Judul : Dalam Hologram Kafka
Penulis : Triyanto Triwikromo
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Terbit : 2025
Kafka membalut peristiwa kemanusiaan dalam prosa, Triyanto menjungkirbalikkan logika dalam puisi.
Berawal dari masa bocah, Triyanto bermimpi menjadi The Other, wong liyan, orang lain. Dalam perkembangan kariernya sebagai pengarang, ia bersentuhan dengan sosok dan teks rumit Kafka. Gagasan liar itu mulai menemukan jalurnya yang lebih lurus, ketika pada tahun 2017 ia mendapat residensi di Berlin untuk mencukil route map, jejak Kafka dan Dora Diamant, pasangan terakhir Kafka.
Dari situlah, tumpahan emosional, spontanitas, keputusasaan mencari jejak sang maestro Franz Kafka tercabik-cabik menjadi pecahan kalimat, berupa puisi. Monolog Interior selama dalam perjalanan itu tercecer dari Berlin ke pantai Ost-See hingga ke rumah kelahiran dan nisan Kafka di Praha, termasuk mampir kamp tahanan Nazi di Auschwitz, Polandia. Sesekali ia mudik menengok kampung sendiri, guna menjemput angan yang lepas dari ikatan. Ia bersujud merenungkan, yang ia cari mengambang di awan, rencananya kelak menjadi novel Metamorkafka. Sebuah penyatuan antara sosok Kafka dan Samsa dalam sekali lecutan cerita.
Holografi, sebuah upaya rekonstruksi gelombang cahaya secara intensif. Hologram, sebuah gambar dari seluruh obyek yang menunjukkan tiga dimensi.
Puisi Menjadi Satwa, Sang Penyair seperti sedang bertanya kepada Kafka, bagaimana menyikapi wujud manusia kecoa, namun masih berpikir ala manusia, walau bergelepotan bercak cokelat di tubuhnya.
Triyanto menggambarkan kepiluan tiga adik perempuan Kafka bernama Elli, Valli dan Ottla yang diseret ke Auschwitz berujung menjadi abu. Puisi berjudul Igauan di Auschwitz, mengutuk keras penguasa fasis Jerman, Hitler.
Tokoh K yang ada pada novel Kastel, diasosiasikan bisa jadi Kafka sendiri dihidupkan kembali. Puisi Sang Pemenggal Leher, K menolak perlakuan keji dengan mesin pembunuh massal yang mengeksekusi korban Yahudi. Baris-baris pada puisi tersebut kemungkinan besar berasal dari prosa Kafka berjudul Hukuman di Tanah Jajahan (In der Strafkolonie) yang mengilustrasikan para opsir berbahasa Prancis. Lokasi eksekusi berada di Kalidonia Baru, namun Sang Penyair separuh menggambarkan mesin pembunuh itu juga dipakai untuk eksekusi orang Yahudi di Auschwitz.
Tak jarang puisi-puisi Dalam Hologram Kafka ini justru mengajak dialog dengan Tuhan. Ia mempertanyakan, apakah Tuhan sedang bercanda dengan nasib manusia? Ketidakadilan dan nilai kemanusiaan menjadi pijakan menyulam diksi demi diksi.
Karya-karya Kafka bernuansa muram, bimbang, mendua, keputusasaan, namun bandul timbangan akan menjadi renungan.
Kafka dalam hidupnya, hanya sekali menulis puisi untuk teman sekolahnya, Oskar Pollak saat ia masih remaja berusia 20 tahun.
Orang-orang berjalan di atas jembatan gelap
melewati tempat suci
dengan lampu pijar lesu.
Pada puisi berjudul Nabi, Triyanto menggambarkan narasi serupa. Salah satu baris puisinya sebagai berikut:
Museum menyimpan kisah
perang yang terlupakan itu.
Cermin menyimpan
kesedihan wajahnya
di bawah lampu.
Milena Jesenskà, pacar Kafka pernah berujar, Kafka menganggap dirinya paling benar. Pada puisi Semu, Triyanto menghadirkan nuansa kamuflase, kebohongan beruntun yang melanda semua lini kehidupan.
Semu
Ia tahu segala yang dipandang telah menjadi sesuatu yang semu.
Peradilan semu. Negara semu. Sungai semu. Danau semu. Matahari semu. Kuda semu. Jalan-jalan semu. Laut semu. Tebing semu. Surga semu.
Di sini penyair menyortir sudut bidik karya Kafka yang menuju jalan nihilisme, setelah melewati tikungan kemunafikan manusia.***
*Penulis menetap di Swiss.








