BULELENG, Balipolitika.com– Sekolah Dasar Negeri 4 Munduk, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali, Indonesia menjadi pionir penyelamatan air tanah dari gempuran eksplorasi besar-besaran yang tak terkontrol di seluruh penjuru Pulau Dewata.
Selain Taman MEKAR (Membangun Edukasi Konservasi Air dan Ramah Lingkungan) di halaman SD Negeri 4 Munduk digali sumur pemanen air hujan dengan mekanisme filtrasi alami sedalam 32 meter.
“Sumur ini berfungsi untuk memanen air hujan hingga 41 meter kubik per jam dengan cara meresapkan air ke dalam tanah untuk mengisi kembali cadangan air bawah tanah,” ucap Plt. Kepala SD Negeri 4 Munduk, Gede Dedy Suwartawan, S.Pd. SD.
Dijelaskan bahwa pembangunan sumur ini merupakan bagian dari program Bali Water Protection yang dikerjakan oleh IDEP bersama Politeknik Negeri Bali (PNB) dengan dukungan Save the Children Indonesia.
Mengedukasi para siswa, Taman MEKAR (Membangun Edukasi Konservasi Air dan Ramah Lingkungan) di halaman SD Negeri 4 Munduk menjadi wahana pembelajaran yang dinilai efektif menarik minat dan rasa ingin tahu siswa.
Gede Dedy Suwartawan menerangkan pihak sekolah memanfaatkan area halaman untuk membuat taman resapan air yang berfungsi ganda sebagai ruang edukasi lingkungan.
Kegiatan yang dilakukan meliputi penanaman tanaman lokal hemat air, dan pengolahan limbah organik menjadi kompos.
Melalui sistem ini, sekolah melaporkan penurunan genangan air di halaman saat musim hujan, serta meningkatnya partisipasi siswa dalam kegiatan perawatan taman.
Guru memanfaatkan taman ini sebagai sarana pembelajaran tematik tentang ekosistem dan siklus air.
“Yang melatarbelakangi kami membuat Taman MEKAR adalah kesadaran mendesak pada kondisi lingkungan belajar yang tidak hanya menginspirasi, tetapi juga praktis di luar ruang kelas. Siswa kami membutuhkan area yang tidak hanya menyediakan ruang bermain dan istirahat, tetapi juga menjadi wahana edukasi yang menyenangkan. Untuk itu, kami membuat inovasi ini,” jelas Gede Dedy Suwartawan.
Taman MEKAR ini imbuh Gede Dedy Suwartawan setidaknya hadir dengan 3 tujuan.
Pertama, menyediakan tempat yang nyaman bagi anak-anak ketika beristirahat dengan suasana sejuk.
Kedua, menyediakan sarana edukasi tentang pentingnya konservasi air kepada siswa.
Ketiga, mengedukasi siswa tentang cara pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos.
“Kami menyediakan alat komposter di sekolah untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos. Taman yang kami buat ini secara umum tujuannya adalah untuk mengedukasi anak-anak didik kami tentang bagaimana pentingnya menjaga air; tentang bagaimana menjaga lingkungan. Setiap hari Sabtu, kami di SD Negeri 4 Munduk punya program “Sapu Bersih” di mana siswa kami ajak memilah sampah plastik. Sampah organik kami masukkan ke tong komposter sehingga jadi sampah yang lebih berguna untuk lingkungan,” jelas Plt. Kepala SD Negeri 4 Munduk.
Di Taman MEKAR, siswa SD Negeri 4 Munduk kerap membaca buku, mengerjakan tugas di dekat kolam yang dipasangi informasi tentang siklus air dan upaya konservasi lainnya.
SD Negeri 4 Munduk merupakan salah satu peserta Lomba Tirtanovasi yang digelar pada 2024 dan kini ide konservasi air hasil gagasan siswa dan guru tersebut diterapkan di sekolah.
Melalui kegiatan media visit yang diinisiasi oleh IDEP Selaras Alam bersama program Bali Water Protection (BWP), jurnalis diajak melihat bagaimana inovasi yang lahir dari ruang kelas kini telah memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekolah dan masyarakat sekitar.
Tirtanovasi merupakan bagian dari program Bali Water Protection (BWP) yang dijalankan oleh IDEP Selaras Alam.
Kegiatan ini bertujuan mendorong inovasi konservasi air berbasis sekolah melalui pendekatan partisipatif.
Sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang praktik nyata dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air di Bali.
Lomba Tirtanovasi diselenggarakan pada tahun 2024 untuk mendorong sekolah-sekolah di Bali berinovasi dalam upaya konservasi air.
IDEP Selaras Alam merancang kegiatan ini dengan pendekatan bottom-up dan partisipatif, menjadikan sekolah bukan hanya sebagai penerima manfaat, tetapi sebagai subyek dan agen perubahan dalam menyelesaikan masalah publik.
“Lomba ini menggunakan pendekatan bottom-up, di mana masyarakat—dalam hal ini sekolah—dilihat bukan sebagai obyek penerima manfaat, melainkan sebagai subyek dan agen perubahan dalam menyelesaikan masalah publik. Kami percaya masyarakat mampu menghasilkan inovasi dan solusi lokal dari, oleh, dan untuk masyarakat. Bukan untuk menggantikan peran negara, tetapi untuk mempercepat penyelesaian masalah dengan menunjukkan potensi inovasi berbasis masyarakat,” ujar Muchamad Awal, Direktur Eksekutif IDEP.
Dari tujuh sekolah peserta, tiga sekolah terpilih sebagai pemenang karena menonjol dalam kreativitas, keberlanjutan, dan relevansi dengan kondisi lokal, salah satunya SDN 4 Munduk.
Setelah satu tahun penerapan, berbagai inovasi tersebut telah menunjukkan hasil positif terhadap efisiensi air, penguatan kesadaran lingkungan, dan keterlibatan komunitas sekolah. (bp/ken)












