TRADISI BALI mengenal Bhatara Ganapati atau Ganesa sebagai simbol intelektualitas. Beragam ikon tersemat pada entitas Ganapati yang merupakan simbol kecerdasaan pikiran serta ketetapan dan ketegaran batin seorang terpelajar.
Ganapati digambarkan sebagai dewa berbadan manusia berkepala gajah. Ia adalah putra Bhatara Siwa dan Bhatari Parwati yang ditakdirkan berperan sebagai penghancur berbagai rintangan (Wighneswara). Peran-peran tersebut menjadikannya salah satu istadewata yang banyak dipuja dalam praktik kultural-spiritual masyarakat Bali.
Tokoh Bhatara Ganapati tidak hanya diwujudkan dalam arca perwujudan di candi atau tempat suci. Jauh lebih dalam, kaum terpelajar Bali memuja Ganapati dalam puja mantra dan rajah yang tergurat dalam candi-candi pustaka. Orang nyastra—kaum terpelajar Bali—yang bergulat dengan aksara akan mengawali laku sastranya dengan puja mantra, “Om Awighnamastunamasiddham”. Puja mantra tersebut dilantunkan dengan harapan agar spirit Sanghyang Ganapati turun ke setiap figur aksara yang akan ditulis maupun diapresiasi.
Posisi Ganapati di dalam kebudayaan intelektual Bali menjadikannya sebagai tokoh penting untuk diteladani oleh kaum terpelajar. Ganapati dapat dipilih sebagai guru ideal bagi kaum intelektual dalam mengarungi sengkarut zaman saat ini.
Ganapati di Era Bali Kuno
Jauh melangkah memasuki lorong waktu sejarah, pemujaan kepada Ganapati di Bali telah eksis sejak masa Bali Kuno. Para pakar sejarah meyakini bahwa dahulu kala pernah eksis aliran pemujaan Bhatara Ganapati yang dikenal sebagai Sekte Ganapatya. Goris (1986) berpandangan bahwa pada era Bali Kuno Sekte Ganapatya hidup berdampingan dengan sekte-sekte spiritual lain seperti Siwa Shiddhanta, Pasupata, Bhairawa, Waisnawa, Bodha, Brahmana, Resi, dan Sora.
Aliran-aliran keagamaan tersebut mengalami dinamika dengan terus berebut pengaruh. Konon pada masa pemerintahan Raja Dharma Udayana Warmadewa-Gunapriya Dharmapatni dilakukan rekonsiliasi antar-aliran untuk mengharmoniskan kehidupan sosial. Ardika (dalam Rema,2018) berpendapat bahwa sekte-sekte tersebut kemudian disatukan menjadi dua aliran keagamaan yang besar. Sekte Siwa Siddhanta, Pasupata, Bhairawa, Waisnawa, Brahmana, Resi, Ganapatya, dan Sora dimasukkan ke dalam kelompok aliran Siwa. Sementara itu, Sekte Sogata (Buddha) tetap menjadi satu aliran keagamaan tersendiri. Oleh karena itulah Siwa dan Buddha menjadi dua agama yang banyak dianut oleh masyarakat Bali sampai saat ini.
Suarbhawa (dalam Rema, 2018) mengatakan aliran Ganapatya telah eksis pada abad ke-10 di Bali melalui penjelasan Prasasti Sukawana A II (976 Saka). Prasasti ini menjelaskan bagaimana masyarakat di Cintamani diberikan keringanan pajak oleh otoritas politik pada masanya. Bhatara Ganapati dalam gelarnya sebagai Ganabuta, dimohon untuk menjadi saksi dalam ketetapan tersebut, agar masyarakat dapat mengikutinya sesuai harapan.
Pemujaan pada Bhatara Ganapati pada masa Bali Kuno semakin terang disebutkan dalam Prasasti Campaga A yang berangka tahun 1103 Saka. Prasasti ini yang dikeluarkan oleh Maharaja Haji Jayapangus Harkaja Lancana. Prasasti Campaga A menjelaskan berbagai ketetapan pungutan pajak yang ditetapkan oleh Maharaja Jayapangus kepada penduduk Karaman i Campaga. Pada prasasti tersebut muncul entitas Bhatara Ganapati di Tumpuhyang (Bhatara Ganapati ring Tumpuhyang) sebagai entitas yang dipuja oleh masyarakat Karaman i Campaga (Budiastra & Arimbawa, tanpa tahun).
