DENPASAR, Balipolitika.com– Komunitas Seni Bang Dance melanjutkan proses pengembangan karya Sejak Padi Mengakar melalui Inkubasi Karya Tahap II yang berlangsung pada 23–26 Maret 2026 di Mulawali Institute & Creative Space, Denpasar.
Program ini merupakan bagian dari rangkaian Inkubasi Pengembangan Karya Sejak Padi Mengakar / Workshop Dramaturgi & Koreografi Sosial yang berlangsung selama periode Februari–April 2026.
Sejak Padi Mengakar merupakan proyek artistik Bang Dance yang berangkat dari upaya membaca ulang relasi tubuh, tanah, subak, dan lanskap agraris Bali dalam konteks perubahan sosial dan ekologis hari ini.
Karya ini tidak menempatkan persoalan agraria semata sebagai isu tematik, tetapi sebagai pengalaman yang bekerja di dalam tubuh: melalui ingatan, ritme kerja, keterputusan generasi, perubahan ruang hidup, serta hubungan manusia dengan tanah yang perlahan bergeser.
Memasuki tahap kedua, proses inkubasi menunjukkan pergeseran signifikan dari pengenalan isu menuju pendalaman metode kerja tubuh dan penyusunan struktur koreografi.
Jika Inkubasi Tahap I berfokus pada pembacaan konteks, seperti krisis agraria, perubahan lanskap, dan relasi tubuh dengan subak, maka pada fase ini peserta mulai diarahkan untuk mengolah pengalaman tersebut sebagai kondisi yang bekerja langsung di dalam tubuh.
Selama empat hari pelaksanaan, proses kerja dalam Inkubasi Tahap II tidak lagi bertumpu pada penerjemahan gagasan menjadi bentuk gerak secara langsung.
Bang Dance justru menekankan bagaimana tubuh mengalami tekanan, repetisi, durasi, ketegangan, dan perubahan energi sebagai dasar penciptaan.
Dalam proses ini, tubuh tidak diposisikan sebagai alat representasi, melainkan sebagai ruang tempat pengalaman berlangsung dan menghasilkan material artistik.
Gerak yang muncul tidak dibentuk sebagai ilustrasi visual atas sawah, petani, atau subak, tetapi lahir dari perubahan kualitas tubuh yang terjadi melalui pengalaman yang diulang, diserap, dan diinternalisasi.
Pendekatan ini menjadi penting karena Sejak Padi Mengakar tidak dimaksudkan untuk menggambarkan realitas agraris Bali secara literal.
Karya ini berupaya menghadirkan bagaimana perubahan lanskap agraris, tekanan terhadap tanah, dan keterputusan hubungan antargenerasi bekerja di dalam tubuh.
Gusbang Sada, koreografer Sejak Padi Mengakar sekaligus pendiri Bang Dance, menjelaskan bahwa tahap kedua ini menjadi ruang penting untuk menguji bagaimana pengalaman dapat berubah menjadi metode koreografi.
“Pada tahap ini, kami tidak lagi hanya membicarakan isu agraria atau subak sebagai gagasan. Kami mulai melihat bagaimana isu itu bekerja dalam tubuh: bagaimana tubuh menahan tekanan, mengulang ingatan, kehilangan orientasi, lalu mencoba menemukan kembali relasinya dengan tanah,” ujar Gusbang Sada.
Menurutnya, koreografi dalam proses ini tidak dimulai dari bentuk yang sudah jadi, tetapi dari kualitas tubuh yang mengalami, merespons, dan bernegosiasi dengan peristiwa.
“Kami tidak ingin tubuh hanya menirukan peristiwa. Tubuh harus mengalami tekanan dari peristiwa itu sendiri. Dari sana, gerak muncul bukan sebagai hiasan, tetapi sebagai jejak pengalaman,” tambahnya.
Metode yang dikembangkan dalam Inkubasi Tahap II menempatkan tubuh dalam relasi langsung dengan peristiwa.
