BALI, Balipolitika.com – RSUD Sanjiwani, Gianyar, akhirnya buka suara ihwal ramainya pemberitaan bayi 4 bulan, yang meninggal dunia usai mendapatkan perawatan.
Viralnya berita duka ini, karena ada dugaan bayi tersebut overdosis. Bayi perempuan 4 bulan itu merupakan anak warga asal Pejeng, Tampaksiring, Gianyar.
RSUD Sanjiwani pun, menuturkan kronologi bagaimana sampai bayi ini bisa meninggal dunia. Pasien datang ke IGD RSUD Sanjiwani pada 3 Agustus 2025, pukul 23.44 WITA.
Keluhan pasien demam di hari pertama datang, kemudian pemeriksaan dan pemberian obat-obatan. Lalu monitoring, observasi sampai demam pasien turun.
Pernyataan RSUD Sanjiwani, belum ada kondisi gawat darurat saat itu dan kondisi pasien stabil. Kemudian boleh pulang dan saran agar konsultasi ke poliklinik anak.
Pada 5 Agustus 2025, pasien datang ke poliklinik anak dengan keluhan demam timbul hilang. Serta keluhan muntah dan minum menurun. Berdasar pemeriksaan dokter di poli anak dan hasil lab, pasien kemudian agar masuk dalam perawatan inap.
Pasien kemudian terawat di lantai 2 kelas 2, Gedung C Ayodya. Perawatan katanya telah sesuai dengan standar dan pengobatan. Lalu pada hari kedua yakni 6 Agustus 2025, pemasangan infus dengan obat Paracetamol.
Dosis pun sesuai dengan instruksi dokter spesialis, namun malah usai itu pasien mengalami henti nafas dalam proses pemberian obat itu.
Lalu tata cara sesuai dengan penanganan pasien henti nafas, dan muncul dugaan terakit adanya cairan susu yang memasuki aliran nafas. Lalu proses resusitasi untuk pengeluaran sumbatan jalan nafas ketemu cairan susu itu.
Penanganan di kamar rawat pasien, termasuk pemasangan selang saluran nafas dan lanjutan ke ruang intensif anak. Namun sayang pasien meninggal dunia pada 6 Agustus 2025.
RSUD Sanjiwani pun turut berduka atas kepergian sang bayi, khususnya dalam proses perawatan di rumah sakit ini. Namun pihak rs tetap menyatakan bahwa pelayanan telah sesuai dengan standar pelayan terbaiknya.
Surat pernyataan ini, tertanggal 8 Agustus 2025 dan tanda tangan langsung oleh Direktur RSUD Sanjiwani, Dokter Nyoman Bayu Widhiartha.
Hanya saja, dari pihak keluarga sangat menyayangkan tidak ada dokter spesialis yang standby dan hanya ada dokter penjaga. Setelah dua jam penanganan dengan banyak mekanisme, bayi tersebut tidak tertolong dan meninggal dunia.
Pihak keluarga meminta agar hal ini dapat menjadi atensi ke pihak RS untuk pertanggungjawaban dan tindakan tegas terhadap orang yang telah melakukan kelalaian medis.
Keluarga tersebut menyayangkan bahwa sebelum injeksi obat, tidak ada pemeriksaan suhu, detak jantung, dan kondisi fisik. Suhu terakhir dengan termometer pribadi menunjukkan 36,7°C.
Petugas yang memberikan obat terakhir kali adalah seorang training yang datang tanpa pendamping. Keluarga tersebut meminta keadilan dan tindakan tegas terhadap pihak RS.
Wadir Umum RSUD Sanjiwani, Putu Awan Saputra, Jumat (8/8) tak membantah bayi tersebut meninggal di RSUD Sanjiwani. Namun pihaknya belum bisa memberikan keterangan terkait kasus tersebut.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Gianyar Dewa Gde Alit Mudiarta ikut belasungkawa atas meninggalnya bayi perempuan yang baru menginjak usia 3 bulan di RSUD Sanjiwani Gianyar.
Dewa Alit mengatakan, pelayanan telah dengan maksimal sesuai dengan SOP yang ada, namun bayi tersebut tidak bisa selamat.
“Dengan rasa sedih, turut berduka cita yang mendalam dan prihatin, saya mewakili manajemen Rumah Sakit Umum Daerah Sanjiwani dan Pemerintah Daerah Kabupaten Gianyar ingin menyampaikan permakluman tentang proses layanan di rumah sakit dan turut berduka cita atas meninggalnya pasien kami NKAMP, pada tanggal 6 Agustus 2025, di RSUD Sanjiwani,” kata Dewa Alit, Jumat (8/8).
Sekda Dewa Alit berkomitmen akan terus meningkatkan kualitas pelayanan di RSUD Sanjiwani Gianyar, serta mengucap terima kasih atas kepercayaan masyarakat Gianyar kepada RSUD Sanjiwani Gianyar.
Terpisah, orangtua korban, Wayan Eka Saputra mengatakan, pada saat lahir, anaknya tersebut terlahir normal, dan dirinya sangat bahagia atas kelahiran anak tersebut. “Anak lahir normal. Saya punya anak, waktu melahirkan senangnya bukan main,” ujarnya.
Terkait statement di media sosial, Eka menegaskan dirinya tidak ingin membuat situasi keruh. Namun untuk mengingatkan rumah sakit agar meningkatkan pelayanan, supaya tidak ada orangtua yang mengalami kejadian seperti dirinya.
Pihaknya juga tidak menuntut kejadian ini secara hukum. Sebab dirinya telah mengikhlaskan. “Saya sudah mengikhlaskan, dan saya percaya pada karma, kalau ini riil kecelakaan oleh rumah sakit, biarlah karma yang akan membalas,” kata dia. (BP/OKA)