Gunung Tumpuhyang yang disebut dalam prasasti itu tampaknya merujuk pada Gunung Batur sekarang. Adapun lokasi Karaman i Campaga yang dinarasikan dalam prasasti tersebut kemungkinan besar terletak di kawasan yang kini berada di wilayah Desa Adat Batur, Kintamani, Bangli, tepatnya di Banjar Bubungkelambu, Desa Batur Tengah. Salain itu, nama Tumpuhyang juga sangat dekat dengan nama Tampurhyang yang dapat dijumpai pada Rajapurana Pura Ulun Danu Batur. Nama Tampurhyang sendiri diyakini oleh masyarakat sebagai nama arkais dari Batur (Ariana, 2020).
Prasasti Jiken Satra yang berangka tahun 1246 Saka juga dicurigai telah membicarakan eksistensi Bhatara Ganapati. Atmojo (dalam Rema, 2018) menjelaskan penyebutan tokoh dewa yang bergelar Bhatara i Kusumadanta. Gelar “Kusumadanta” ini diyakini merujuk pada Ganesa yang juga memiliki gelar sebagai Ekadanta (Ia yang bertaring tunggal).
Selain sebaran prasasti, pemujaan Ganapati pada masa Bali Kuno juga ditunjukkan melalui sebaran arca Ganapati yang sangat banyak. Sejalan dengan fungsinya sebagai penghancur segala rintangan, arca Ganapati tidak hanya ditempatkan di tempat suci, tetapi juga pada tempat-tempat yang dianggap “keramat” untuk meredam energi negatif. Tempat-tempat tersebut misalnya di ujung jurang, di bawah pohon besar, tebing, atau campuhan (pertemuan dua buah sungai).
Arca-arca Bhatara Ganapati dari zaman Bali Kuno itu pun kini masih banyak yang difungsikan sebagai media pemujaan oleh masyarakat. Satu di antaranya adalah arca Ganesa di Pura Pingit Melamba, Bunutin, Kintamani. Bagus (2015) menjelaskan bahwa arca Ganesa yang ditemukan di pura tersebut bertangan delapan belas. Arca tersebut pun diduga berasal dari masa Singhasari yang didukung oleh berbagai ikonografi khas yang tertatah pada arca tersebut.
Pada tingkatan ritual, pemujaan kepada Bhatara Ganapati dapat ditelisik dalam pelaksanaan ritual rsi gana. Ritual ini dilakukan untuk melakukan peruwatan terhadap bumi. Beberapa tempat di Bali juga menggelar ritual bumi suddha atau panampih sasih yang salah satu sarananya menggunakan bendera (kober) bergambarkan Ganapati. Penempatan arca Ganesa saat ini juga terus berkembang seperti di pintu masuk rumah atau sekolah (sebagai aling-aling), sebagai dwarapala di kanan-kiri pintu masuk, hingga di halaman perguruan tinggi sebagai lambang ilmu pengetahuan. Penempatan arca dinilai sebagai dewa kebijaksanaan, pengruwat, tolak bahaya, dan sebagainya (Redig, 2017).
Tapak Sastra Ganapati
Popularitas Ganapati sebagai dewa dalam sistem teologi Hindu ditunjukkan oleh banyaknya teks yang membicarakan eksistensinya. Ada banyak sumber pustaka yang menarasikan kelahirannya hingga mendapatkan fisik seperti itu. Titib (2003) menjelaskan sejumlah versi cerita dalam berbagai rujukan terkait dengan kelahiran Ganapati. Versi pertama diambil dari pustaka Uttara Rāmāyana yang menceritakan bahwa Ganapati terlahir ketika Dewa Siwa dan Dewi Parwati mengambil wujud sebagai sepasang kera. Keduanya bercengkrama di tengah hutan hingga akhirnya Parwati hamil. Benih dari sang dewi itu kemudian dipindahkan ke rahim Anjana sehingga lahirlah Hanuman. Selanjutnya Siwa dan Parwati kembali berganti wujud menjadi sepasang gajah. Dari padanya lahirlah Ganapati.
