Sastra
-
Parade Puisi Chie Setiawati, Dewis Pramanas, Erna Muti’rofianas, Anindya Bella Leilani Putri
Chie Setiawati: Kepada Pemilik Mei Mengertilah… Dinding kamar telah jemu merekam raung Sejak langkahmu tak ragu berlalu Meninggalkan rindu paling…
Selengkapnya » -
Panthan Golang dan Lilin-Lilin yang Ajarkan Kita Jadi Manusia
SAYA datang ke halaman Gereja Kristen Jawi Wetan Jemaat Madiun bukan sebagai tamu yang netral, melainkan sebagai seorang muslim, penulis, dan…
Selengkapnya » -
Parade Puisi Ika Permata Hati, Mira MM Astra, Khairani Piliang
Ika Permata Hati: ENDOMETRIOSIS (YANG KEMBALI YANG TAK PERNAH PERGI) dia kembali mengaburkan batas-batas sakit yang pernah tertulis dalam kitab…
Selengkapnya » -
Parade Puisi Anto Narasoma, Ida Bagus Putu Widhy Wardhana, Mochamad Chazienul Ulum
ANTO NARASOMA Catatan Terakhirmu, Ibu kau bawa senyum itu, setelah usiamu rindu ke kampung keabadian yang lama tak memberi kabar…
Selengkapnya » -
Puisi-Puisi Maria Utami
Catatan Si Penanak Nasi Aku hanya penanak nasi di sudut ruang dalam rumah ini. Tapi kupunya indera mata juga telinga…
Selengkapnya » -
Memahami Sastra dan Unsur Tasawuf
DALAM ilmu tasawuf, salat itu tak hanya diartikan dari nilai gerakan-gerakan kepatuhan ke pada Allah SWT semata. Sebab, tasawuf mengajarkan…
Selengkapnya » -
Subak dan Pariwisata, Drama Candapinggala
PADA era agraris, Bali mengenal dua ruang sosial. Ruang desa adat dan ruang subak, termasuk ruang abian (sering disebut subak…
Selengkapnya » -
Puisi-Puisi Bima Yuswa
Ngaben kita terlahir dari perut dermaga ditolong tangan bidan tua, nama-nama yang kelak berpulang—dilarung dengan bahasa ombak lihatlah sebelum biduk…
Selengkapnya »









