BALI, Balipolitika.com – Jika selama ini menikah khususnya secara adat di Bali terlihat mahal dan mewah, maka tidak demikian dengan sepasang kekasih yang hanya menghabiskan Rp15 juta saja.
Uniknya biaya yang terbilang murah ini, juga merupakan bantuan kantor PHDI Badung. Kemudian viral di media sosial, karena hanya menghabiskan Rp15 juta saja.
Ketua PHDI Kabupaten Badung, I Gede Rudia Adiputra tidak menampik hal tersebut. Pihaknya mengaku, prosesi pernikahan secara Hindu yang terjadi di PHDI Badung sejatinya sudah terlaksana sejak 7 tahun yang lalu.
Hanya saja baru saat ini ramai dan viral di media sosial. “Sudah lama kita laksanakan, Mungkin sudah 7 tahun ya, tapi tidak terekspose. Ini bukan bisnis, murni untuk membantu umat,” ujar Rudia Adiputra.
Menurutnya semua itu lantaran ingin membantu krama, yang memang kesulitan dalam biaya pernikahan. Bahkan tanpa mengurangi makna dari prosesi upacara.
“Untuk prosesi pun tidak sembarangan, dalam menggelar upacara pernikahan akan sesuai dewasa ayu atau hari baik secara agama hindu,” ucapnya.
Terkait biaya untuk satu prosesi upacara, Ia menyebutkan sejatinya dapat lebih murah dari informasi yang beredar.
Sebab dana Rp 15 juta yang oleh pihak keluarga mempelai, mencakup keseluruhan, seperti biaya banten, tenda, kursi, dan konsumsi.
PHDI Badung sendiri tidak mengenakan biaya tambahan, walaupun prosesi upacara terjadi di kantor tersebut. “Kalau untuk banten dan sesari pemangku yang muput itu hanya Rp 4 juta,” ungkapnya.
Biaya banten yang murah ini, lantaran hanya menggunakan banten inti saja. Meliputi penyucian dan pembersihan, kemudian atur piuning, sesayut, dan upacara di rumah mempelai wanita secara ngayat (tanpa harus ke rumah wanita).
“Tapi (ngayat) ini sesuai dengan kesepakatan dari kedua mempelai dan keluarga,” ucapnya. Selain upacara pernikahan, PHDI Badung juga sempat menggelar upacara mesangih atau potong gigi di Kantor PHDI Badung. Bahkan dirinya juga memastikan biaya yang keluar juga lebih murah. (BP/OKA)










