PRAKTIK oplosan gas elpiji 3 kg menjadi 12 dan 50 kg melibatkan sindikasi mafia yang sangat rapi, meluas, dan mencengkram.
Sangat rapi karena tiap langkah tahapan yang dikerjakan mafia ini terukur baik penyesatan lokasi, waktu, dan penyesatan otak mafia.
Juga rapi dalam menyembunyikan setoran rutin yang dialirkan ke oknum institusi negara di semua level dan di beberapa lembaga.
Meluas karena praktik ini pada awalnya kegiatan amatiran (home industry), namun karena rakusnya meluas dalam jumlah gas yang dioplos, meluas lokasinya, dan meluas dampaknya ke rakyat konsumen.
Mafia mencengkram habis pejabat di level eksekutif, legislatif, dan keamanan negara yang berorientasi uang, rasa aman, dan tak peduli atas jeritan rakyat kecil.
Para bupati dan wali kota saya yakin tahu jaringan ini tapi mereka enggan bergerak karena takut dengan bekingnya; takut diobok-obok dengan kasus lain.
Legilatif juga sama; memilih jalan aman, maka dalam kasus gas oplosan, boleh disebut “INSTITUSI NEGARA MEMBIARKAN DAN MEMFASILITASI TERJADINYA MAFIA GAS YANG MENYENGSARAKAN RAKYAT”.
Dua pekan ini saya melakukan investigasi dan berkomunikasi dengan sejumlah tokoh publik di level eksekutif, legislatif, dan tokoh publik yang punya akses ke kekuasaan di Jakarta, mereka tampak enggan merespons (mungkin sebagian karena terima setoran juga dan sebagian karena tak nyaman tabrakan dengan bekingnya).
Apabila alat-alat dan insitusi negara serius menjalankan tugas dan fungsinya sangat mudah membongkar, menangkap dan menggerebek langsung mereka yang terlibat jaringan mafia ini.
Pertamina cuma butuh kontrol atas aliran gas ke tiap pangkalan.
Kontrol ini bisa dikerjakan lewat Grup WhatsApp soal jumlah tabung yang diterima tiap pangkalan (karena sabotase terbesar terjadi pada alur agen ke pangkalan).
Kepolisian bisa bekerja dengan melacak sub pangkalan yang menjual gas oplosan 12 dan 50 kg.
Dari titik terbawah ini bisa ditelusuri ke atas hingga lokasi pengoplosan (dan saya bisa membongkar karena metode ini).
Gubernur, Bupati dan Wali Kota lewat Dinas Perindag bisa membuat grup whatsapp para pemilik sub pangkalan dan tiap hari bisa mengontrol pasokan gas 3 kg ke sub pangkalan.
Namun, semua tak bekerja maksimal dan cari aman (plus cari cuan), jadilah saya dan tim saya berjuang single fighter dengan segala risikonya.
Namum, saya terbiasa bekerja di wilayah konflik dan keras; saya sama sekali tidak gentar.
Saya cuma mohon doa semeton. Pun jika terjadi sesuatu terburuk saya sangat ikhlas dan siap. Semua orang toh akan mati dan dikremasi (bagi umat Hindu).
Dan jika saya harus mati dalam perjuangan ini saya sangat ikhlas dan sangat terhormat! TINGGAL TEKAN KNOP MELEDAK SEMUA! (***)












