang
di sini berupaya memainkan olahan kata, frasa dan juga bunyi.
Misalkan pada pertemuan
kata mereka dan sendiri
sebagai suatu yang kontras dan berhadapan, juga kata
menurun dan lembah , bayang dan telanjang , sunyi , berjaga dan puncak ke dalam
bentukan frasa membawa percakapan yang jauh atas ruang
makna. .Juga pada olahan bunyi, gerak bunyi
pada/antara konsonan ah
dan ang dan pertemuannya dengan
bunyi vokal I , a , menghasilkan gerak bunyi yang indah.
Begitu pun halnya bait kedua, juga tersusun atas 5 larik :
Jauh di kolong kota
kasihku bermuka-muka dengan
hening maut
sampai burung-burung pulang
di kening pagi tua
Pada bait kedua ini, kekuatan unsur
bunyi tampak lebih mengedepan lagi, juga dengan pertautan bunyi vokal a, dan pergerakan bunyi konsonan. Seperti pada pergerakan pertemuan bunyi vocal a pada kota di larik pertama dan tua di larik ke lima, dengan pertemuan bunyi konsonan ing pada hening di larik ke tiga
dan kening di larik ke lima.
Sungai seperti gerak bunyi suara
yang memanjang memanjat
kaki-kaki kota dimana si aku puitik
teringat pada kekasih dalam derita dan hening, berkasih-kasih dengan maut. Kematian
telah sampai ketika burung– burung telah tiba
ketika derita camar hilang pergi
seribu dendang pagi menyusup surut
kepaknya. Maut yang datang perlahan bagai kekasih yang merindu segala jatuh ke
titik hitam. Sendiri menatap ajal meresap segala
waktu dari mimpi tentang kota.
senja gelisah. Detik yang kemarin telah pergi menjauh
dari akanan. Lukisan waktu atas kematian
Kota yang tak lagi tenang terbang ke peraduan hitam.
Kembara cinta yang satu pilihan antara
kebebasan dan kemurnian. Narasi tentang kota hadir dan dibawa penyair sebagai wujud yang lekat dan kaitannya dengan modernisme .
Kemudian berlanjut bait 3 dan 4 dalam susunan 4 larik:
Ini akhir perjalanan
senja gelisah
Desir daun-daun segala musim
Peraduan mimpi perkasa
Karena cinta kami satu
Kebebasan rajawali
Kemurnian malam hitam
Di gua-gua hati
Pada bentuk larik 4 di atas, olahan sajak makin
jauh. Penyair tampak sangat memperhatikan
unsur sajak dalam tiap larik.
Unsur bunyi konsonan dalam gerak yang tak berketentuan dalam bait sebelumnya, menjadi lebih teratur pada olahan bunyi rima
I yang mengarah pada subjek
kami di bait ke empat.
Bait ke 3 dan 4 pada pesannya menunjukkan suatu penajaman sikap dan pandangan.Bila bait pertama dan kedua sebagai suatu tesa,
maka bait ketiga dan empat sebagai antitesa.
Subjek mereka sebagai tesa dan kami sebagai antitesa. Antitesa kebebasan rajawali dan kemurnian malam hitam . Dalam
hubungan konstelasi politik tanah air masa itu, dimana penyair
berada dalam barisan Soekarnois, penyair berada dalam silang pandang,
silang ideologi dan silang politik.
Dan pada bait 5 dan 6, Sitor
kembali dengan olahan 5 larik:
sebab sepi di ruang
semesta
rindu di tunas segala
pelukmu wajah manusia
inilah akhir jalan
sampai hari terhibur
di paginya
Sungai tiba di malamnya
Bertudung surya
Sekali lagi!
Biar terisi batu jalanan
Sedu perempuan bertaburan
Sungai yang berliku dalam kelindan sajak dan subjek; dimana si aku
puitik memandang memacu hidup atas
diri subjek: mereka , ku (kasihku),
kami (cinta kami satu), mu
(pelukmu) dan kembali ke subjek aku
(kulepas). Pergerakan subjek sebagai laku dan liku perjalanan
laksana sungai memanjang jauh. Menatap rindu pada tiap kelokan pada tiap kenangan (ingatan) yang berdiri samar.
Penyair Sitor secara lincah
membawa metafor sungai sebagai gerak yang jauh yang datang di waktu malam gelap, bertudung
surya dan para kekasih meringai dalam sedu. Pada bunyi lonceng kepada waktu dan angka hadir sebagai penanda.
Diri dan kekasih tak ingin tenggelam
dalam rindu, sebab hanya dengan
begitu sungai dirinya dan laut terpisah. Sebagai orang dari tanah Batak, bagi Sitor Situmorang dirinya akan bertahan
pada akar, pada warna tradisi,,
pada budaya asalnya sendiri. Laut sebagai
tempat yang asing tak akan dapat
membawanya kepada pencarian hidup dan bertahan dalam tiap kesulitan. Pada sungai, nenek moyang
pancaran dirinya, hidup dan bertahan.
