DENPASAR, Balipolitika.com– Kematian sekitar 300 pohon mangrove jenis Sonneratia Alba (prapat), Rhizophora Apiculata (bakau), Avicennia Marina (api api) mati di sisi barat pintu masuk Tol Bali Mandara bagian utara, tepatnya di Jalan Raya Pelabuhan Benoa, Kelurahan Pedungan, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar, Bali terungkap.
Tim Peneliti Universitas Udayana (Unud) mengungkap pemicu kematian pohon multiguna yang super vital bagi ekosistem pesisir dan manusia itu pada Senin, 23 Februari 2026 pasca sidak Anggota Komisi III DPR RI Dapil Bali, I Nyoman Parta bersama Mangrove Ranger dan Kelompok Nelayan Simbar Segara, Jumat, 20 Februari 2026.
Tim peneliti yang terdiri dari Dr. Dewa Gede Wiryangga Selangga, S.P., M.Si., Dr. Listihani, S.P., M.Si., Ni Nyoman Sista Jayasanti, S.P., M. Biotech, Restiana Maulinda, S.P., M.Si., Wafa’ Nur Hanifah, S.P., M.Si. dan Yuli Evrianti Br. Raja Gukguk, A.Md, menyusun hasil diagnosa kesehatan tanaman mangrove dan studi pustaka berjudul Analisis Strategis Degradasi dan Krisis Ekosistem Mangrove di Taman Hutan Raya Ngurah Rai: Kontaminasi Hidrokarbon di Bali Selatan.
Hasilnya, tim peneliti menemukan bahwa ratusan pohon mangrove mengalami kematian dengan gejala awal daun klorosis (daun menguning), daun nekrosis (daun kecoklatan), kulit batang mengelupas, pertumbuhan kerdil, busuk akar/hitam, dan penebalan daun (sukulensi), diagnosis awal mengindikasikan bahwa tidak ada infeksi patogen penyebab penyakit di lapangan, namun tanaman sakit dan mati karena terserang penyakit abiotik, salah satunya karena keracunan logam berat dan senyawa hidrokarbon (minyak).
“Tim peneliti dari Rumah Sakit Pertanian Universitas Udayana yang dikoordinatori oleh Dr. Dewa Gede Wiryangga Selangga, S.P., M.Si., melakukan diagnosis penyakit tumbuhan ke lokasi. Diagnosis awal mengindikasikan bahwa tidak ada infeksi patogen penyebab penyakit di lapangan, namun tanaman sakit dan mati karena terserang penyakit abiotik, salah satunya karena keracunan logam berat dan senyawa hidrokarbon (minyak). Identifikasi awal juga menunjukkan terdapat pipa Bahan Bakar Minyak (BBM) milik Pertamina yang melewati area itu. Dari data koordinasi, terungkap bahwa antara September hingga November 2025, ada kegiatan perbaikan atau perawatan pipa pada jalur distribusi dari Pelabuhan Benoa ke Pangkalan Pertamina Pesanggaran,” ucap I Nyoman Parta.
Politisi Fraksi PDI Perjuangan DPR RI asal Desa Guwang, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar itu merinci bahwa laporan penelitian menyebutkan bahwa terjadi rembesan minyak yang masuk ke dalam substrat mangrove, dan diduga pembersihan (clean-up) tidak dilakukan secara lengkap setelah aktivitas teknis tersebut.
“Meskipun Pertamina Patra Niaga melakukan pemeriksaan visual pada 21 Februari 2026 dan tidak menemukan lapisan minyak di permukaan air, para ahli ekologi menekankan bahwa kontaminasi hidrokarbon di dalam ekosistem mangrove biasanya masih ada di dalam tanah (sedimen). Minyak yang masuk ke dalam pori tanah akan menutupi akar mangrove dan bersifat beracun. Senyawa aromatik yang ada dalam bahan bakar minyak bisa merusak membran sel tanaman, mengganggu cara tanaman menyerap nutrisi, dan menyebabkan kematian pohon dalam beberapa minggu setelah terpapar,” beber Parta.
Mengacu penelitian lapangan, spesies mangrove terdampak hingga bulan Februari 2026, mencakup Sonneratia alba (Prapat) dengan karakteristik kerusakan berupa batang kering dan rapuh seluas estimasi 6 are diduga akibat rembesan minyak BBM.
Selanjutnya, Rhizophora apiculata (Bakau) dengan karakteristik kerusakan daun menguning serentak di area sebaran seluas 60 are diduga akibat kebocoran pipa distribusi.
Terakhir, Avicennia marina (Api-api) dengan karakteristik kerusakan akar membusuk atau kering di Blok Barat Tol Bali Mandara diduga akibat residu pemeliharaan pipa.
Ketidaksesuaian antara hasil pemeriksaan visual oleh Pertamina dengan kenyataan adanya kematian tanaman di lapangan membuat pihak terkait meminta investigasi forensik lingkungan yang lebih dalam.
Pipa yang sudah berkarat atau kebocoran kecil yang terus-menerus terjadi di bawah tanah sering kali tidak terlihat secara langsung, namun bisa berdampak buruk pada mangrove karena polutan terselubung di area akar dan tidak dibawa pergi oleh air laut.
Kondisi aliran air yang melambat akibat adanya jalan tol membuat polutan tidak menyebar dan justru terkumpul di tempat kebocoran.
“Berdasarkan peninjauan menyeluruh terhadap data yang ada, penyebab utama matinya tanaman mangrove di daerah Bali Selatan adalah pencemaran oleh keracunan logam berat dan bahan bakar minyak (hidrokarbon). Ciri-ciri utama penyakit tumbuhan akibat faktor abiotik yang terlihat di lokasi sampel adalah pola kematian tanaman tidak sporadis dan cenderung pada populasi blok yang sama dan tidak menyebar. Untuk memastikan kandungan senyawa hidrokarbon yang terakumulasi pada area rhizosfer tanaman mangrove, tim peneliti saat ini sedang melakukan analisis GC-MS (Gas Chromatography-Mass Spectrometry),” jelas Parta. (bp/ken)













