ADA saat-saat dalam hidup ketika manusia dipaksa menatap dirinya sendiri di cermin kebudayaan: saat badai datang, ketika keyakinan goyah, dan ketika makna hidup terasa kabur di antara reruntuhan rutinitas. Di titik itu, perjumpaan antarbudaya bukan lagi perkara seremoni identitas, melainkan sebuah perjalanan spiritual untuk menemukan kembali hakikat menjadi manusia—makhluk yang hidup, rapuh, tetapi selalu mencari cahaya.
Dalam acara bertajuk “Perjumpaan Budaya: Memperjuangkan Budaya Pro Kehidupan”, di GKJW Madiun pada 8 November 2025, dalam acara yang dimulai pukul 17.00 WIB, saya hadir bukan sebagai pewarta kebenaran agama, melainkan sebagai penyaksi kehidupan—saya percaya bahwa keindahan dan kebaikan adalah dua sisi dari mata uang yang sama: kehidupan itu sendiri. Sebagai seorang Muslim di hadapan umat Kristen, saya tak datang untuk menyamakan keyakinan, melainkan untuk merayakan perbedaan sebagai jembatan spiritual yang meneguhkan nilai kemanusiaan universal.
Budaya pro kehidupan, bagi saya, bukan sekadar konsep moral atau dogma sosial. Ia adalah keberanian manusia untuk menolak nihilisme, menolak ketidakpedulian, dan menolak banalitas zaman. Di tengah derasnya arus pragmatisme, budaya pro kehidupan adalah upaya untuk memulihkan makna dari yang retak—memaknai hidup bukan dari seberapa banyak kita memiliki, tetapi dari seberapa dalam kita mengalami. Friedrich Nietzsche pernah menulis, “Siapa yang memiliki alasan untuk hidup, akan mampu bertahan di tengah badai apa pun.” Kutipan itu bukan sekadar refleksi eksistensial, tetapi juga panggilan untuk memperjuangkan nilai yang memberi arah bagi keberadaan manusia.
Badai kehidupan datang dalam berbagai rupa: kehilangan, ketidakadilan, kehampaan spiritual, atau sekadar kebisingan dunia yang menenggelamkan kesunyian batin. Dalam seni, badai adalah simbol keterpecahan; namun justru di sanalah daya cipta menemukan panggilannya. Seorang penyair tahu bahwa puisi lahir dari luka, dan seorang pelukis tahu bahwa cahaya baru tampak indah ketika bersanding dengan gelap. Dalam budaya pro kehidupan, badai bukan sesuatu yang dihindari, melainkan dilayari—karena badai itulah yang mengajarkan manusia tentang arah, keteguhan, dan harapan.
Sebagai pendidik, saya percaya bahwa manusia hidup bukan hanya untuk bertahan, tetapi untuk bertumbuh. Bertahan adalah naluri, tetapi tumbuh adalah pilihan. Dalam menghadapi badai, yang menentukan bukan seberapa kuat kapal kita, melainkan seberapa besar keyakinan kita pada pelayaran itu sendiri. Kebudayaan, dalam makna terdalamnya, adalah pelayaran panjang manusia untuk menemukan rumah bagi jiwanya. Di setiap budaya, entah itu dalam doa umat Kristen, nyanyian gamelan Jawa, atau tarian ritual di pelosok Nusantara, selalu ada benang merah: keinginan untuk memahami hidup dan menghormatinya.
Dalam konteks Indonesia yang plural, memperjuangkan budaya pro kehidupan berarti memperjuangkan keberagaman sebagai kekuatan spiritual. Dunia modern sering menjerumuskan kita ke dalam dikotomi palsu antara “aku” dan “yang lain”. Namun sejatinya, kebudayaan adalah bahasa perjumpaan—ia tidak meniadakan perbedaan, melainkan menampungnya sebagai harmoni. Martin Buber pernah berkata “Seluruh kehidupan yang sejati adalah pertemuan”. Bagi saya, kalimat itu tidak hanya menggambarkan relasi antar manusia, tetapi juga perjumpaan antara keyakinan dan keraguan, antara seni dan iman, antara luka dan pemulihan.