Sajak Sungai ini tampak menjadi melodramatis dan sangat biografis.
Penunjukan diri yang bergerak kepada waktu, bukan kepada
eksisitensi. Penyair hidup, sebagai sebuah analogi sungai melalui perjalanan panjang, bukan padam dihempas
ombak di lautan. Dalam alam pandang:
Manusia lahir, hidup mencari pengalaman
dalam perjuangannya mencari bekal sebelum
kembali pulang.
Dengan sudut pandang ini,
hal tentang waktu menjadi penting. Waktu menjadi segala keberartian. Sedang ruang hanya sebagai
tempat menempa nasib. Si penyair telah menuruni lembah, masuki kolong kota, hingga
kelak sampai ke sungai keabadian.
Bagi Sitor Situmorang itulah sesungguhnya jalan hidup, hidup yang tak kehilangan akar, tak jauh
dari petatah petitih nenenk moyang sebagai orang kampung dari tanak Batak.
Manusia terikat pada ruang, dan semesta yang melingkupinya. Tempat di mana daratan memberinya hidup dan kehidupan. Malam yang gelap, sunyi. Dan pagi mencerah, bahana kebahagiaan. Tatapan waktu, ruang dan kata yang menghidupinya. Segala kisah hidup menyusuri
alur liku dan waktu. Seperti Sungai .
Bait ke tujuh
dengan olahan larik 3:
Lonceng mengguris angka kelu
di langit pagi
Tanda kafilah telah tiba
Pada bait ke tujuh ini Sitor
lebih kepada mengelaborasi ruang kata dalam asosiasi dan makna yang jauh tak berhingga. Penekanannya pada larik pertama: Lonceng mengguris angka kelu. Susunan kata atau kalimat sajak pada larik ini membawa
hubungan kata dan antar
kata, kata dan majemuk.
Misalnya kata lonceng bertemu dengan angka kelu. Suatu
olahan bentuk kata yang jarang
dalam larik sajak dan memberi makna dan asosiasi yang luas.
Dari kekuatan larik pertama, Sitor kemudian membawa larik berikutnya
kepada yang wajar dan umum pada susnan kata atau frasa: di langit pagi dan tanda kafilah telah
tiba. Sebuah susunan kata yang umum, namun maknanya khusus mengikuti alur larik pertama
sajak. Di sini menunjukkan suatu hal (gerak) yang umum dan yang khusus.
Ditutup bait ke delapan dengan
larik empat:
Nafsu berpisah dari rindu
Sungai
yang kulepas
tiada tiba-tiba
di lautnya .
Larik pertama membawa suatu hubungan yang kontras pada gerak dan relasi kata sifat:: nafsu dan rindu .Kehadiran kata kerja berpisah memberikan gerak bahasa sajak yang tidak biasa dan makna menjadi sesuatu
yang sulit dipegang.
Begitu pun gerak kata pada larik berikutnya: Sungai yang kulepas ,
tiada tiba-tiba , dan di lautnya suatu gerak dan olahan kata yang tidak biasa dan menjadi penutup sajak yang indah, sebagai sajak telah
menempuh dan mencapai puncak sajaknya.
Sajak yang Membawa Bentuk
Sajak-sajak Sitor Situmorang tergerak dan bergerak atas bentuk. Bentuk
mencipta pola dan ragam olahan: tema,
percakapan, kalimat persajakan, pilihan kata (diksi), frasa, ekspresi
bahasa, impresi sajak, pemaknaan dan sebagainya. Sebagaimana telah diungkap di atas, bentuk yang paling umum dan menjadi kesukaan Sitor Situmorang yaitu sajak 4 bait dengan susunan baris: 4 4 3 3. Seperti pada sajak Surat Kertas Hijau , Dia Dan Aku . Atau sajak kwatrin
(sajak empat seuntai) seperti Lagu Gadis Itali , sajak kwatrin dengan
variasinya Si Anak Hilang
. La Ronde dan lain-lain. Bentuk sajak
kwatrin dan variasinya merupakan bentuk umum dari persajakan
soneta. Bentuk sajak ini selain
umum, juga mudah dalam mengurai tema, membawa percakapan,
mengolah kalimat persajakan, menunjukkan ekspresi bahasa, dan impresi sajak.
Kekuatan Sajak Sitor dengan penekanan
pada impresi sajak memberi ruang yang segar dan hangat pada Bentuk kwatrin dan variannya. Olahan frasa dan lompatan kata yang membawa asosiasi ke dalam
ruang makna menunjukkan kesukaan dan gaya khas Sitor.
Dan sajak Sungai sebagai terobosan bentuk dengan mengolah baris persajakan 5 larik, dipadu dengan larik
4 dan larik 3 . menunjukkan Sitor Situmorang penyair yang teguh dan sempurna
dalam mencipta. Segala hal seluk
beluk sajak yang dikuasai memberikan bentuk menjadi dan indah.
