KAPAL SELAM
Jejaknya bergelombang. Menghantam
karang lautku. Menghentak
pintu tidur. Menjelma hiu liar
di saat sepi sendiri.
Kapal hitam
jejaknya menantang sebuah pertempuran
melesatkan peluru kosong
sebagai cara penaklukan;
“jangan menyerah, kataku
kita hanya terpenjara oleh rasa lelah
terbebas rasa bersalah”
Menjauh dari radarnya, tak mungkin
menghindari dari serangan juga
sebuah kesalahan
sebab ini sebuah pertempuran
Harus bergerak terus
serupa kekupu
ringan melayang girang
oleh sajak yang mekar;
sebuah cara bertahan tanpa
benteng pertahanan
menjadikannya bukan kisah heroik
Peredaran matahari dari pagi
ke malam mencairkan laut es bagi
lintasan perahu kayu kita. Tanganmu,
perkasa mengangkat sauh
dan mendayung menjauh dari
semenanjung samar
Dan,
kecupan hangatmu membuka
dingin selimutku
kita terbang merayakan
kebebasan hidup bersyarat
Jangan takut. Dari kedalaman
laut akan selalu ada serangan gelap
berkamuflase
melesatkan peluru dingin.
Tak ada yang percuma
jangan padamkan api unggun ini
terus nyalakan
Dari semenanjung samar
berangkat bermanuver
dia sesat
mencari keberadaan kita
Kelemahan kita
karena tak punya peluru
menembakkan meriam
Kita hanya sepasang merpati mencari
jejak cinta yang konon pernah
ditenggelamkan oleh sejarah di laut ini.
2025
DARI LUKISAN PAUL KLEE
Tiarap, sama saja dengan terlentang
Jika hati bersayap dari kepala muncul
seutas benang menghubungkan
dengan sebuah balon gas
melayang di udara;
Paul Klee melukiskan kita
warna-warni kotak-kotak keyakinan kita
lalu dengan ceroboh meniup
seperti balon gas
Mudah meledak
sebab ditiup dengan keinginan
melambung.
2025
LELAKI ITU MEROKOK DI BERANDA
Terlentang atau berdiri sama saja
Menghisap cerutu sambil
merenungkan tentang cinta
membayangkan seperti
gulungan asap
lenyap bersama angin.
Dunia sekejap senyap seolah
menjadi miliknya;
nikotin hanya mitos sebagai
pembunuh bayaran, katanya.
Sambil menyelam minum air—sambil
merokok berimajinasi
bahwa hidup hanya kuda yang
dijerat laso di sabana
ditunggangi sejuta harapan dan
terus dipacu seperti balapan
tanpa garis finish.
Seperti perjalanan ke sebuah kota
hanya sempat melihat etalasenya. Tergiur
dengan pesta penuh kosakata berupa
pertanyaan;
apa kita bisa saling merdeka?
2025
BAWAH SADAR
Aku simpan impian dan kenangan
hingga menjelma hantu berlumut dan
aku simpan perihnya sebab
segala hutang dan kutukan
berekor panjang. Lebih panjang
dari ekor layangan janggan
sebab terbawa ke masa depan.
Aku simpan kesetiaan yang mekar
akibat sebuah pemberontakan dalam diam
menantang kutukan bahwa
aku layak mabuk
menikmati kehidupan
dengan minuman hangat dari
peraman sajak-sajak cinta
sebagai sebuah pembebasan
dan
kekuatan bertahan
hanya perlu berdiri dengan satu kaki;
kesetiaan tak seperti kursi
berdiri dengan 4 kaki
Si Malin tak mau disebut durhaka
sebab pergi
untuk kembali dari mencari nafkah
atas rasa lapar oleh cinta,
pemburu di laut cinta
Ingin menemukan wajah manusia
sebab sudah
tipis batas antara yang pernah mengaku
diri seorang dan seekor
2025
DI TENGAH SEBUAH TAMAN
Aku kekupu, terbang dengan
sayap rapuh mencari sajak yang mekar
yang dibangun oleh sabda suci
yang diterima para gelandangan
Setiap tarikan nafas ingin
bisa menjelma jadi apa saja;
lalat hijau, capung memedi,
kumbang pengerat batang padi,
rumput bergoyang, umbul-umbul atau
kijang gunung dengan
pohon kembar di kepala.