Peristiwa dalam konteks ini tidak dipahami sebagai kejadian dramatik yang harus ditampilkan di atas panggung, melainkan sebagai kondisi yang memengaruhi tubuh secara sensorik, emosional, dan afektif.
Tubuh tidak menirukan peristiwa, tetapi mengaktifkan kembali tekanan dan relasi yang dihasilkan oleh peristiwa tersebut.
Dari proses inilah material gerak terbentuk sebagai jejak pengalaman yang tidak selalu stabil, sering kali ambigu, dan terbuka terhadap kemungkinan perubahan.
Pendekatan ini memungkinkan peserta untuk melihat tubuh sebagai ruang produksi pengetahuan.
Tubuh tidak hanya mengingat melalui narasi, tetapi juga melalui pola napas, tegangan otot, ritme, arah pandang, kualitas langkah, dan cara tubuh merespons kehadiran tubuh lain di dalam ruang.
Dalam konteks karya Sejak Padi Mengakar, tubuh menjadi tempat bertemunya berbagai lapisan pengalaman: ingatan tentang tanah, ritme kerja agraris, relasi keluarga, perubahan desa, tekanan ekonomi, serta jarak generasi terhadap praktik hidup yang sebelumnya diwariskan secara langsung.
Pada tahap ini, pembacaan terhadap tubuh juga diperluas ke persoalan memori dan keterputusan generasi dalam konteks agraris Bali.
Perubahan lanskap yang berlangsung secara cepat menyebabkan pengalaman hidup yang sebelumnya diwariskan melalui praktik tubuh tidak lagi berlangsung secara utuh.
Pengetahuan tentang tanah, kerja agraris, air, dan ritme kolektif kini lebih banyak hadir dalam bentuk narasi, citra, atau ingatan yang terpisah dari praktik langsung.
Kondisi tersebut menghasilkan kualitas tubuh yang tidak sepenuhnya mapan: tubuh yang berada di antara ingatan dan kehilangan, antara kedekatan dan jarak, antara pengalaman yang pernah hidup dan realitas yang terus berubah.
Dalam proses inkubasi, kualitas tubuh semacam ini tidak diseragamkan atau diselesaikan menjadi bentuk yang stabil.
Bang Dance justru mengolahnya sebagai bagian dari material dramaturgi. Gerak muncul sebagai proses pencarian, negosiasi, dan ketidakpastian, mencerminkan tubuh yang terus berusaha menemukan kembali orientasinya di tengah perubahan lanskap agraris Bali.
Dengan demikian, Sejak Padi Mengakar tidak hanya berbicara tentang hilangnya sawah atau bergesernya fungsi lahan, tetapi juga tentang perubahan cara tubuh manusia berhubungan dengan ruang hidupnya.
Selain pendalaman metode, Inkubasi Tahap II juga mulai mengarah pada penyusunan struktur komposisi.
Namun struktur yang dikembangkan tidak mengikuti pola naratif konvensional. Karya tidak dibangun melalui alur cerita linear, melainkan melalui perubahan kondisi tubuh, distribusi energi, durasi, serta relasi antar tubuh dalam ruang.
Dramaturgi disusun dari bagaimana kualitas-kualitas tersebut berubah, bertahan, menguat, melemah, atau saling memengaruhi dalam durasi tertentu.
Dengan cara ini, komposisi tidak lagi dipahami sebagai susunan bentuk yang tetap, tetapi sebagai sistem relasional yang hidup.
Tubuh-tubuh yang terlibat tidak bergerak secara mandiri, melainkan berada dalam hubungan yang saling memengaruhi.
Perubahan kecil dalam satu tubuh dapat memicu perubahan pada keseluruhan komposisi, menciptakan struktur yang dinamis dan tidak sepenuhnya dapat diprediksi.
Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana koreografi dapat bekerja sebagai sistem yang menyerupai relasi ekologis: setiap tubuh, ruang, energi, dan durasi saling terhubung serta membentuk kondisi bersama.