Bagaimana kita mengarungi Sungai Sitor Situmorang? Sungai dapat dimaknai sebagai sumber kehidupan. Sitor membawa sajaknya pada sisi perjalanan kehidupan. Dari pancaran matanya, atas pancaran
cinta dan maut. Cinta dan maut melingkupi suatu penghidupan dalam perjalanan penyair dan hadir dalam gerak
citraan dan majas sajak.
Cinta yang dirasakan kehadirannya sebagai wujud perasaan
manusia, dan maut yang hinggap dan terbang serasa burung-burung yang melintas pulang. Kekasih yang tak terperi manis
bagai buah ceri masak di pohon
gugur di tengah musim.
Sitor memusatkan impresif sajak pada olahan bentuk 5 larik sajak:
Mereka yang sendiri
menurun lembah
Di bayang telanjang
sunyi berjaga di puncak
menara
jauh di kolong kota
kasihku bermuka-muka dengan
hening maut
sampai burung-burung pulang
di kening pagi tua
Olahan bentuk larik 5 ini seakan kaya ornamen. Impresi sajak terasa pada olahan bunyi dan bentukan frasa. Frasa di bayang telanjang dan sunyi berjaga di puncak membawa tautan kata bayang dan puncak . Siapa bayang dan puncak? Antara dirinya dan kekasihnya. Dan pada bait kedua, impresi sajak pada kasihku bermuka-muka dan hening maut . Impresi
sajak hadir dalam hubungan kekasih dan maut. Sedangkan impresi bunyi sajak pada pertemuan bunyi konsonan ah dan ang yang tak dikira ternyata menghasilkan bunyi yang rendah (lemah) dan tinggi (keras) menghasilkan variasi bunyi yang kontras namun indah dan nada bunyi selaras dari
pertautan bunyi vocal
a pada kata berjaga
dan menara. Sebalinya pada bait
kedua, bunyi dominan pada pertautan bunyi vocal kota , bermuka-muka dan tua . Bunyi konsonan ing pada hening dan kening menambah suasana menjadi dramatis.
Eksplorasi larik 5 ini membawa
bentuk persajakan Sitor Situmorang dan terbilang berhasil, meski tampak di sana-sini Sitor begitu mengukur segala sesuatunya demi pencapaian tersebut.
Dapat kita lihat juga nuansa dan suasana dalam bentuk larik
4 pada bait yang kemudian:
Ini akhir perjalanan
senja gelisah
Desir daun-daun segala musim
Peraduan mimpi perkasa
Karena cinta kami Satu
Kebebasan rajawali
Kemurnian malam hitam
Di gua-gua hati
Pada bentuk larik 4 ini suasana
lebih tenang dan establish.
Penyair pun tampak lebih nyaman dan Percaya diri membawa
kata sajak.Mengolah bunyi pertemuan bunyi konsonan D dalam baris desir daun-daun dan P , peraduan dan perkasa. Penyair lebih mengolah
suasana sajak pada frasa senja gelisah
dan Desir daun-daun segala musim . Dan gerak pembanding antara kebebasan rajawali dan kemurnian malam hitam . Si dia yang mendambakan kebebasan rajawali dan dirinya sebagai kemurnian malam hitam, sebagai gerak tak terbaca.
Sampai di sini gerak sajak
mulai tertandai dan wajar, dimana gerak
percakapan dan makna tiba di ujung, pada peraduan mimpi perkasa dan di gua-gua hati . Antara kekasih dan dirinya ada pertautan
hati dalam gerak yang jauh.
Kembali ke bentuk larik lima (5) :
Sebab sepi di ruang
semesta
Rindu di tunas segala
Pelukmu wajah manusia
Inilah akhir jalan
Sampai hari terhibur
di paginya
sungai tiba di malamnya
bertudung surya
seteguk lagi!
Biar terisi batu jalanan
Sedu perempuan bertaburan
Larik– larik ini terasa
terasa eksplosif, kaya bunyi. Gerak sajak
kembali dinamis dan menguak. Olahan kata malamnya dengan kata depan di sebagai tak umum dan bertemu
dengan kata surya sebagai sesuatu yang kontras dan tak terbayangkan, mengejutkan tapi indah. Disusul
dengan kata seteguk lagi sebagai lompatan
kata yang lepas. Dan suasa
dan bentuk kembali menjadi wajar dan nyata pada larik 4 dan 5: biar terisi batu jalanan dan sedu perempuan bertaburan .
Kemudian disusul larik tiga
(3):
Lonceng mengguris angka kelu
Di langit pagi
Tanda kafilah telah tiba
Pada l;arik-larik
ini Sitor seperti membebaskan gerak kalimat sajak
dengan olahan diksi yang menerawang di larik awal. Antara padanan dan ketaksepadanan kata lonceng , mengguris , angka dan kelu . Ketidakteraturan bentukan terjadi pada hubungan antar larik, sedemikian kontrasnya dengan apa
yang tertuang di dalam larik. Gerak ketidakteraturan
dan lompatan kata dan kalimat
dalam larik sajak dengan susunan larik yang teatur menggambar suasana atau kondisi
yang tidak tergambar tapi dalam barisannya
dapat dikendalikan.
