BALI, Balipolitika.com – Dalam kitab Manusmrti I.22 bahwa Tuhan telah menciptakan berbagai tingkat dewa, yang memiliki sifat karma. Kemudian juga menciptakan berbagai tingkat sadhya yang bersifat gaib (halus) dan yajna yang abadi.
Sehingga jika secara vertikal, akan tampak bahwa makhluk ciptaan Tuhan tertinggi, adalah para dewa yang kemudian para pitara atau roh suci leluhur.
Kemudian tingkatan selanjutnya adalah preta, atau calon pitara. Baru kemudian makhluk hidup yang bernama manusia. Namun di dunia, kerap manusia lah makhluk paling sempurna.
Kemudian setelah manusia, adanya makhluk sadhya, yang konon posisinya lebih rendah dari manusia. Yang termasuk ke dalam kelompok sadhya ini, adalah bhuta (bhutani) dengan sifat pemarah serta sering menganggu.
Termasuk pula di dalamnya adalah raksasa, yaksa, naga, yathudana, dan pisaca. Raksasa maupun bhuta menyeramkan atau menakutkan. Pisaca adalah raksasa namun ukurannya lebih kecil.
Ada pula kelompok asura, yaitu kelompok untuk semua jenis roh. Memiliki sifat bertentangan dengan para dewa.
Yang termasuk ke dalam kelompok asura adalah danawa dan daitya. Sehingga jika di daerah lain istilahnya jin, maka di Bali juga memiliki istilah tersendiri.
Umumnya orang Bali mengenal makhluk halus ini, dengan sebutan wong samar, kemangmang, regek tunggek, tonya, memedi dan lain sebagainya. Semua makhluk ini memiliki peringai berbeda-beda, sesuai dengan jenisnya.
Dan jin di Bali, dikenal dengan sebutan makhluk hana tan hana, atau ada dan tiada. Namun mereka pula merupakan ciptaan Tuhan, untuk memenuhi keseimbangan alam semesta.
Sehingga manusia sebagai makhluk paling sempurna, harapannya memberi sedekah kepada mereka yang tak sempurna berupa yadnya sesa seperti saiban dan segehan. (BP/OKA)













