SAAT hari pertama Nuri bekerja sebagai redaksi, ia banyak dihadapkan dengan persoalan politik yang tiada habis. Mulai soal pemilu, korupsi, hingga urusan selebriti menjadi anggota dewan ia urus juga. Tugas yang dibebankan memang tergolong mudah jika bagi Bang Saufan seniornya, namun menurut Nuri ini adalah persoalan paling menjengkelkan. Membahas negara ini tak pernah habisnya mengenai batasan hukum. Sempat Nuri kuliah di kedokteran dan masuk akademi kepolisian wanita sesuai amanah ayahnya. Kedua jurusan itu memang favorit bagi sebagian besar orang, tetapi hak untuk menentukan apa yang terbaik itu adalah bentuk penghargaan diri. Maka, banyak hal yang tidak sesuai dengan isi hati dan pikiran saat menjalankan sesuai yang bukan keinginan. Memang, untuk mendapatkan posisi baik dalam suatu pekerjaan terutama soal kejelasan, polisi, dokter, atau perawat adalah pilihan tepat. Tetapi, Nuri juga yakin jurusan yang benar-benar ia tekuni juga sama posisinya di masa yang akan datang. Ya mungkin, bukan di kantor atau lapangan tetapi fokus disuatu tempat yang jauh, sepi, dan tidak terlalu terang untuk menghasilkan sebuah coretan di atas meja berantakan.
Dulu, empat tahun lalu, saat itu usianya dua puluh tujuh tahun. Sekarang, ia memasuki kepala tiga. Ibu dan keluarga pihak ayah datang ke acara wisuda, sekaligus melihat sepupu Nuri lulusan teknik dan juga wisuda. Biasa, jika sudah berkumpul sesama keluarga, pasti bahasnya bukan nasihat tetapi yang kira-kira sedikit berbau ria.
“Syukur anak saya lulus di Singapura untuk kerja.”
“Emangnya kapan seleksinya? Nuri soalnya baru tahu.”
“Ya pasti ada dong, kamunya aja enggak tahu ke mana..Emang enggak ada berteman di Instagram? Mana tahu dia ada posting apa gitu. Kamu enggak coba minta sama papa kamu untuk mengurus pekerjaan bergengsi di luar negeri? Kan papamu punya bekingan besar”
Nuri diam ia paling alergi meminta bantuan pekerjaan karena posisinya sebagai kerabat atau anak. Ia juga merasa jika sepupunya itu sangat tidak mungkin diterima, nilai bahasanya C saat di kampus. Pasti ada yang membantu, selain itu juga seingatnya sepupunya itu tak pernah menunjukkan ciri-ciri kalau ia keterima bekerja di sana. Malah foto-foto biasa aja jalan-jalan ke mall, nonton, nongkrong, enggak ada kalau dia itu sedang berusaha belajar. Karena jika memang benar, pasti ada yang ia lihat karena Nuri tahu jika sepupunya sangat sama dengan kelakuan ibunya yang hobi cari pengakuan. Daripada lama ia di sana, terutama si tantenya itu tukang penyebar aib orang dan suka meninggikan keluarganya, muak juga Nuri mendengarnya dan akhirnya berpura-pura ke toilet lalu diam-diam melarikan diri. Ia baru ingat, bahwa ada iklan lowongan pekerjaan melalui postingan Instagramnya. Adanya pemberitahuan ini, ada peluang besar untuknya bisa bekerja sesuai kemampuan dan bakat. Namun, satu hal membuatnya sedikit kurang percaya diri, bahwa media ini adalah surat kabar ternama pasti banyak calon pekerja yang lebih tinggi kemampuan menulisnya dibandingkan ia. Tetapi, jika tidak berani dan nekat bukanlah seorang Nuri.
Pulang dengan memakai becak langganannya, di sepanjang jalan mulai berfikir untuk kejelasan dirinya. Karena, jika hanya mengirim tulisan lalu lulus dimuat media atau surat kabar, ia takkan cukup untuk memenuhi kebutuhan. Karena, ia sedari dulu sangat berfikir panjang untuk memutuskan sesuatu. Nuri benar-benar akan menunjukkan pada orang lain bahwa dia dan studi pilihannya sangat dibutuhkan dalam pekerjaan apa pun.