Dan penutup sajak dengan larik
empat (4):
Nafsu berpisah dari rindu
Sungai
yang kulepas
Tiada tiba-tiba
Di lautnya .
Dimensi sajak menyeruak pada penutup. Hubungan nafsu dan rindu, sungai dan kulepas, tiada tiba secara
bentuk umumnya menjadi secara tiba-tiba sebagai hentakan aneh dan mengejutkan. Sungi dan laut sebagai sebuah
pertemuan sebagai yang tertolak nafsu dan rindu, tidak sebagai
cinta dan rindu.Si
aku puitik bertahan pada sungai, pada daratan yang menghidupinya, terlepas dari genggaman
rengkuh kekasihnya, sebagai laut.
Sebagai penyair lirik, Sitor sangat tersentuh dan sentitif pada olahan bunyi rima dalam
sajak. Olahan bunyi menjadi kekuatan
dan dinamika sajak. Pertautan bunyi vokal atau konsonan
seakan menghidupkan dan atau juga meredupkan.
Dunia Sitor Situmorang melingkupi dunia sajaknya, pun demikian sebaliknya sajaknya melingkupi segala kehidupannya. Mungkin, ini menjadi bentuk
totalitas kepenyairan Sitor Situmorang.
Alam dan Nafas Romantisme
Alam senantiasa membawa gerak dan suasana sajak-sajak Sitor Situmorang. Keterikatannya pada alam menggambarkan sosok si penyair
yang melangkah pergi dan kembali rindu kampong halaman. Alam sebagai
pusat dari ketidakberdayaan diri. Subjek ada di antara
determinisme dan kebebasan.
Gerak dan kebebasan individu tak sepenuhnya diamini Sitor. Dia menyatuh dirinya
pada akar, pada tanah dirinya dilahirkan. Dia tak memiliki
pertentangan bathin dengan adat. Dia
bagian dari local wisdom,
local genius. Individualisme tak
pernah sepenuhnya hadir pada diri Sitor. Dia bukan
si aku yang mengejar kelam dan berteman angin bimbang. Dia lebih
suka berdekap-dekap serunain angin di desir daun-daun, burung-burung berarak pulang, pada denting lonceng menyerpih perasaan rindu dan kenang. Waktu berdempuk. Berjalan, dan mencari jalan, untuk kembali. Dia tidak ingin
pergi untuk sepenuhnya pergi, untuk hilang sepenuhnya
hilang.
Hidup untuk meraih dan tanpa kehilangan. Meraih dan tanpa pernah kehilangan adalah langkah kembali ke kampong halaman, Pulang. Nafas alam dengan
kehangatan dan keindahannya
bersenyawa dengan rindu kampong halaman. Ini menjadi pagar
hidup: romantisme Sitor Situmorang.
Romantisme yang suka berindah-indah dan berindu-rindu itu dianggap tak cakap
mengatasi persoalan dunia
dan kemanusiaan terutama paska perang dunia I dan perang dunia II yang membuat tubuh kemanusiaan hancur. Bagaimana dengan romantisme Sitor, apakah sekedar
berindah-indah dan berindu-rindu,
apakah masih ada dari inti sajaknya
yang mencoba keluar mengatasi persoalan dunia dan kemanusiaan?
Derita hidup penyair memang
tak bisa kita kesampingkan. Perjalanan hidup penyair Sitor Situmorang
dan sikap politiknya membawanya sempat mendekam di penjara dan tekanan politik dalam negeri membawanya pergi jauh dan hidup di Eropa.
Penyair memang rawan hidup
dalam pertentangan dan tekanan. Karena dunia tak pernah mampu mengatasi
persoalan penyair, maka penyair seyogyanya
harus mampu mengatasi persoalan dunia. Karena
penyair hanya sanggup bertahan, bila dia maju
ke depan. Bagaimana dengan Sitor, apakah dalam
pertentangan dan tekanan dia majua ke
depan atau mundur ke belakang?Sebagai orang Batak yang terbiasa
hidup dalam klain, Sitor menempuh hidup sendiri dan jauh dari klain.
Artinya dirinya berada di antara paradoksal: di satu sisi dia rindu
kampong halaman, di sisi
lain pelan-pelan dia harus menghilangkan ke-Batak-annya.
Ternyata tak mudah bagi
Sitor melepaskan ke-Batak-an. Semakin dia mencoba melepaskannya,
semakin rindu kampong halaman menguat, arwah tengkorak kakek moyang semakin
deras memanggil. Dia seperti mengambil
jalan batu yang muncul atas permukaan.