Lingga Purana menarasikan Ganesa lahir sebagai akibat dari permohonan para dewa kepada Siwa. Suatu ketika, Dewa Indra sebagai raja dari para dewa memohon Siwa untuk berkenan melahirkan seorang putra yang dapat menghentikan serbuan para asura ke surga tempat para dewa. Permohonan itu dikabulkan oleh Siwa, sehingga lahirlah Ganapati yang kala itu berwujud pemuda tampan. Dewa muda tersebut awalnya diberi nama Wighneswara.
Para dewa bersuka cita atas kelahiran Wighneswara yang ditakdirkan sebagai penyelamatnya. Namun, Dewi Sani menunjukkan hal yang berbeda. Dewi Sani tidak mau memandang Wighneswara karena ia sedang dikutuk, bahwa siapa pun yang ditatap olehnya akan menjadi abu. Parwati menegaskan tidak akan terjadi apa-apa jika Wighneswara dipandang. Dewi Sani pun memandang kepala Wighneswara dan kepalanya benar-benar menjadi abu.
Dewi Parwati sangat sedih dengan kejadian itu. Dewa Brahma hadir dan menghibur Parwati, kemudian berjanji akan mengganti kepala Wighneswara dengan makhluk lain untuk menghidupkannya kembali. Akan tetapi, syarat kepala yang akan menggantikan kepala Wignheswara adalah binatang pertama yang berhasil ditemui. Bagai telah disuratkan, binatang yang berhasil ditemui pertama kali pada saat itu adalah gajah. Kepala itulah yang disatukan dengan badan Wighneswara dan memberinya nama baru sebagai Ganesa (Ions dalam Titib, 2003).
Waraha Purana menuturkan kisah yang berbeda atas wujud Ganesa yang berkepala gajah. Menurut versi ini, Ganesa mendapatkan kepala gajahnya akibat rasa iri Parwati karena anaknya itu memancarkan cahaya ketampanan Siwa yang sempurna. Oleh karena itulah Parwati kemudiann mengutuknya agar berkepala gajah dan berperut buncit. Siwa yang mengetahui Parwati mengutuk anaknya memberikan anugerah bahwa Ganesa akan hadir dengan kemuliaan sebagai raja halangan (Wighnarsaja) dan menjadi pemimpin dari pasukan Siwa, yakni para gana. Oleh karena itulah ia dikenal sebagai Ganapati (Titib, 2003).
Pustaka Suprabhedagama menceritakan kelahiran Ganesa terjadi ketika Dewa Siwa dan Parwati beranjangsana dan tiba-tiba melihat ada sepasang gajah yang tengah bersanggama. Kejadian itu membuat Siwa dan Parwati ingin melakukan sanggama dengan wujud gajah. Kejadian itu menyebabkan Parwati melahirkan seorang putra dengan tubuh manusia tetapi berkepala gajah.
Versi lain kisah Ganapati dapat ditelusuri pada Matsya Purana dan Skanda Purana yang mengisahkan bahwa pada masa peralihan antara Dwaparayuga dan Kaliyuga, Dewa Siwa telah memberi anugerah kepada manusia untuk dapat mencapai surga dengan cara melakukan tirthayatra. Anugerah tersebut membuat surga penuh sesak, sehingga para dewa memohon Parwati untuk memberi mereka solusi. Puja-pujian dilakukan kepada sang dewa. Parwati mengabulkan permintaan para dewa, hingga akhirnya menggosokkan tubuhnya. Dari aktivitas itu lahirlah Ganapati. Parwati kemudian memberinya anugerah sebagai dewata yang akan mengentaskan segala rintangan sehingga diberi gelar Winayaka. Sang Winayaka ini harus dipuja oleh manusia pada hari keempat pada setiap pertengahan bulan (Titib, 2003).
Teks Brahmanda Purana menarasikan Ganesa sebagai dewata penjaga pintu. Redig, dkk. (2017) mengatakan bahwa Ganesa dalam teks Brahmanda Purana disebut sebagai Gajanana. Ganesa bersama saudaranya Kartikeya adalah dewa penjaga pintu Dewa Siwa. Kartikeya menjaga pintu kanan, sedangkan Ganesa menjaga pintu sebelah kiri. Sementara itu, pada teks Korawasrama Ganesa didudukkan sebagai dewata yang memiliki fungsi ruwat. Ia dinarasikan memiliki sebuah lontar bernama linggapranala yang memuat perbuatan baik dan buruk para dewa, termasuk ibunya, Dewi Uma yang pernah melakukan perselingkuhan dengan seorang gembala sapi ketika diutus oleh Dewa Siwa turun ke dunia.
