DENPASAR, Balipolitika.com– Pertumbuhan pariwisata dan ekonomi Bali perlu diikuti dengan perubahan cara pandang terhadap pembangunan, sehingga peningkatan aktivitas ekonomi tidak justru menggerus lingkungan, budaya dan kesejahteraan masyarakat.
Hal tersebut mengemuka dalam Bali Economic 2026 atau Bal(e)nomics 2026 yang digelar di Padma Resort Legian, Bali, Rabu, 9 September 2026.
Forum yang diselenggarakan Bank Indonesia ini mengangkat tema Menjaga Stabilitas dan Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Bali untuk Akselerasi Ekonomi Kerthi Bali.
Mantan Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati atau Cok Ace, menilai pariwisata Bali saat ini menghadapi sebuah paradoks.
Di satu sisi, pariwisata menjadi motor penting perekonomian Bali. Namun di sisi lain, pertumbuhan pariwisata juga membawa tekanan terhadap lingkungan, budaya dan ruang hidup masyarakat.
“Pariwisata untuk Bali, bukan Bali untuk pariwisata,” ujar Cok Ace dalam forum tersebut.
Menurutnya, apabila prinsip tersebut disepakati, maka keberhasilan pariwisata tidak cukup diukur dari meningkatnya jumlah wisatawan.
Pariwisata seharusnya memberikan dampak positif bagi masyarakat dan menjaga keberlanjutan Bali.
Cok Ace menyoroti sejumlah persoalan yang muncul seiring berkembangnya aktivitas pariwisata, mulai dari alih fungsi lahan, persoalan sampah hingga komersialisasi budaya.
Ia menilai Bali belum tentu dapat disebut mengalami overtourism, tetapi sudah menghadapi persoalan over-concentration, yakni terkonsentrasinya aktivitas pariwisata pada kawasan-kawasan tertentu.
“Makanya apa yang harus ditransformasi tidak cukup hanya pengusaha saja. Harusnya semua, pemerintah, usaha dan masyarakat,” katanya.
Cok Ace juga mendorong perubahan cara pemerintah maupun pelaku usaha dalam mengukur keberhasilan pembangunan pariwisata.
Pemerintah, kata dia, tidak cukup hanya melihat jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga perlu menghitung berapa besar nilai ekonomi yang benar-benar berputar dan memberikan manfaat bagi Bali.
Begitu pula dengan investasi. Menurut Cok Ace, ukuran keberhasilan investasi tidak semata-mata berdasarkan nilai investasi, luas lahan maupun jumlah kamar yang dibangun.
“Jangan hanya melihat angka investasi dan jumlah kamar. Apa manfaat investasi pada masyarakat?” ujarnya.
Ia menegaskan, investasi pada akhirnya harus bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, pelaku usaha besar diharapkan turut memperkuat keterkaitan dengan ekonomi lokal, termasuk menyerap produk-produk masyarakat Bali serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Upaya memperkuat penggunaan produk lokal, menurutnya, telah dilakukan melalui kerja sama dengan sejumlah hotel.
Langkah tersebut diharapkan terus berkembang sehingga sektor pariwisata tidak berjalan sendiri, melainkan mampu menciptakan rantai pasok yang lebih kuat dengan pelaku UMKM lokal.
Di sisi lain, Cok Ace juga mendorong transformasi UMKM dari sektor informal menuju usaha yang lebih profesional dan mampu menembus pasar yang lebih luas.
Transformasi tersebut mencakup perencanaan usaha, peningkatan kapasitas hingga peralihan dari pola penjualan konvensional ke pemasaran digital.
“Transformasi adalah bagaimana UMKM informal menjadi formal, dengan perencanaan yang baik dan mampu masuk ke pasar global,” katanya.
Pertumbuhan Ekonomi Perlu Diikuti Diversifikasi
Persoalan kualitas pertumbuhan Bali juga disoroti Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, Prof. Wiwin Setyari.
Menurut Prof. Wiwin, Bali selama ini dikenal sebagai daerah dengan pariwisata sebagai core ekonomi.
Namun, keberlanjutan pariwisata perlu dilihat secara lebih luas, termasuk dengan memperhitungkan daya dukung atau carrying capacity serta kemampuan sektor pariwisata menciptakan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Ia mengatakan sejumlah studi menunjukkan bahwa persoalan carrying capacity Bali belum pernah dihitung secara komprehensif.
Akibatnya, batas kemampuan suatu kawasan dalam menopang aktivitas pariwisata belum terlihat secara jelas.
Karena itu, Bali perlu melihat peluang diversifikasi sumber pertumbuhan dan memperkuat struktur ekonomi di luar pariwisata.
Prof. Wiwin juga menyoroti sektor akomodasi dan makan-minum yang selama ini erat dengan aktivitas pariwisata.
Menurutnya, sektor tersebut belum mampu memberikan efek tarikan dari sektor hulu yang cukup kuat.
Karakteristik tenaga kerja yang relatif sensitif, banyaknya pekerja informal serta tingkat pendapatan yang relatif rendah turut memengaruhi kuat-lemahnya multiplier effect sektor tersebut.
Artinya, besarnya kontribusi pariwisata terhadap perekonomian Bali tidak otomatis membuat dampak ekonominya terasa signifikan dan merata di tengah masyarakat.
Pertumbuhan Bali Tetap Positif
Sementara itu, data Bank Indonesia menunjukkan perekonomian Bali masih mencatat pertumbuhan positif. Ekonomi Bali pada kuartal II 2026 tumbuh 5,78 persen, meningkat dibandingkan pertumbuhan kuartal I 2026 sebesar 5,58 persen.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa ekonomi Bali tetap memiliki daya tahan. Namun, struktur pertumbuhan dan konsentrasi aktivitas ekonomi menjadi tantangan yang perlu diperhatikan agar pertumbuhan ke depan lebih berkualitas dan merata.
Dalam konteks tersebut, transformasi pariwisata menjadi bagian dari agenda yang lebih besar, yakni membangun ekonomi Bali yang tidak hanya tumbuh secara statistik, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi masyarakat, menjaga lingkungan dan mempertahankan budaya sebagai fondasi kehidupan Bali.
Persoalan lingkungan menjadi salah satu bagian yang turut mendapat perhatian dalam forum tersebut. Pengelolaan sampah, misalnya, dinilai tidak dapat hanya dibebankan kepada hotel dan restoran, tetapi membutuhkan keterlibatan pemerintah, dunia usaha dan masyarakat.
Cok Ace menilai langkah preventif perlu diperkuat agar berbagai persoalan yang muncul akibat perkembangan pariwisata dapat diantisipasi sejak awal.
Dengan demikian, transformasi pariwisata Bali tidak hanya berbicara tentang bagaimana mendatangkan lebih banyak wisatawan, tetapi juga bagaimana memastikan aktivitas pariwisata memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas, menjaga daya dukung lingkungan serta tetap menghormati budaya Bali.
Prinsipnya, kata Cok Ace, Bali harus tetap menjadi rumah bagi masyarakatnya sekaligus menjadi destinasi pariwisata yang berkelanjutan. (bp/ken)













