BALI, Balipolitika.com – Adanya keresahan Badung dan Denpasar, atas penutupan TPA Suwung sudah sampai di telinga Koster.
Gubernur Bali tersebut pun dengan tegas mengatakan, bahwa TPA Suwung akan tetap tutup pada 23 Desember 2025. Tidak peduli siap tidak siap, baginya semua harus siap.
Koster berharap pengolahan sampah bisa selesai di rumah tangga, untuk sampah organik dan jika sampah residu atau non organik bisa terbawa ke Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R), Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dan yang lainnya.
Terkait dengan volume sampah yang banyak, Koster menyatakan pemerintah daerah harus mencarikan pola baru.
“Jadi hitung saja (jumlah sampah dan kapasitas pengolahan) kalau tidak bisa, cari polanya. Masalah ini harus selesai, tidak ada lagi tunda. Kalau tunda terus sampai 100 tahun tidak akan beres-beres,” seloroh pria asal Sembiran ini.
Keresahan Denpasar dan Badung, karena volume sampah dan belum siapnya masyarakat. Khusus Badung ada pula sampah kiriman di pantai yang jumlahnya cukup banyak.
Namun Koster pun tidak peduli, baginya ketegasan harus segera, sebab jika tidak maka masalah sampah di Bali tidak akan selesai. Sebab masalah sampah di Bali termasuk masalah pelik selama ini selain kemacetan.
Jumlah sampah di Bali cukup besar, yaitu sekitar 1,2 juta ton pada tahun 2024, dengan Kota Denpasar menjadi penyumbang terbesar, sekitar 360 ribu ton.
Secara harian, Bali menghasilkan 3,4 ribu ton sampah, namun baru 29 persen atau sekitar 916 ton yang berhasil dikelola, sisanya masih belum terkelola dengan baik.
Sampah di Bali didominasi oleh sampah organik (68,32 persen), seperti sisa makanan dan ranting kayu, dan sisanya adalah sampah anorganik, termasuk plastik.
Peningkatan jumlah wisatawan dan kurangnya kesadaran masyarakat menjadi faktor utama meningkatnya volume sampah ini.
Pemerintah Bali sudah berupaya mengatasi masalah ini, dengan strategi pengelolaan sampah berbasis sumber (PSBS) dan pembatasan penggunaan plastik sekali pakai. Tapi, tantangannya masih besar, terutama dengan TPA yang sudah overload. (BP/OKA)











