BADUNG, Balipolitika.com– Anggota MPR/DPD RI B-67, Ni Luh Putu Ary Pertami Djelantik menyosialisasikan empat pilar kebangsaan dan kesehatan mental remaja demi membangun generasi muda yang tangguh serta peduli di SMA Negeri 1 Kuta Sakura (Sakura), Senin, 16 Maret 2026.
Selain siswa kelas XII Sakura, sosok yang akrab disapa Niluh Djelantik itu disambut hangat Ketua Komite Sakura, I Gusti Ngurah Agung Diatmika dan Kepala SMAN 1 Kuta Utara, I Gusti Nyoman Naranata, M.Pd., beserta jajaran.
Kepada audiens, Senator RI perempuan pertama Dapil Bali itu menjabarkan bahwa Empat Pilar MPR RI yang terdiri atas Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta Bhinneka Tunggal Ika merupakan fondasi utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, ungkap Niluh Djelantik tidak hanya berfungsi sebagai dasar konstitusional negara, melainkan juga sebagai pedoman etika sosial dalam membangun masyarakat yang adil, inklusif, dan saling menghargai.
Imbuhnya, di tengah perkembangan zaman, generasi muda menghadapi berbagai tantangan baru yang tidak hanya bersifat akademik maupun sosial, tetapi juga menyangkut kesehatan mental.
Perubahan sosial yang cepat, tekanan akademik, dinamika pergaulan, serta paparan media sosial dapat mempengaruhi kondisi psikologis remaja.
Isu kesehatan mental saat ini semakin mendapatkan perhatian secara global. Namun demikian, pemahaman mengenai kesehatan mental masih sering terbatas, bahkan kerap disertai stigma atau anggapan negatif terhadap individu yang mengalami masalah psikologis.
Kondisi ini seringkali membuat remaja enggan mencari bantuan atau berbicara mengenai apa yang mereka rasakan. Konteks ini juga relevan dengan kondisi di Bali.
“Meskipun dikenal secara global sebagai destinasi pariwisata internasional yang menawarkan keindahan alam dan budaya, Bali juga menghadapi tantangan serius dalam bidang kesehatan mental. Dalam beberapa tahun terakhir, Bali tercatat sebagai salah satu provinsi dengan angka bunuh diri yang tertinggi di Indonesia. Fenomena ini menunjukkan bahwa kesejahteraan psikologis masyarakat tidak selalu terlihat dari kondisi ekonomi atau citra daerah semata,” ucap Niluh Djelantik.
Lebih lanjut, ia menilai perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan kesadaran sejak usia remaja bahwa kesehatan mental merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan secara keseluruhan, sama pentingnya dengan kesehatan fisik.
Remaja perlu memahami bahwa menjaga kesehatan mental, mengenali emosi, serta mencari dukungan ketika menghadapi kesulitan merupakan bagian dari proses tumbuh dan berkembang yang sehat.
Dalam pendekatan psikologi modern, dikenal pula Psychology First Aid (PFA) dan konsep co-regulation, yaitu kemampuan individu untuk saling membantu menenangkan dan mengatur emosi melalui hubungan sosial yang sehat.
“Lingkungan pertemanan, keluarga, dan komunitas memiliki peran penting dalam membangun rasa aman dan dukungan emosional bagi remaja. Nilai-nilai yang terkandung dalam Empat Pilar Kebangsaan sebenarnya memiliki keterkaitan yang kuat dengan pendekatan ini,” terangnya.
Niluh Djelantik menyebut Pancasila menekankan nilai kemanusiaan dan empati, sementara Bhinneka Tunggal Ika mengajarkan penghargaan terhadap perbedaan pengalaman dan latar belakang setiap individu.
Dalam konteks kesehatan mental, nilai-nilai tersebut dapat mendorong terciptanya lingkungan sosial yang lebih peduli, inklusif, dan bebas stigma.
Sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran generasi muda mengenai pentingnya kesehatan mental serta relevansinya dengan nilai-nilai kebangsaan, kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI ini menghadirkan Ida Bagus Jendra Wijaya, M.Psi., Psikolog seorang Psikolog Klinis, Aparatur Sipil Negara, dan Konten Kreator Edukasi Kesehatan Mental.
Ida Bagus Jendra Wijaya memiliki kompetensi di bidang psikologi klinis dan aktif dalam edukasi kesehatan mental kepada masyarakat, khususnya remaja.
“Melalui Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan ini diharapkan para remaja, khususnya siswa SMA Negeri 1 Kuta Utara dapat memahami pentingnya menjaga kesehatan mental, membangun empati terhadap sesama, serta menjadi generasi muda yang tangguh secara psikologis dan memiliki karakter kebangsaan yang kuat,” tegas Niluh Djelantik.
Sosialisasi ini rinci Niluh Djelantik mengarah pada sejumlah tujuan, yakni (1) meningkatkan pemahaman siswa mengenai nilai-nilai Empat Pilar Kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari; (2) memperkenalkan konsep kesehatan mental kepada remaja secara sederhana dan mudah dipahami; (3) menumbuhkan kesadaran bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik; (4) mengurangi stigma terhadap isu kesehatan mental di kalangan remaja; (5) memperkenalkan konsep co-regulation sebagai cara saling mendukung dalam mengelola emosi dan tekanan hidup; (6) mendorong siswa untuk mengetahui pentingnya akses terhadap layanan kesehatan mental dan dukungan sosial; dan (7) menumbuhkan sikap empati, kepedulian, serta solidaritas antar teman sebaya.
Menyambut baik kehadiran Niluh Djelantik, Ketua Komite Sakura, I Gusti Ngurah Agung Diatmika dan Kepala SMAN 1 Kuta Utara, I Gusti Nyoman Naranata, M.Pd., berharap kesadaran siswa Sakura semakin tumbuh terkait kesehatan mental, khususnya sikap empati, kepedulian, dan solidaritas antar teman sebaya.
“Semoga generasi muda kita ke depan tidak hanya memiliki kesadaran kebangsaan yang kuat, tetapi juga mampu membangun ketahanan mental, mengembangkan empati terhadap sesama, serta berperan aktif dalam menciptakan lingkungan sosial yang lebih sehat, inklusif, dan saling mendukung,” tegas I Gusti Ngurah Agung Diatmika. (bp/ken)