Pelaksanaan Inkubasi Tahap II di Mulawali Institute & Creative Space menjadi bagian penting dalam proses pengembangan karya ini.
Ruang tidak hanya berfungsi sebagai lokasi latihan, tetapi juga sebagai lingkungan kerja yang memungkinkan pertemuan antara tubuh, pengalaman, dan metode berlangsung secara intens.
Interaksi antar peserta, pengolahan waktu, kedekatan dengan ruang, serta suasana kerja yang intim menjadi bagian dari pembentukan material koreografi itu sendiri.
Dalam konteks ini, ruang inkubasi tidak hanya menjadi tempat untuk menghasilkan bentuk, tetapi juga menjadi medan untuk menguji relasi, membangun perhatian, dan memperdalam kesadaran tubuh terhadap pengalaman yang sedang diolah.
Kehadiran Mulawali Institute & Creative Space sebagai ruang proses juga memperlihatkan pentingnya ekosistem seni mandiri di Bali.
Ruang-ruang seperti ini memungkinkan proses penciptaan berlangsung tidak hanya dalam orientasi produksi akhir, tetapi juga melalui riset, percakapan, eksplorasi, pengamatan, dan pengolahan pengalaman secara berkelanjutan.
Melalui Inkubasi Tahap II ini, Bang Dance menegaskan arah penciptaan yang tidak lagi menempatkan koreografi sebagai medium representasi semata.
Koreografi dipahami sebagai praktik produksi pengalaman, yaitu cara tubuh menghadirkan, mengolah, dan membagikan kondisi yang tidak selalu dapat dijelaskan melalui bahasa verbal.
Karya Sejak Padi Mengakar dikembangkan bukan untuk menggambarkan realitas agraris Bali secara literal, tetapi untuk menghadirkan bagaimana perubahan lanskap tersebut bekerja di dalam tubuh.
Dengan pendekatan ini, tubuh menjadi pusat pembacaan terhadap perubahan sosial, ekologis, dan kultural yang sedang berlangsung.
Tahap kedua ini menjadi fondasi penting menuju fase berikutnya, ketika material yang telah dihasilkan akan mulai dipertajam dan diorganisasi menjadi struktur pertunjukan yang lebih utuh.
Dalam keseluruhan prosesnya, proyek ini terus mengembangkan pendekatan koreografi yang berpijak pada pengalaman, relasi, dan kondisi tubuh sebagai pusat produksi pengetahuan artistik.
Rangkaian inkubasi Sejak Padi Mengakar akan berlanjut menuju proses pematangan karya dan presentasi publik.
Hasil pengembangan karya ini akan dipentaskan pada Rabu, 27 Mei 2026 pukul 19.00 Wita di Geoks Singapadu, Gianyar lewat format acara presentasi pertunjukan dan diskusi pasca-pertunjukan yang bisa diakses secara gratis oleh audiens.
Pertunjukan yang didukung oleh Dana Indonesiana, Kementerian Kebudayaan Kategori Penciptaan Karya Kreatif dan Inovatif ini akan menjadi ruang pertemuan antara proses artistik, pengalaman tubuh, dan percakapan publik mengenai tanah, subak, perubahan lanskap agraris, serta kemungkinan manusia hari ini untuk tetap berakar di tengah perubahan ruang hidup yang terus berlangsung.
Tentang Program
Inkubasi Pengembangan Karya Sejak Padi Mengakar / Workshop Dramaturgi & Koreografi Sosial merupakan program pengembangan artistik Bang Dance yang berlangsung pada periode Februari–April 2026.
Program ini dirancang sebagai ruang riset, eksplorasi, dan penciptaan koreografi yang berangkat dari isu agraria, subak, tubuh, memori, dan perubahan sosial di Bali.
Program ini dilaksanakan di Mulawali Institute & Creative Space, Jl. Siulan No. 204, Penatih, Denpasar, sebagai ruang kreatif untuk pengembangan gagasan, eksplorasi tubuh, dan penciptaan koreografi sosial.