Atau,
seekor merpati pembawa kabar, bahwa
seekor kuda nil, bernafas dalam lumpur
berenang menyelam sambil merokok
bersenandung smoke on the water
Bagaimana kalau menjadi
aktor bayaran
di panggung sirkus ditonton
dengan sorak-sorai.
Dan
sudah sejak lama jemu jadi kekupu
namun tetap rindu pada nehtar
pada kehidupan yang mekar
bangun bersama pagi.
Aku jemu jadi kuda pacu
tanpa garis finish yang pasti
Kepada yang duduk bersama
Di bangku taman kota
mengaku suka menyanyi dan ingin
menjadi hujan dan matahari
aku ingin menjadi hutan dan kuncup liar
hingga mempesona langitnya
langit yang tawakal
sesudah dia jatuh dan patah ranting
dan memerlukan seorang tukang kebun.
2025
EKSOTIKA ANJING
Kebahagiaan yang sulit dibagi
ketika mengajaknya
ke super market dan satpam
menolaknya naik eskalator
Seekor penurut, bukan pengikut
dia bukan kutukan
dan bukan pengecut. Dia
penjaga setia pernah ke sorga
Itu menurut cerita wayang.
Lalu apa dosanya?
Lolongan riangnya mesra
Di pagi buta digembala rasa sayang lalu
membuang narasi busuk di sembarang tempat
di rerimbunan dan
inilah juga kebahagiaan yang sulit dibagi
bagi petugas taman kota
Penjual jasa sebagai penjaga gerbang rumah
jika para penagih hutang datang
Keadaan berhutang juga padanya
sebagai penjaga, pengingat bahwa
keadaan tak baik-baik saja ketika
hiruk-pikuk jadi huru-hara karena
nilai kehidupan dimanipulasi
Menyentakkan pesta para pencuri
di ruang menara gading
Jangan tanya
atas rekomendasi siapa
dia bisa ke sorga mengawal
seorang ksatria sesudah
perang berakhir?
Dan
apa peduli kita jika dia mengatakan;
patung suci singa kerdil bersayap
dari batu itu
serupa rahangku, sebagai penjaga kuil
atau mungkin
dia reinkarnasi seekor anjing api
Di sebuah klinik hewania
seperti hotel bintang 5
dengan ruang-ruang sempit;
di sini boleh menggonggong lepas
bikinlah riuh
tapi tetap jaga toleransi
sekalipun beda asal dan ras
2025
BIODATA
I Nyoman Wirata lahir di Denpasar, 1953. Mulai menulis puisi sejak tahun 1975. Bekerja sebagai guru seni budaya sejak tahun 1980, pensiun tahun 2013. Dalam bidang sastra, dia pernah meraih Juara 1 Penulisan Puisi se-Bali yang digelar oleh Pemerintah Provinsi Bali (1977), Sepuluh Puisi Terbaik se-Bali yang digelar Bali Post (1978), Juara III Sayembara Penulisan Naskah Buku Bacaan Tingkat Nasional Antar Guru yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1993), Juara II lomba menulis novel yang digelar Bali Post (2003). Puisi-puisinya dimuat di berbagai media massa, seperti Bali Post, Kalam, Horison, dll. Buku puisi tunggalnya adalah “Merayakan Pohon Di Kebun Puisi” (2007) dan “Destinasi” (2021). Dia menerima anugerah Widya Pataka (2007) dan Bali Jani Nugraha (2020) dari Pemerintah Provinsi Bali. Selain menekuni sastra, dia aktif melukis.