Dunia Sitor dengan determinisme dan kebebasannya mencoba mengatasi kehadiran diri sebagai angkatan
45. Batas yang akan membawa kepada prahara, atau kebebasan
yang menjelma abadi. Misalnya membawa interkoneksinitas luar ke dalam. Sebagaimana
sajaknya yang beraroma
pantun pada sajak Lagu
Gadis Itali :
Kerling danau di pagi hari
Lonceng gereja bukit Itali
Jika musimmu tiba nanti
Jemputlah abang di teluk Napoli
Interkoneksinitas dunia luar (dengan nasional
atau lokal yang membawanya mencoba keluar mengatasi masalah bathin. Individualisme bukan persoalan enteng dalam klain Batak, yang biasa hidup dalam
persekutuan marga dan gereja.
Pada sajak Lagu Gadis Itali di atas Sitor menghubungkan
atau mendudukkan romantisme pada alam Eropa dan kampong halaman. Pada pertemuan kata lonceng gereja dan bukit itali di larik kedua sajak, dan kata abang dengan teluk Napoli di larik ke empat sajak.
Mengatasi masalah bathin, dai kehampaan
jiwa dan perasaan, sebagai manusia yang jauh yang tak diinginkan
kehadirannya di negerinya sendiri dari negerinya
sebagai asing dan terbuang .
Romantisme memanng menguras perasaan, obat segala gundah dan gelisah. Dunia sebagai kosmos semesta ruang, dimana alam
semesta menaungi kehidupan manusia. Alam dan lingkungan menjadi pusat perhatian
manusia. Manusia terikat atau tergantung
pada alam dan lingkungannya.
Manusia sebagai subjek yang terikat dan tunduk pada lingkungannya.
Romantisme Sitor mencoba keluar
dari ketaklukan dirinya atas lingkungan,
berjuang dalam kelindan modernisasi dan gerak kota yang banal. Waktu dan ruang berhimpit dalam ketenangan jiwa dan perasaan. Keselarasan jiwa dan perasaan menjadi inti atau sumber keindahan
dan kebahagiaan.
Pada sajak Surat Kertas Hijau Sitor berkata:
..
Mari Dik, tak lama hidup
ini
Semusim dan semusim lagi
Burung pun berpulangan
Sitor menempatkan waktu dan ruang sebagai hidup
yang bersangkut dengan maut. Hidup yang
diperjuangan
dalam sabra dan pasrah. Cta-cita dan bathin mesti selaras, jangan dipertentangkan. Optimisme hidup dibangun dengan harapan. Waktu bergerak ke depan dan ke
belakang. Ke depan kepada harapan,
ke belakang atas kenangan, ingatan akan masa silam, pada kampong halaman, pada
akar, pada budaya nenek moyang. Sitor
menempatkan dirinya sebagai individu yang berjuang atas cita-cita,
namun menjaga hubungan dengan masa silam. Dia tidak
menempatkan cita-cita di atas segalanya. Ini upaya pencarian
Sitor menemukan keselarasan dan pencapaian subjek dirinya. Tapi, ini bukan
tanpa masalah.
Karena bagi individu modern, cita-cita adalah yang terdepan, yang utama, harus diperjuangkan
dan diterobos. Dia tak boleh diombang-ambing
perasaan. Sebagai individu Sitor tak memiliki sikap
tegas, dia selalu memilih ada di antaranya. Di satu kaki dia berada
dalam lintasan modernisasi, di kaki yang lain dia
memuja masa silam (kampong halaman), atau satu sisi dia
menjemput individualisme Eropa, sisi yang lain memuja kekerabatan dan kampong halaman.
.
Lewat Tarutung dan Siantar
Ada dua jalan batu
Menuju kau
Sikap mendua Sitor, membuat
ketegasa dan keberaniannnya
menerobos zaman dipertanyakan.
Dengan sikapnya yang mendua dan tak tegas, inilah yang menjadi Sitor ada
di tengah bayang-bayang Chairil, kawan sesame angkatan 45. Bila saja sikapnya tegas
dan tidak mendua, mungkin keberadaannya ada di puncak, menggantikan Chairil Anwar. Seperti
dalam sajak Sungai dia menetapkan dirinya atas sungai
(daratan), tidak melepaskannya ke laut.
Nafsu berpisah dati rindu
Sungai
yang kulepas
Tiada tiba-tiba
Di lautnya
Cinta dan Maut
Cinta dan maut menjadi tema
abadi dalam romantisme. Hidup dan kehidupan sebagai perjalanan manusia mengatasi nasibnya, termasuk perihal cinta dan maut (kematian).
Cinta bagi Sitor memberi
optimisme dan kebahagiaan hidup.
Dalam sajak-sajaknya, Sitor bicara cinta
dalam hubungan dengan kekasih, cinta tanah air (kampong halaman), cinta kemanusiaan dan peradaban dan cinta kepada tuhan.
Cinta dalam hubungan dengan kekasih terungkap dalam sajak Dia Dan Aku :
Akankah kita bercinta dalam
kealpaan semesta
Bukankah
udara penuh hampa ingin harga?
