OPINI: I Gusti Viraguna Bagoes Oka, Pemerhati Peduli Bali. (Sumber: Istimewa)
DENPASAR, Balipolitika.com – Wacana Pemerintah Pusat metransformasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali sebagai International Financial Center (IFC) atau pusat keuangan internasional, direspon serius oleh sejumlah kalangan dan tokoh pemerhati Bali, dikutip Jumat, 15 Mei 2026.
Tokoh Pemerhati Perduli Bali, I Gusti Viraguna Bagoes Oka melihat, IFC akan menjadi pusat keuangan global yang dominan memiliki konektivitas internasional, beroperasi dari lokasi fisik yang memfasilitasi aktivitas internasional dan beroperasi di bawah kerangka peraturan yang memenuhi norma internasional serta layanan pendukung seperti hukum, akuntansi, dan teknologi.
Ia mengharapkan Pemerintah Pusat dan Pemda Bali agar memiliki fasilitas standar internasional, baik sistem, infrastruktur dan penanganan masalah lokal Pulau Dewata.
“Sebagaimana beberapa IFC menyediakan berbagai layanan keuangan secara global, seperti London, Singapura, Hong Kong, New York, dan Dubai,” cetusnya.
Ia juga mengungkap tantangan Bali jika dijadikan IFC meniru Dubai atau Singapura. Saat ini, Dubai International Financial Centre (DIFC) telah menjadi pusat keuangan global terkemuka bagi kawasan Timur Tengah, Afrika, dan Asia Selatan (MEASA).
DIFC juga menjembatani perekonomian antara perusahaan-perusahaan di Asia, Eropa dan Amerika.
Sebagaimana diungkapkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan kawasan tersebut akan dirancang sebagai IFC dengan sistem hukum dan insentif khusus guna menarik aliran modal asing ke Indonesia.
Purbaya menyebut kawasan finansial itu akan dibangun di lahan sekitar 100 hektare dengan konsep yang memberikan fleksibilitas bagi investor global untuk menempatkan dananya di Indonesia.
Seharusnya, pemerintah agar menyiapkan sistem seleksi terhadap transaksi keuangan IFC KEK Kura Kura yang jelas dan terukur.
“Sistem itu menjadi panglima utama. Upaya itu agar investasi atau uang masuk bukan berasal dari narkoba (drugs, red), kejatahan hasil korupsi, pencucian uang dan lainnya,” kata Viraguna yang juga Mantan Kepala BI Bali dan Ketua ILUNI FISIP Universitas Indonesia (UI) di Denpasar, Rabu, 13 Mei 2026.
Ditegaskannya, infrastruktur pendukung agar benar-benar memiliki standard dunia seperti Dubai dan Singapore.
Memiliki infrastruktur yang baik teknologi, kantor modern, komunikasi berkualitas tinggi, koneksi penerbangan internasional yang baik, perumahan dan transportasi lokal yang layak, akses ke tenaga kerja terampil.
Dengan fasilitas transportasi, peningkatan infrastruktur dan pelayanan airport (bandara) yang melayani kegiatan selama 24 jam.
Begitu juga soal penanganan macet dan sampah. Dimana saat ini, Bali masih karut-marut dalam menangani sampah yang merusak citra pariwisata dan nilai-nilai luhur peradaban Pulau Dewata.
“Jika tantangan itu gagal diantisipasi, khawatir masyarakat lokal terus mengalami tekanan dari pendatang dan orang asing (WNA, red)” imbuhnya.
Ia menekankan, biaya hidup orang lokal akan meningkat, persaingan semakin kompetitif. Stabilitas keamanan akan memberikan pengaruh besar, disamping pendukung lainnya. (bp/gk)