Sesampainya ia di lokasi, kesan pertama yang ia lihat adalah bahwa gadis dengan kemeja merah maron ini akan duduk di ruangan sambil mengetik lengkap dengan rompi bertulisan nama surat kabar tempat bekerja, ia akan foto dengan penuh bangga. Namun, itu belum nyata ia langsung masuk dan menaruh surat lamaran pekerjaan bukan sebagai jurnalis berita politik atau pemerintahan melainkan untuk menjadi bagian tim rubrik budaya. Sastra adalah sasarannya untuk bisa bekerja di sini. Tempat paling diminati oleh kaum lulusan fakultas sastra atau humaniora. Terdapat penyesalan di dalam hati, tidak menerima jika dipekerjakan di luar ekspektasi. Tapi mau bagaimana, mencari kerja di zaman sekarang begitu susah. Semoga ini adalah langkah awal untuk berkarir lebih besar.
Nuri keluar dengan lega telah mencoba untuk bekerja di tempat ini. Ponselnya tiba-tiba berdering menunjukkan nama ibu memanggil.
Ibu menelpon dari rumah. Mengatakan jika ayah Nuri telah pulang dari Belanda. Membawa baju baru dan tas bermerek untuk ibu dan dirinya. Karena prinsip keras Nuri untuk mandiri, terutama ia tahu jika ayahnya turut terlibat dalam penerimaan uang suap gedung kota, ia semakin benci menerima uang itu.
“Tidak apa-apa ibu, Nuri masih ada tas dan sepatu tahun lalu. ” Ucapnya dengan terus membaca berita tentang efesisnsi anggaran yang melibatkan para tenaga pendidikan mendapat ancaman pemotongan gaji.
“Tetapi ini mau lebaran Nuri, ibu lihat kamu belum membeli apapun, biarlah kamu terima atau ambil saja uang ibu nak.”
“Uang ibu adalah hasil dari pemberian ayah, itu sama saja. Ibu, tidak usah khawatir denganku. Biar saja Nuri menjalani hari-hari dengan serba ada dan harus terbiasa.”
Seorang pria memanggil Nuri. Nuri langsung mengakhiri percakapan.
“Kamu Nuri Usman?” Tanya pria itu dengan rombi jurnalis warna abu-abu.
“Iya bang.” Jawabnya sambil mengangguk.
“Ayo ikut saya ke lapangan Timor, sedang ada kericuhan di sana.”
“Kericuhan apa bang?”
“Kamu baru ya?” Tanyanya lagi dengan wajah masam.
“Baik bang.” Ucapnya tanpa membantah dan langsung mengambil kamera serta tas mininya.
Saat sampai di parkir, dua orang polisi melintas dan menyapa mereka.
“Semangat nak, selesaikan masalah negara ini dengan keberanianmu.” Ungkap salah satu polisi itu dengan wajah tersenyum lebar.
“Akan aku perjuangan bang. Terimakasih selama ini telah memotivasi kami.”
“Baik nak, kami bersama kalian yang mendukung keadilan.”
Nuri hanya tersenyum kecut dan ia memang bingung sejak awal masuk di kantor ini. Sepertinya bukan hanya soal tugas dan tanggungjawab, tetapi juga akan ada hal lainnya yang belum diketahui oleh Nuri.
Setibanya, terlihat abu dan debu jalan berhamburan di udara. Warna hitam bagai mendung yang gelap membuat Nuri sedikit khawatir dengan situasi yang belum sama sekali ia hadapi. Tidak ada arahan dari atasan jika ia terjun saat itu juga, namun inilah posisi seorang wartawan, siap siaga dalam menerima berbagai tugas. Sastra, soal itu ia sudah pasrah, lagipula menjadi seorang wartawan dengan meliput berita pemerintahan tidak menghalangi jari jemarinya untuk menghasilkan kata-kata.
“Nuri cepat kamu ambil gambar saya.” Teriak pria itu dari jarak sedikit jauh.
Gadis itu dengan sigap mengarahkan lensa kamera untuk menangkap gambar yang pas. Tetapi, di mana pria itu? Sudah tidak terlihat lagi. Ia mau memanggil, tetapi belum tahu namanya siapa. Nuri berputar-putar ke setiap arah di tengah-tengah kerumunan yang saling bersorak dan penuh dengan suara tembakan. Tak berselang lama, sebuah asap seakan-akan menggores matanya. Itu adalah cairan asam yang membuatnya pingsan tiba-tiba. (***)
BIODATA
Damay Ar-Rahman atau Damayanti adalah penulis buku dan pegiat edukasi dan literasi di Aceh. Buku-bukunya berupa karya solo, antologi bersama dan dimuat media massa lokal, nasional, juga Malaysia.