Mari Dik dekatkan hatimu pada api ini
Tapi jangan terbakar
sekali
. ..
Cinta tanah air mengapung dalam bayang dan kenangan pada kehangat pasir dan nyiur di pantai:
Batu tandus di kebun anggur
Pasir teduh di bawah nyiur
Abang lenyap hatiku
hancur
Mengejar bayang di salju gugur
Bilamana cinta dan maut saling mengatas namakan rindu dan kenangan? Sajak Sungai mengatasi
hubungan cinta dan maut. Sitor seakan menempatkan
dirinya sebagai si aku puitik,
sebagai bagian dari jalan hidupnya,
dengan penggambaran situasi di dalamnya, keadaan yang mencekam, kepada kekasih yang dicintanya, dimana pilihan dirinya dan kekasihnya tak sama, kekasihnya mendambakan cita-hidup sebagai laut yang penuh kebebasan, sedang dirinya memilih hidup bertampuk
pada sungai. Sajak Sungai ini
bisa dibilang sebmacam sajak biografis.
Bagaimana Sitor mengawali sajak sebagai seorang
narator:
Mereka yang sendiri
Menurun lebah
Di bayang telanjang
Sunyi berjaga di puncak
Menara
Pola persajakan ini seakan mengatasi
bentuk. Frasa-frasa yang timbul sebagai timbunan kata rangka prosa. Sitor sebagai
narrator ingin membawa khalayak sajak atas kespahaman umum lewat subjek
mereka sebagai jamak bentuk orang ketiga. Dia mencoba
membawa cerita atau persoalan ke dalam lingkup
khalayak. Subjek mereka hidup dala benak
masing-masing.
Sajak ini bergerak teratur dan dalam alur.
Jauh di kolong kota
Kasihku bermuka-muka dengan
Hening maut
Sampai burung-burung pulang
Di kening pagi tua
Sebagai narator, Sitor mulai membawa detil cerita atau
persoalan pada diri kekasih si aku
puitik. Dimana narrator menempatkan
dirinya atau berlaku sebagai juga si aku puitik.
Dunia alam pedesaan yang diwakili kata lembah bertemu dengan kota . Cinta tak membawa harapan
dan kebahagiaan, malahan berujung kepada kematian.
Pesimisme beranjak atas waktu.
Sementara ruang, sebagai elan yang bertumpu atas nasib. Kesadaran
tak berketetapan pada rasio, tapi pada keadaan, pada situasi, pada dimesnsi sosial kehidupan orang banyak. Individu sebagai tak bergeming, dari kerumunan orang banyak. Subjek si aku puitik
tak menunjukkan dirinya langsung, hadir dan beranjak dari diri kekasihnya.
Cukilan kisah antara kekasih
dan dirinya, sebagai cinta berujung maut. Sekilas mengingatkan
kita pada sajak berkisah Annabel Lee dari
Emilie Dickinson. Sajak bergerak dalam
alur dan susunan waktu.
Ini akhir perjalanan
Senja gelisah
Desir
daun-daun segala musim
Peraduan mimpi perkasa
Percakapan sajak berlaku pada Sitor sebagai narrator, bukan pada si aku
puitik. Segala kisah cinta berakhir,
dengan segala mimpi besar. Hanya
merambah gelisah. Segala bergantung dan berpangkal pada nasib. Narator menyerahkan diri pada kekuatatan di luar dirinya dan individu. Dia tak
mengambil jalan untuk melawan dan menunjuk perlawanan atas keyakinannya.Perasaan gelisah membawa hati pada sikap menyerah. Keraguan menguasai diri, perjuangan tak membawa diri ke
depan untuk menentang atau menjawab segala tantangan. Sikap individualisme Sitor tak berani melawan
kekuatan di luar dirinya. Karena melawan kekuatan di luar hanya membawa kehancuran
diri dan kematian. Maut berdiri dalam
keraguan dan ketakutannya.
Sedang cinta yang tersembunyi
di gua-ga perasaan.
Karena cinta
kami Satu
Kebebasan rajawali
Kemurnian malam hitam
Di gua-gua hati
Dalam bahasa apologetic, narrator menyebut
dengan subjek kami , sama-sama sebagai rajawali
pemuja kebebasan. Hanya tak perlu ditunjukkan
cinta seperti kepekatan malam dan tersembunyi. Subjek kami tidak menyatu diri
dalam tekad, hanya berpisah dalam peduli.
Sebab sepi di ruang semesta
Rindu di tunas segala
Pelukmu wajah manusia
Inikah akhir jalan
Sampai hari terhibur
di paginya
Pada bait di atas kembali Sitor berdiri
sebagai suara narrator, dengan argumen kausal atas segala
perasaan dan penyerahan atas nasib. Sitor
terpahat pada keraguan, menunggu dan menunggu atas situasi. Tak
berupaya mengambil atau merebut.
Sungai tiba di malamnya
Bertudung surya
Seteguk lagi!
