DENPASAR, Balipolitika.com- Jelang tutup tahun 2025, Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Gerakan Indonesia Raya (DPD Gerindra) Provinsi Bali, Made Muliawan Arya alias De Gadjah bertemu dengan rivalnya di hajatan Pemilihan Gubernur Bali (Pilgub) 2024, Wayan Koster, Sabtu, 27 Desember 2025.
Pertemuan dua tokoh politik Pulau Dewata yang masing-masing menakhodai partai politik nomor 1 dan 2 di parleman alias DPRD Bali itu berlangsung di sebuah restoran di Kota Denpasar usai De Gadjah didampingi Sekretaris DPD Gerindra Provinsi Bali, I Kadek “Rambo” Budi Prasetya menghadiri Pendidikan Politik (Dikpol) Tahap II DPC Gerindra Badung di Warung D’Dangin, Mengwi, Sabtu, 27 Desember 2025.
Tampak dalam foto yang beredar senyum De Gadjah dan Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (DPD PDIP) Provinsi Bali yang juga Gubernur Bali, Wayan Koster menunjukkan suasana hangat dan penuh keakraban antar keduanya.
Bukan untuk pertama kalinya, sebagaimana diketahui publik, De Gadjah-Koster terlihat dalam beberapa kali pertemuan dan terakhir terjadi di Car Free Day, Renon, Denpasar.
Momen pertemuan terbaru ini dibagikan De Gadjah melalui unggahan di media sosial pribadinya dibubuhi narasi yang menekankan pentingnya kebersamaan dan kedewasaan politik.
“Berjumpa kembali lalu mengerti: Dalam obrolan sederhana nan ringan, tapi saling meneduhkan ini, dimunculkan sebuah titik terang. Di tengah peliknya kondisi yang dipertanyakan, apa salahnya untuk saling menyembuhkan? Bagi saya, kami adalah saudara yang tak lekang oleh waktu. Tidak sering bertemu, tapi selalu terasa dekat,” tulis De Gadjah.
Saat dikonfirmasi mengenai isi pertemuan tersebut, De Gadjah menuturkan pembahasan lebih difokuskan pada kepentingan Bali ke depan.
De Gadjah menyebut pertemuan itu menjadi ruang untuk menyamakan pandangan demi pembangunan daerah.
“Lebih banyak diskusi tentang Bali dan menyamakan presepsi dimana kita harus saling support untuk kepentingan Bali bukan untuk kepentingan pribadi atau golongan,” ujar De Gadjah.
Menurut De Gadjah, perbedaan politik tidak menjadi penghalang untuk bersinergi demi masyarakat dan Bali.
“Kalau bicara Bali, kita harus berdiri di atas kepentingan yang lebih besar. Politik itu dinamis, tapi persaudaraan dan tanggung jawab terhadap daerah harus tetap dijaga,” kata De Gadjah.
Pertemuan ini pun dinilai menjadi sinyal positif bagi iklim politik Bali menjelang peralihan dari 2025 ke tahun baru 2026. (bp/ken)