Melalui program ini, Bang Dance berupaya memperluas praktik koreografi sebagai kerja artistik yang tidak hanya menghasilkan bentuk pertunjukan, tetapi juga membuka ruang penelitian, percakapan, dan produksi pengetahuan berbasis pengalaman tubuh.
Tentang Bang Dance
Bang Dance adalah sebuah perkumpulan seni yang bergerak pada bidang penciptaan tari kontemporer. Komunitas ini berdiri pada 29 April 2020 dan beralamat di Br. Mukti No. 14, Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali.
Bang Dance hadir untuk mewadahi kreativitas seniman tari, khususnya di Bali, melalui konsep laboratorium tari. Selain menjadi ruang penciptaan, Bang Dance juga berfungsi sebagai tempat bertukar-tangkap pengetahuan lintas disiplin seni dalam menyuarakan isu-isu lingkungan dan sosial melalui karya tari kontemporer.
Struktur pengelola Bang Dance terdiri dari I Putu Bagus Bang Sada Graha Saputra sebagai Ketua, Ida Ayu Adi Tri Wiranti sebagai Sekretaris, dan Raden Ajeng Renata Astria sebagai Bendahara. Anggota Bang Dance meliputi Pande Putu Kevin Dian Muliarta, I Wayan Gede Artha Saputra, dan Kadek Agung Arya Krisna Kusmawa.
Sejak berdiri, Bang Dance mengembangkan kerja-kerja artistik yang berangkat dari praktik tubuh, riset sosial, dan pembacaan atas isu lingkungan, budaya, serta perubahan masyarakat. Melalui pendekatan tari kontemporer, Bang Dance berupaya membuka ruang penciptaan yang eksperimental, reflektif, dan terhubung dengan konteks Bali maupun percakapan seni pertunjukan yang lebih luas.
Tentang Gusbang Sada
I Putu Bagus Bang Sada Graha Saputra, S.Sn., M.Sn., atau dikenal sebagai Gusbang Sada, adalah penari, koreografer, dan pendiri Bang Dance. Lahir di Denpasar pada 29 April 1993, Gusbang tumbuh dari tradisi tari Bali sejak usia dini di lingkungan keluarga seniman di Desa Singapadu, Gianyar.
Ia menempuh pendidikan S1 dan S2 di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan minat utama dalam penciptaan seni tari. Dalam perjalanan akademiknya, Gusbang lulus dengan predikat cumlaude dan meraih predikat lulusan terbaik se-institut pada tahun 2015.
Perjalanan artistiknya berkembang ke arah tari kontemporer sejak 2014. Sejak itu, ia terus menciptakan berbagai karya tari untuk panggung nasional maupun internasional. Beberapa karya yang pernah ia ciptakan dan terlibat di dalamnya antara lain La Danse Macabre, Tubuh Astral, Rajapala, Bang Bungkem, Sejak Padi Mengakar, proyek kolaborasi internasional RAMAYANA di Philadelphia pada 2024, serta keterlibatannya dalam film SAMSARA garapan Garin Nugroho.
Pada tahun 2020, Gusbang mendirikan Bang Dance sebagai ruang kreatif dan laboratorium penciptaan tari kontemporer yang juga menjadi wadah lintas disiplin seni. Melalui Bang Dance, ia aktif mendorong pengembangan ekosistem tari eksperimental dan lintas budaya.
Gusbang juga pernah dipercaya sebagai kurator dan penanggung jawab artistik Indonesia Bertutur 2024, sebuah program nasional dari Kemendikbudristek RI. Dalam perjalanan artistiknya, ia telah mewakili Indonesia dalam berbagai festival seni di lebih dari 10 negara, termasuk Portugal, Jepang, Turki, Taiwan, Australia, dan Malaysia. Dedikasinya terhadap seni pertunjukan tidak hanya hadir di atas panggung, tetapi juga dalam bidang pendidikan, produksi, kuratorial, serta pengembangan ekosistem seni di Indonesia. (bp/ken)