Bar terisi batu jalanan
Sedu perempuan bertaburan
Kisah sajak sepenuhnya sudah dalam genggaman
narrator. Sungai sebagai citraan
diri, telah tibaberlindung matahari. Yang pergi telah menajdi
nisan. Tinggal kembara nasib dan sedu perempuan. Politik telah mengambil
jalan dan perlindungan. Sastrawan dan seniman berjuang menegakkan kebebasan, tapi harus berada dalam
perlindungan, partai atau pimpinan partai.
Sitor berada dalam lintasan waktu, dalam keyakinan dan dukungannya kepada pemimpin besar Soekarno dan partai PNI-nya.Situasi sosial dan politik yang sulit dan persaingan keras antar partai
membuat sastrawan atau seniman tidak
mudah menunjukkan tajinya tanpa hubungan
atau perlindungan dalam partai Keinginan gerak kebudayaan dan politik dalam medan terpisah
seperti karam. Orang politik lebih cekat
membawa ruang dan kekuasaan.
Sikap politik Sitor tegas
atas nasionalisme dan kesetiaan pada Soekarno. Sikap politik kebudayaan yang nasionalis membawanya diberi tempat pergi
ke Eropa. Perjalanannya ke Eropa dan penilaian atas karyanya yang tinggi membuatnya masuk daftar sastrawan berkelas.
Lonceng mengguris angka kelu
Di langit pagi
Tanda kafilah telah tiba
Dirinya sebagai narrator, menggambarkan detil suasana, lonceng sebagai penanda waktu masuk
atas kehadirannya, Antara malam yang surut dan telah pergi, dan pagi yang membawa kafilah tiba. Sebagai
era baru atas masa lepasnya angkatan 45.
Dalam sajak yang mengandung atau bernuansa kisah dan biografis, pergerakan waktu menjadi penting. Waktu bagian yang tak terpisah dari gerak
sajak. Waktu membawa arah pergerakan sajak. Dan Sitor sendiri memang suka memasukkan unsur waktu dalam
sajak-sajaknya, dan berhasil
menyihir atau membuat
decak pembaca. Seperti sajaknya Malam Lebaran . Waktu seolah menjadi tak terpisahkan
dari sajak Sitor.
Nafsu terpisah
dari rindu
Sungai
yang kulepas
Tiada tiba-tiba
di lautnya .
Penutup bait sajak di atas lebih
berlaku sebagai ending kisah. Ada suasana dramati dan sekaligus kejutan bagi kita
pembaca. Penggunaan atau pertemuan kata nafsu dan rindu (bukan cinta dan rindu), kata sungai dengan kulepas . Dan puncaknya pada larik tiada tiba-tiba (bukan, tiada tiba).
Olahan sitor pada permainan gerak (lompatan) kata atau frasa bernas dan mengundang decak.
Sebagai narrator, Sitor pada penutup sajak ini baru
secara tegas menunjukkan keberadaan subjek si aku
puitik pada kata kulepas sebagai penanda dirinya sungai , dan tak pernah bertemu
dengan kekasihnya, laut. Sungai dan laut seperti sebuah batas, mencintai. Sitor berusaha membawa sajak kepada
keindahan dan keharuan. Dan dia ingin menunjukkan bahwa dirinya tidak
saja piawai bersajak, tapi juga piawai berkisah.
Sungai dalam Imajinasi dan Nasionalisme
Sungai tidak hanya sebentuk elan imajinasi, tapi juga sebuah sikap pandang
Sitor atas nasionalisme. Sungai sebagai sumber kehidupan, sebagai wujud tanah
dan air, membawa rasa cinta
kepada negeri, membentuk
dan membangun pandang atas sikap nasionalisme.Tradisi dan mitos
bagi Sitor menjadi bagian dari nasionalisme. Tradisi yang berbasis akar budaya, dan mitos sebagai kekuatan
yang bersumber dari pandangan dan kepercayaan nenek moyang. Alam,
tradisi dan romantisme menjadi dasar nasionalisme
Sitor.
Bagaimana ideologi Sitor di kalangan kebudayaan? Apakah ideology Sitor cukup mengakar dan bertahan Sampai sekarang? Bagaimana mendudukkannya pada arus besar kebudayaan atas Manifes dan Lekra?
Sajak Sungai ditulis Sitor Situmorang tahun 1952, tiga tahun setelah Chairil
Anwar, sesama angkatan 45, meninggal
dan situasi politik di dalam negeri terus memanas dalam tarung
politik dan ideologi. Dari konteks waktu, sajak sungai tak
lepas dari kondisi politik nasional saat itu
Bila kita telusuri makna
sajak dalam konteksnya, bait partama kalimat saja:
Mereka yang sendiri menurun lembah di bayang telanjang sunyi berjaga di puncak menara.
Dalam bait sajak di atas kata mereka yang sendiri dapat dipahami secara ideologis sebagai individualisme . Dalam konteks nasionalisme
Sitor sebagai pendukung Sukarno dan jargon Revolusi
Belum Selesai , dimana semangat individualisme tak sejalan dengan
nasionalisme dan gotong royong.