Kakawin Smaradhana yang ditulis Mpu Darmaja pada pemerintahan Srī Kāmeśwara adalah susastra masa Kerajaan Kadiri yang menarasikan kelahiran Bhatara Ganapati. Cerita diawali oleh kegundahan para dewa karena ulah raksasa bernama Nilarudraka yang mengacau kahyangan. Nilarudraka merupakan raksasa yang telah menerima anugerah tidak akan terkalahkan oleh para dewa, termasuk Brahma dan Wisnu. Oleh karena itu ia sangat digjaya dan hanya akan mampu dikalahkan oleh seorang putra dari Siwa.
Anugerah yang diterima Nilarudraka membuat para dewa tidak mampu menandinginya. Para dewa pun mengupayakan upaya agar Siwa berkenan menganugerahkan seorang putra. Sayangnya, kala itu Siwa sedang melakukan rapa di Gunung Meru. Penasihat surga, Wrhaspati memberi saran bahwa demi kemaslahatan dunia, Siwa harus dibangunkan dari tapanya. Benih asmara harus disemai dari lubuk hati Sang Raja Dewa, sehingga dapat menurunkan putra untuk mengalahkan Nilarudraka.
Tugas besar tersebut kemudian diberikan kepada Kama dengan melesatkan panah asmara kepada Siwa. Singkat kata, Dewa Asmara berhasil membangunkan Siwa dan menyemai benih-benih asmara di dalam hati Siwa. Pertemuan Siwa dan Parwati melahirkan Bhatara Ganapati. Ganapati pun berhasil melakukan tugasnya mengalahkan Nilarudraka. Para dewa senang bukan kepalang karena musuhnya telah ditaklukan, tetapi nasib malang menimpa Kama. Siwa yang murka telah membakar tubuhnya dengan api rahasia dari mata ketiganya (Zoetmulder, 1985).
Teks Korawasrama menjelaskan keberadaan Ganesa dalam proses peruwatan. Pada kisah tersebut, Ganesa diamanatkan untuk melakukan peruwatan pada Dewi Uma yang dikutuk oleh lontar linggapranala yang mencatat segala laku baik-buruk para dewa (Sedyawati dalam Redig, dkk., 2017; Titib, 2003). Narasi yang serupa juga ditemukan pada teks Ganapati Tattwa. Bagus (2015) menatakan bahwa teks ini menarasikan Ganesa sebagai entitas yang memiliki otoritas membersihkan hama dan mengatasi penyakit tanaman. Wacana ini sejalan dengan pendapat Getty (1936) yang mengatakan bahwa di dalam Mahanirwana Tantra, Ganesa diposisikan sebagai dewa yang berkuasa atas panen dan kemakmuran, di samping dipuja sebagai dewa keberhasilan dan menghancurkan berbagai halangan.
Pustaka Tantu Panggelaran menjelaskan keberadaan Bhatara Ganapati sebagai dewa penjaga dari Mahameru. Mahameru—seperti penggambaran pada candi-candi Hindu—diceritakan memiliki empat pintu masuk di setiap penjuru. Di antara empat pintu tersebut, Ganapati disebutkan menjadi penjaga di pintu timur (Bagus, 2015).
Kakawin Purwaning Gunung Agung sebagai satu kakawin yang dibuat di Bali turut mengisahkan fragmen kelahiran Ganapati sebagai anugerah Siwa kepada para dewa untuk menghalau huru-hara yang disebabkan Nilarudraka. Kakawin yang merupakan buah karya Ida Pedanda Made Sidemen ini pada fragmen tersebut tampaknya memang memijakkan ceritanya pada Kakawin Smaradahana (Ariana, 2022). Sementara itu, pada teks Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul disebutkan entitas Bhatara Gana yang hadir di masa-masa awal penciptaan alam semesta oleh Siwa dan Parwati (Ariana, 2017). Dalam hal puja-mantra, entitas Ganapati juga dipuja dalam beberapa mantra yang termuat dalam Kusuma Dewa (Sutrisna, 2016).
