Dari Kubur Tak Bernama
Raung suaramu dari kubur terhenti.
Kota bangkit, khotbah janjikan
surga bagi orang-orang usiran
janji yang membawa dendam
bayang-bayang siang.
Tak ada tempat bagi keluh burung,
hanya ratap sungai-sungai
di bawah cengkram beton
dan raungmu tinggal sedu tangis
kian hilang di antara ayat-ayat bimbang.
Selamanya di sini, anganmu
menahan jerit sakit dalam peti mati,
beribu tahun mengendap dalam
dalam hikayat yang melintang
sepanjang sunyi riwayat kota.
“Kota dijual serta kesunyiannya,”
kata seorang di seberang
tempat kau terjerat kesendirian abadi.
Telah kau jual hidupmu,
telah kau jual mayatmu serta kenangannya
pada kota yang hanguskan dirimu,
yang menyimpan hasrat suaramu dari kubur.
Lagu Jalanan
(1)
Aku serpih lagu di pesta kota
mencari wajahmu di antara sejuta jalan bercabang
kakiku dirantai nama-nama samar.
Hari menelan kesadaranku dalam riuh;
sunyi melemparku pada
ego gedung yang sebentar linglung.
Dalam peduli matahari usai hujan siang ada wajah
kucari, tapi nama-nama terpanggang di atas abu
lalu terbang ke balik hari.
(2)
Di bawah kolonialisme waktu
langkahku mewujud ragu, muncul tenggelam
dalam hipokrisi papan iklan.
Namamu terukir samar
di pagar motif mata luka tentara
nama yang melemparku ke trauma sejarah,
lalu ngambang di lorong basah
lalu melayang di eufisme kemiskinan
jeritkan ingatan orang-orang
tentang realitas lapar serta amuk barbar.
Dan langkah dari raguku tak lebih dari
hantu, tertinggal di antara
dingin tembaga, membawa pesan
tak bertuan untukmu.
(3)
Jendela-jendela intai ingatanku
yang mencari jejak duka dalam alun tangis,
kulihat matamu pudar dalam
potret yang membawa wajah palsu.
Seperti angin yang nyusup dari balik dongeng
laguku berjalan di antara lamun
mengantar pesan sesamar doa
menyelipkan tanda di lapis debu kereta.
Suara sumbangku kurancang jadi
ancaman bagi mimpimu nanti malam
tapi hasrat jahatku dipecah jendela
tersesat dalam kilau benda-benda.
(4)
Langkahku menyeret bekas tangis
dari sebuah kehilangan,
aku jalan di depan bayangku sendiri
tak lebih dari
nyanyian asing yang menusuk kuping,
menyusuri jejak khayal yang berkobar.
“Kita hanya mimpi orang buta
lenyap dalam ego terakhir rezim dusta,
seperti wajah yang pudar di balik asap
menyatu dalam udara fajar kota.”
Sedang aku memperpanjang laguku
menyentuh yang tak tergapai, tapi
segalanya hanya angin. Hanya dingin.
Semua hanya mengulang
langkah yang tak tinggalkan apa
selain maut habis ini cengkram
mulut dan jemarimu
di lintasan kereta.
Lagu Lama
Seseorang menyalakan lagu di gendang telinganya.
Sebuah lagu mengalun ke seantero kota.
Orang-orang beranjak tidur, kota bangkit dari kepanikan,
dari bom bunuh diri, dari banjir, dan pencabulan.
Dari alun lagu tumbuh hutan-hutan dan pemberontakan,
dari alun lagu lahir mesiu dan sungai mengalir
ke padang gersang, dari alun lagu muncul gunung
dan tempat pelarian, dari alun lagu timbul perang dan kenangan.
Kota menyanyikan lagu di telinga seseorang,
masa lalu bangkit dari rambut gadis manis bermata sinis,
kemiskinan menggema di bawah flyover dan bantaran kali.
Kota hilir mudik dalam angan orang-orang sekarat.
Ada matahari di lagu lama. Ada lagu di matahari tua.
Suaranya menggema sampai ke selat.
Lagu lama meninabobok selat. Selat berselimut kota-kota,
selat dalam hangat kota-kota. Selat dalam nafsu kota-kota.
Selat yang memisah dua sejarah di lagu lama.
Lagu Pesta
Di bawah flyover, di jantung hidup kita,
demam menjalar ke baja dan beton,
di kota ragu dan kelu pada matahari minggu,
oportunisme hantu iklan hanyut sepanjang
sungai hitam, luruh dalam hitungan
lampu seribu layar neon.
Oho, anak zaman! Generasi cahaya temaram,
usai ashar, usai keagungan dusta,
usai algoritma menorehkan angka di jidat kita,
hantu setengah basah
rekah di asap jalan, dalam sangsi bisik
api listrik, nyala dari tapak kaki boneka plastik.
Dungdungdungdungtak…
Tak ada duka hari ini, hanya hari ini,
ada pesta dan tak ada revolusi,
di bawah flyover, usai ashar yang tawar,
sebelum maut yang larut di laut
bangkit, lapar dan kanibal,
kita sulang dengan bayang-bayang
cairan di gelas para dewa yang sengsara.
Tangerang – Jakarta
Antara Tangerang dan Jakarta
bayangmu hablur dalam hujan seharian.
Kau hantu dibentuk masa depan kota
berkelana dari kastil ke kastil bawah air.
Perjalanan jauh, nasibmu retak dalam banjir.
Antara Tangerang dan Jakarta
kau cari jejak dosa massa. Tak ada.
Hanya flyover yang tak lelah
menyeberangi kemacetan
tak henti memikul duka begitu tua.
BIODATA
Kim Al Ghozali AM, lahir di Probolinggo dan kini mukim di Surabaya. Buku puisi terbarunya: Setelah Deru Paku dan Palu (JBS, 2025)













