BANGLI, Balipolitika.com- Program Studi Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Warmadewa bekerja sama dengan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bangli menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Pencegahan Radikalisme Berbasis Human Security di Lingkungan Lembaga Pemasyarakatan”, Selasa, 19 Mei 2026.
Kegiatan yang diikuti oleh 50 warga binaan ini menghadirkan narasumber dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT RI) dan akademisi Universitas Warmadewa sebagai upaya memperkuat pemahaman peserta mengenai bahaya radikalisme sekaligus membangun ketahanan individu terhadap berbagai bentuk pengaruh ekstremisme.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Bangli, Dody Naksabani, S.Sos., M.M., yang dalam sambutannya menekankan pentingnya kolaborasi antara institusi pemasyarakatan, perguruan tinggi, dan pemerintah dalam mendukung proses pembinaan warga binaan.
Menurutnya, lembaga pemasyarakatan tidak hanya berfungsi sebagai tempat menjalani masa pidana, tetapi juga sebagai ruang pembinaan yang berorientasi pada perubahan perilaku, peningkatan kapasitas diri, dan persiapan reintegrasi sosial bagi warga binaan setelah kembali ke masyarakat.
Dalam beberapa tahun terakhir, isu radikalisme dan ekstremisme menjadi salah satu perhatian penting dalam tata kelola keamanan nasional.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa lingkungan pemasyarakatan memiliki tantangan tersendiri karena mempertemukan individu dengan latar belakang, pengalaman hidup, dan tingkat kerentanan yang beragam.
Dalam kondisi tertentu, keterbatasan akses informasi, tekanan psikologis, maupun pengaruh lingkungan sosial dapat menjadi faktor yang dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menyebarkan narasi intoleransi, kebencian, maupun paham radikal.
Oleh karena itu, penguatan literasi keamanan dan kesadaran kritis menjadi bagian penting dalam strategi pencegahan yang bersifat jangka panjang.
Sebagai narasumber pertama, Dr. Prakoso Permono, S.Sos., M.Si. dari BNPT RI menyampaikan materi mengenai perkembangan ancaman radikalisme dan terorisme, khususnya dalam konteks lingkungan pemasyarakatan.
Dalam paparannya, beliau menjelaskan bahwa radikalisme tidak selalu muncul dalam bentuk tindakan kekerasan yang terlihat secara langsung, tetapi sering kali diawali oleh perubahan cara berpikir, berkembangnya sikap intoleran, serta munculnya kecenderungan untuk memandang kelompok lain sebagai musuh.
Melalui berbagai pengalaman lapangan dan studi kasus yang pernah ditangani, peserta diajak memahami bagaimana proses radikalisasi dapat terjadi, faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menghindari pengaruh tersebut.
Materi yang disampaikan juga memberikan gambaran mengenai dinamika ancaman terorisme kontemporer yang terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi informasi.
Peserta diajak memahami bahwa penyebaran ideologi radikal saat ini tidak hanya berlangsung melalui pertemuan tatap muka, tetapi juga melalui media sosial, platform digital, dan berbagai bentuk komunikasi daring lainnya.
Oleh karena itu, kemampuan untuk berpikir kritis dan memilah informasi menjadi salah satu aspek penting dalam membangun ketahanan diri terhadap pengaruh paham ekstrem.
Sementara itu, narasumber kedua, I Putu Hadi Pradnyana, S.IP., M.Si., dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Warmadewa, membawakan materi mengenai pendekatan human security dalam upaya pencegahan radikalisme.
Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa keamanan tidak lagi dipahami semata-mata sebagai upaya menjaga negara dari ancaman fisik, tetapi juga mencakup perlindungan terhadap individu dari berbagai ancaman yang dapat mengganggu kesejahteraan, martabat, dan masa depannya.
Melalui pendekatan tersebut, peserta diajak memahami bahwa pencegahan radikalisme tidak dapat dilakukan hanya melalui pengawasan dan penegakan aturan.
Aspek-aspek seperti penghormatan terhadap kemanusiaan, penguatan hubungan sosial yang sehat, pembangunan rasa percaya diri, peningkatan literasi, serta kesempatan untuk mengembangkan diri juga memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman dan kondusif.
Materi ini mendapat respons positif dari peserta karena dikaitkan dengan berbagai pengalaman dan situasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari warga binaan.
Untuk mengukur efektivitas kegiatan, tim pelaksana menerapkan metode evaluasi melalui pre-test dan post-test.
Sebelum kegiatan dimulai, seluruh peserta diminta mengisi pre-test guna mengukur tingkat pemahaman awal terkait konsep radikalisme, faktor-faktor kerentanan, serta upaya pencegahannya. Setelah seluruh sesi materi dan diskusi selesai dilaksanakan, peserta kembali mengikuti *post-test* dengan materi yang serupa.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman yang cukup signifikan.
Nilai rata-rata peserta pada pre-test tercatat sebesar 72, sedangkan pada post-test meningkat menjadi 83.
Peningkatan ini menunjukkan bahwa materi yang disampaikan mampu memperkuat pemahaman peserta mengenai bahaya radikalisme dan pentingnya membangun ketahanan diri terhadap berbagai bentuk pengaruh yang berpotensi mengarah pada ekstremisme.
Temuan tersebut juga menjadi indikator bahwa pendekatan edukatif melalui literasi keamanan masih relevan dan efektif untuk diterapkan dalam lingkungan pemasyarakatan.
Selain penyampaian materi, kegiatan berlangsung secara interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab.
Berbagai pertanyaan yang disampaikan peserta menunjukkan tingginya antusiasme warga binaan untuk memahami isu-isu keamanan yang berkembang di masyarakat.
Diskusi tidak hanya membahas ancaman radikalisme, tetapi juga pentingnya menjaga hubungan sosial yang sehat, membangun masa depan yang lebih baik, serta mempersiapkan diri untuk kembali berkontribusi secara positif di tengah masyarakat setelah menyelesaikan masa pembinaan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Program Studi Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Warmadewa dalam menjalankan tridarma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada penyelesaian berbagai persoalan sosial dan keamanan kontemporer.
Melalui sinergi dengan BNPT RI dan Lapas Kelas IIA Bangli, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk memperkuat budaya keamanan yang inklusif, meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap pengaruh radikalisme, serta mendukung terwujudnya proses pembinaan warga binaan yang lebih efektif, humanis, dan berkelanjutan.
Ke depan, Program Studi Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Warmadewa berkomitmen untuk terus mengembangkan berbagai program edukasi dan pemberdayaan yang tidak hanya berkontribusi pada peningkatan kapasitas individu, tetapi juga mendukung penguatan keamanan manusia (human security) dan ketahanan sosial sebagai bagian dari pembangunan masyarakat yang damai, inklusif, dan berkelanjutan. (bp/ken)