Bait kedua:
Jauh di kolong kota kasihku bermuka-muka dengan hening maut sampai
burung-burung pulang di kening pagi tua
Kota dan sungai seperti suara yang menggores waktu. Cinta yang mengembara atas kebebasan dan kemurnian seolah nafsu dan rindu bercermin dengan hening maut. Situasi,
kekalutan, dan batas. Politik menajam. Api revolusi terus
berkobar memenuhi ruang kanvas dan coretan sejarah. Revolusi belum selesai. Demikian penanda itu dibawa
dan digaungkan atas nama sejarah.
Jangan sekali-kali melupakan sejarah, Jas Merah. Pertarungan dan
pertaruhan ideology menjadi
kemurnian. Revolusi berdiri atas bingkai
nasionalisme. Kebebasan
pada akhirnya menjadi lawan. Sitor bukan
sosok wajah tak bernama, tapi
bagian dari wajah kekalutan nasionalisme.
bait ketiga:
ini akhir perjalanan senja gelisah desir
daun-daun segala musim peraduan mimpi perkasa
pada bait ketiga, kata ini akhir perjalanan
sebagai gerak langkah penajaman dan penguatan cita-cita pemimpin
besar revolusi.
Dalam jejaring kebudayaan dan ideologi, Sitor mungkin bukan tokoh
yang masgul. Dia bukan sosok yang membawa ruang ideologi
di dalam kehadiran dan ketidakhadirannya. Dia lebih tampak mengucap
hal dirinya dan nasionalisme dalam bingkai alam romantisme.
Dia bukan Chairil Anwar, bukan Sutan Takdir Alisyahbana,
bukan Pramoedya Ananta Toer. Dia
pemuja tradisi, dan pengejar kebermaknaan, tidak perjuangan total atas cita-cita. Seperti yang diungkapkan Chairil: Hidup hanya menunda kekalahan.
Bait ke-4:
Karena cinta kami satu kebebasan rajawali kemurnian malam hitam di gua=gua
hati.
Kata kami pada kalimat sajak di atas lebih
menekankan pada posisi, bukan pada pola hubungan. Susunan kata Karena cinta kami satu menunjuk pada posisinya sebagai kaum nasionalis
pendukung Soekarno. Sedang faham liberal atau komunis dan lainnya akan tersembunyi
atau tertutup dari hati (perasaan)
negeri atas gelora api nasionalisme.
Bait ke-5:
Sebab sepi di ruang
semesta rindu di tunas segala pelukmu wajah manusia inilah
akhir jalan sampai hari terhibur
di paginya.
Iklim dan cuaca politik yang ekstrim dimana konflik dan pertikaian menajam. Segala pandang dunia beku. Nasionalisme dan api revolusi yang digaungkan pemimpin besar revolusi sebagai tunas segala. Revoulusi melindas kontra revolusi. Sebagai pemenang dan penentu jalannya sejarah.
Bait ke-6:
Sungai tiba di malamnya
bertudung surya seteguk lagi! Biar
terisi batu jalanan sedu perempuan bertaburan
Dan bait ke-7:
Lonceng mengguris
angka kelu di langit pagi tanda
kafilah telah tiba.
Waktu menjadi penentu, sekaligus menafikan segala. Revolusi membutuhkan korban, dan yang dikorbankan.
Tentara telah berdiri dan mengawal sebagai pendukung utama nasionalisme Soekarno.
Bait ke-8:
Nafsu berpisah dari rindu
sungai yang kulepas tiada tiba-tiba di lautnya.
Revolusi dan kontra revolusi. Pemberontakan dan perlawanan bermunculan.Sebagai kekasih yang berpisah, antara rindu dan nafsu. Kawan dan kawan, kawan dan lawan. Sebagai hubungan yang tentu dan tak tertentu antara
sungai dan laut.
Revolusi butuh antitesa: Internasionalisme versus Nasionalisme,
Islam versus nasionalis, elit
versus wong cilik, sebagai bagian dari jalan politik Soekarno, revolusi belum selesai. Dan posisi Sitor sebagai
pendukung Soekarno sudah jelas bahwa nasionalisme
adalah segalanya, dan merelakan kepergian sebab dia bukan
pemuja kebebasan segala (mutlak), seperti yang diucap pada penutup sajaknya: .sungai yang kulepas
tiada tiba-tiba di lautnya.
Biodata
Muhammad Solihin Oken lahir
di Jakarta, 26 Oktober 1970. Pernah kuliah di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta, dan mengikuti
Program Course Paska Sarjana
di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Aktif
bersastra sejak mahasiswa. Pernah menekuni profesi wartawan sejak 1996 hingga 2013. Sejak 2009 ia rajin menulis
puisi di media sosial. Buku puisi terbarunya
berjudul Sajak Selikur
(2022).