Memuja Kabijaksanaan Ganapati di Pura Puseh
Teks Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul—salah satu teks ekologis Bali—menyatakan Pura Puseh sebagai sentral pemujaan Bhatara Ganapati di setiap desa pakraman (desa adat). Pada teks ini, Bhatara Ganapati dikaitkan dengan Pura Puseh. Puseh disamakan dengan pusuh (kuncup) yang disusun atas dua suku kata, yakni pu dan suh. Pu dimaknai sebagai kumpulan, sedangkan suh dimaknai sebagai musuh yang merujuk pada enam tabiat menggelapkan (sad ripu).
Menurut Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul ini, Puseh merupakan satu dari tiga simpul suci yang disebut Kahyangan Tiga Wisesa. Tiga simpul suci ini terdiri atas Pura Penataran Bale Agung sebagai setana Bhatara Parameswara dalam gelarnya sebagai Bhatara Guru atau Sang Hyang Jagatnata; Pura Puseh sebagai kahyangan Bhatara Ghana yang juga bergelar Bhatara Janapati; serta Pura Dalem Semasana sebagai kahyangan Bhatari Parameswari yang dalam hal ini lebih dikenal sebagai Bhatari Durgadewi.
Bhatara Gana di Pura Puseh didukung oleh sejumlah dewata, antara lain Bhatara Luhuring Akasa (Sang Hyang Druwaresi atau Sang Hyang Saranila), Sanghyang Rabutsedana, Bhatari Sumlah, Sang Hyang Anantaboga, Bhatara Kalasakti serta sejumlah abdi yang disebut sebagai Sang Buda Mancawarna (Sang Butha Bupati). Menurut konsep ini, Bhatara Janapati bersama sanak-saudara dewa dan para abdinya berperan sebagai pelindung dari masyarakat di desa. Tempat pemuliaan berupa palinggih meru tumpang 1, 3, 5, 7, 9 atau meru tumpang 11.
Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul memposisikan Ganapati sebagai entitas yang berkuasa atas rintangan dan hambatan (Wighneswara). Bhatara Gana adalah pemimpin dari pasukan Kala, yakni makhluk yang memiliki kecenderungan bersifat disrupsi. Jika merujuk wacana ini, maka tidaklah salah kemudian pada praktiknya di masyarakat Ganapati diposisikan sebagai entitas yang mampu meruwat energi yang bersifat disrupsi, yang sesungguhnya berasal dan berada di bawah kendalinya.
Sementara itu, teks Paniti Gama Tirttha Pawitra menjelaskan pemujaan Ganapati di Pura Puseh dengan puja mantra, “Mang ung ang, ang ung mang, ong hrang hring sah tri purusangkara bhyo namah swaha (Ariana, 2023). Adapun arca yang disetanakan di Pura Puseh adalah arca Mahadewa dan Gana, serta di bagian puncaknya adalah Rambut Sadana. Lebih jauh, Bhatara Ganapati yang dipuja di Pura Puseh disebutkan diiringi oleh abdinya, antara lain Buta Abang, Buta Janantaka, dan Buta Surasumbung (Pangastawan Ida Bhatara Ganapati, malinggih ring Puseh, hiniring de Sang Bhuta Abang, Sang Bhuta Janantaka, Sang Bhuta Surasumbung, I Gusti Made Jlawung, ong ang mang, Hayugarom Sang Bhuta Ayu Sulatri, Bhatari Ayu Maspahit sira Hyangning Pura Mlanting).
Apa yang disampaikan oleh Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul dan Paniti Gama Tirttha Pawitra diperkuat dengan temuan arca-arca Ganesa di beberapa Pura Puseh di Bali. Pura-pura dengan arca Ganesa antara lain Pura Puseh Batuan (Gianyar), Pura Puseh Tonja (Denpasar), Pura Puseh Getakan (Klungkung), dan Pura Puseh Desa Kiadan (Badung) ; Ariana, 2023).
