BADUNG, Balipolitika.com– Kartini Go Surf 2026 memiliki kesan istimewa bagi seorang Bagus Made Irawan “Piping”.
Owner Magicwave sekaligus sang perintis Kartini Go Surf sejak dihelat pertama kali di tahun 2010 itu menyebut event tersebut merupakan wujud cinta seorang anak kepada ibunya.
“Bagaimana kita seorang anak cinta kepada ibunya,” ucap Piping yang juga mengemban amanah sebagai Ketua Panitia Kartini Go Surf 2026.
Surfing atau berselancar di mata Piping merupakan magnet istimewa bagi industri pariwisata.
Lebih memilih “menghire” aktivitas berselancar bagi “pemula” demi kesinambungan olahraga air menantang di mana seseorang menunggangi ombak menggunakan papan selancar (surfboard) menuju pantai, Piping membuktikan bahwa surfing efektif membuka geliat titik tourism baru.
“Membuka tourism baru. Saya pernah buat “Pecahan Emerald”, event surfing di Banyuwangi (2013). Ada salah satu destinasi wisata di sana, Pulau Merah (Pesanggaran, Banyuwangi, red), dari tidak dikenal– sama Pak Anas Bupati waktu itu– saya buka 2013-2015. Bupatinya jadi Menteri kan habis itu. Ada 5 menteri yang datang waktu itu. Jadi, lebih ke pengembangan pesisir pantai untuk tourism,” ungkap Piping.
Tentang perkembangan olahraga surfing di Bali, Piping menegaskan posisinya tidak pada kompetisi surfing, melainkan fokus pada pemberdayaan masyarakat dan tourism.
“Saya melihat perkembangan di setiap destinasi wisata yang berlomba (menggelar event surfing, red) atau tidak berlomba. Banget, sangat berpengaruh. Kalau dari sisi surfing tetap keren (aktivitas surfing di Kuta, red). Kalau pantai, para wartawan kan punya kamera, jadi tahu dong,” terang Piping.
“Contohnya depan Hard Rock. Mudah-mudahan tahun ini masih bisa ada tembok. Kalau Juli 2026 besar ombak ya kemungkinan temboknya jalan-jalan main surfing,” ungkap Piping menunjukkan kecemasannya.
Sebagai pengamat intens aktivitas surfing nonprofesional, khususnya di Bali, Piping mengaku gembira karena semakin banyak anak-anak muda Pulau Dewata plus orang tua mereka yang mengenalkan olahraga ini sejak dini.
“Antusiasnya besar banget. Ada teman saya, namanya Ferry, aku ajarin dia 6 tahun lalu, tahun ini sudah keber-keber (surfing di atas ombak besar, red). Kita bisa membuat jalan (regenerasi, red) bergantung orang tua. Dan orang tua yang satu ini, Ferry, memang top,” urainya.
Lebih lanjut, Piping menggarisbawahi bahwa Kartini Go Surf 2026 hadir bagi seluruh masyarakat dunia, khususnya Bali.
Dibuka untuk publik seluas-luasnya, Panitia Kartini Go Surf 2026 menyediakan panggung bagi siapa pun yang ingin naik papan selancar di Pantai Kuta.
“Kita buatin panggung. Mereka mau naik silakan. Nggak mau naik, nggak apa-apa,” tandasnya.
Soal harapan serangkaian hari kelahiran Raden Ajeng Kartini atau juga dikenal sebagai Raden Ayu Kartini, tokoh perempuan asal Jepara, Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia, 21 April 1879 di tahun 2026, Piping mengingatkan kaum adam (lelaki) tidak akan pernah ada tanpa sosok perempuan atau ibu.
“Mulai sadar bahwa kita, lelaki ini lahir dari perempuan,” tutup Piping menegaskan sudut pandangnya tentang Hari Kartini ke-147 tahun 2026. (bp/ken)