Ketika saya berdiri di depan umat Kristen GKJW Madiun, saya tidak berbicara tentang Tuhan yang saya pahami, melainkan tentang kehidupan yang kita semua jalani. Saya melihat wajah-wajah yang berbeda, namun setiap wajah memantulkan kerinduan yang sama: untuk hidup dengan baik, dengan cinta, dengan makna. Di situ saya menyadari bahwa budaya pro kehidupan adalah medan dialog di mana manusia dari berbagai latar iman dan tradisi dapat saling menguatkan tanpa harus meniadakan identitas masing-masing.
Namun, berbicara tentang kehidupan tidak bisa dilepaskan dari kritik terhadap budaya yang menindas kehidupan itu sendiri. Kita hidup di era dimana teknologi mempercepat segalanya kecuali kebijaksanaan, dan kapitalisme mengajarkan kita menghitung nilai, bukan memaknai keberadaan. Dalam lanskap seperti itu, memperjuangkan budaya pro kehidupan menjadi tindakan politik sekaligus spiritual: menolak dehumanisasi, menolak komodifikasi manusia, menolak absurditas dunia yang menilai hidup hanya dari produktivitas. Di sinilah seni dan budaya memainkan peran penting—sebagai ruang kontemplasi yang mengingatkan kita akan makna menjadi manusia.
Saya percaya bahwa setiap karya adalah doa dalam bentuk lain. Dalam puisi, manusia menemukan cara untuk berdamai dengan ketidaksempurnaan hidup. Dalam musik dan teater, manusia belajar tentang harmoni dan konflik. Dalam pendidikan seni, saya selalu menekankan bahwa tugas seorang seniman bukan menciptakan karya yang indah, tetapi karya yang menghidupkan. Budaya pro kehidupan, dengan demikian, adalah praktik etis: mencipta untuk menumbuhkan, berkarya untuk menyembuhkan, berbahasa untuk menyatukan.
Setelah badai berlalu, yang tersisa bukan hanya reruntuhan, tetapi kemungkinan baru. Pemulihan bukan kembali ke masa lalu, melainkan membangun masa depan dengan kesadaran baru. Dalam hal ini, budaya pro kehidupan adalah narasi harapan. Ia mengajarkan kita untuk memulihkan diri tidak hanya sebagai individu, tetapi juga sebagai komunitas yang belajar menata kembali makna hidup bersama.
Saya sering bertanya pada diri sendiri: apa arti “menjalani hidup dengan baik”? Apakah itu berarti hidup tanpa derita? Ataukah justru keberanian untuk memaknai derita itu sebagai bagian dari perjalanan menuju kebijaksanaan? Mungkin jawaban itu tidak pernah tunggal. Tetapi saya percaya, hidup dengan baik berarti terus menyalakan cahaya meski kecil, terus menulis puisi meski dunia terasa bising, terus mengajar cinta meski zaman kian dingin.
Akhirnya, perjumpaan budaya bukanlah akhir dari dialog, melainkan awal dari kesadaran baru: bahwa kehidupan itu sendiri adalah karya kolaboratif antara manusia, sejarah, dan harapan. Dalam badai, kita belajar tentang arah; dalam luka, kita belajar tentang makna; dalam perbedaan, kita belajar tentang cinta. Dan mungkin, disanalah letak keajaiban sejati budaya pro kehidupan: ia tidak mengajarkan kita untuk menghindari badai, melainkan untuk menari di tengahnya.
Pertanyaannya kini: beranikah kita hidup dengan sepenuh hati, di dunia yang sering lupa menghormati kehidupan itu sendiri. (*)
Fileski Walidha Tanjung adalah penulis kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi, esai dan cerpen di berbagai media nasional. Buku terbarunya berjudul “Diksi Emas” dan “Corpus Arcana Sunyi”.













