DENPASAR, Balipolitika.com- “Ma, Thank you for The Food,” kata terakhir itu terdengar lirih dari Ibu Timothy, membuat tangisnya pecah di tengah cahaya temaram sekitar lokasi kejadian. Mahasiswa berinisial TAS (22) yang dikenal dengan nama Timothy tersebut meninggal dunia setelah Mahasiswa Jatuh dari lantai empat Kampus Fisip di Denpasar. Sosok Timothy yang dikenal lembut dan rendah hati kini menjadi perhatian utama dalam peristiwa tragedi kampus memilukan yang terjadi pada Rabu pagi itu.
“Sang ibu menangis haru saat berada di Tempat Kejadian Perkara yang dipenuhi cahaya temaram, mengingat kebaikan anaknya,” demikian keterangan pihak keluarga saat menyampaikan dukanya kepada aparat yang bertugas.
Dari penelusuran BaliPolitika, Timothy merupakan seorang aktivis muda yang sangat vokal, aktif memimpin berbagai macam demonstrasi gerakan mahasiswa. Ia dikenal memiliki pribadi lembut, rendah hati, dan selalu berpikir positif dalam setiap interaksi yang terjadi di lingkungan kampus. Namun, Timothy berubah menjadi sosok paling tegas ketika dirinya membela ide-ide revolusioner tentang sosialisme yang diyakininya. Teman-teman aktivis Timothy menyebutkan korban sering berjalan kaki sejauh tujuh kilometer untuk bertemu sejawatnya karena tidak memiliki motor.
“Timothy adalah pribadi yang lembut dan rendah hati, namun menjadi sosok paling tegas saat membela ide-ide revolusioner sosialisme,” ujar temannya, dari penelusuran jejaring sosial.
Ibu Timothy menjelaskan bahwa anaknya ternyata sudah berjuang melawan masalah kesehatan mental mahasiswa sejak dirinya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Perubahan perilaku aneh terlihat pada Timothy sejak lima bulan terakhir, bahkan ia pernah berjalan kaki sendiri menuju kampus dari kediamannya.
Meskipun demikian, pihak keluarga mengakui tidak pernah membawa korban untuk berobat atau berkonsultasi kepada psikolog profesional. Timothy juga dikenal aktif membagikan tugas kuliahnya di media sosial, menunjukkan aktivitas akademik yang cukup padat.
“Ibu korban sudah mempunyai firasat kurang baik terhadap anaknya karena adanya perubahan perilaku sejak sekitar lima bulan lalu,” kata keterangan keluarga menjelaskan kekhawatiran yang dirasakan terkait kondisi kesehatan mental mahasiswa tersebut.
Saksi yang merupakan staf kampus bernama I MAW mendengar suara benda terjatuh sekitar pukul 09.00 WITA saat berdiri di lobi kampus Fisip. Korban ditemukan tergeletak di halaman depan pintu lobi kampus, kemudian segera diangkat dan dilarikan ke RSUP Prof. Ngoerah menggunakan kendaraan dinas Dekan. Dokter menemukan patah tulang pinggul dan lengan, serta pendarahan hebat pada organ dalam korban. Tragedi kampus ini berakhir dengan korban dinyatakan meninggal dunia pada pukul 13.03 WITA setelah sempat mengalami penurunan kesadaran.
“Korban mengalami patah pada tulang pinggul kiri dan kanan, serta pendarahan pada organ dalam yang membuat kesadaran terus menurun,” ungkap dokter IGD RSUP Prof. Ngoerah.
Keluarga Timothy segera mengikhlaskan kepergian korban dengan membuat surat pernyataan yang menolak proses penyelidikan lebih lanjut oleh pihak kepolisian. Keputusan ini mempertimbangkan adanya perubahan perilaku serta riwayat kesehatan mental mahasiswa yang dialami Timothy. Tragedi kampus ini kembali mengingatkan tentang pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental Mahasiswa di tengah tekanan akademik dan aktivitas berorganisasi. Jenazah aktivis timothy dikremasi pada hari Jumat, 17 Oktober 2025. (BP/CHA).