Berguru pada Ganapati
Apabila jejak-jejak narasi Bhatara Ganapati sebagaimana diterangkan di depan dijalin, sekiranya dapat ditafsir bahwa Ganapati adalah figur yang hadir sebagai intelektual. Dalam arti yang lebih luas, Ganapati adalah simbol manusia beradab. Manusia beradab kita batasi sebagai manusia yang telah mampu melawan sifat asalinya sebagai binatang. Manusia beradab adalah manusia yang menjunjung tinggi etika dan norma—dua kata yang belakangan kian sulit ditemukan dalam laku berbangsa dan bernegara.
Tokoh Bhatara Ganapati hadir sebgai simbol manusia yang cerdik, idealis, bijak, dan penghancurkan segala hambatan. Meskipun digambarkan sebagai bocil (bocah cilik), Ganapati dalam kesusastraan kita adalah entitas yang berprinsip, memegang teguh kata-kata, dan tidak dapat dibeli. Ganapati bukan gambaran bocil yang berlindung pada ketiak orang tua atau kolega terdekatnya.
Ganapati dinarasikan pernah melawan Siwa demi menjaga amanat Dewi Parwati. Siwa adalah dewa tertinggi sekaligus ayahnya sendiri. Penentangan kepada Siwa berkonsekuensi pada kekalahan Ganapati. Bhatara Ganapati sangat paham tindakan melawan penguasa dapat berkonsekuensi serius pada dirinya. Ketika kebanyakan orang mengambil jalur aman dengan membebek pada penguasa, Ganapati mengajarkan manusia untuk teguh berjalan di jalur yang benar. Kebenaran harus dijaga dan ditegakkan. Perkara kalah atau bahkan terpenggal ketika menegakkan kebenaran, itu merupakan soal yang lain.
Ketika ditugaskan menulis Mahabharata, Bhatara Ganapati tercatat berani melakukan negosiasi dengan Bhagawan Wyasa. Pada fragmen itu pula, Hyang Ekadanta rela memotong satu gadingnya sebagai pena untuk merawat peradaban. Dalam kesusastraan kita, telah banyak disinggung jika Wyasa adalah representasi dari reputasi ilmu pengetahuan dan kesucian. Wyasa adalah Siwaguru, yakni guru semesta yang mengalirkan pengetahuan dan kesucian. Tokoh yang diyakini melakukan kerja-kerja intelektual untuk mengkodifikasi Weda.
Pada fragmen tersebut, Ganapati sekali lagi mengajarkan manusia untuk senantiasa kritis pada guru. Guru bukanlah entitas mahabenar dan tanpa cacat. Sementara itu, siswa juga bukan sekadar objek yang harus menurut segala permintaan guru. Itulah model kebebasan akademik yang ditawarkan oleh Ganapati.
Sifat-sifat Ganapati sebagaimana dinyatakan di atas sangat diperlukan oleh setiap anak bangsa di tengah disrupsi yang menerjang kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini. Ketika palu hukum retak di meja sidang terhormat; ketika badai informasi menerjang dengan bias ke segala arah; ketika intelektual terjebak dalam “wibawa semu” gelar akademik; ketika para elit linglung dan menelan ludah sendiri; ketika oportunisme bertakhta di puncak mercusuar politik, kepada siapa kita percaya dan berlindung? Mungkin hanya kepada Ganapati yang menubuh sebagai nurani dan daya kritis kaum cerdik pandailah kita dapat bernaung. Namun, di manakah golongan ini saat ini bersemayam?
====
*Tulisan ini telah terbit sebagai salah satu bab dalam buku Sista Prabhata: Kearifan Jawa Kuno Menyongsong Indonesia Emas 2045 (Dharma Pura, 2024) dengan beberapa penyesuaian.
**I Ketut Eriadi Ariana (Jero Penyarikan Duuran Batur) adalah peneliti dan dosen Sastra Jawa Kuno Universitas Udayana. Pemuda asli Batur ini sejak akhir tahun 2019 mengemban tugas spiritual-kultural sebagai jero penyarikan duuran (sekretaris adat) di Pura Ulun Danu Batur/Desa Adat Batur. Tertarik pada isu-isu kebudayaan dan ekologi. Menulis buku Ekologisme Batur (2020), buku antologi puisi Bali modern Ulun Danu (2019), dan sejumlah buku karya bersama.













