PADA pukul sembilan pagi seorang penyair membuka media sosial, mengunggah foto dirinya di sebuah festival sastra, menandai lima belas orang, menyebut tiga teori mutakhir, menempelkan dua istilah filsafat politik, lalu menerima seratus tujuh belas tanda suka dalam waktu dua jam. Pada jam yang sama seorang penyair lain sedang menghapus satu kata dari puisinya setelah memikirkan kata itu selama tiga minggu. Menjelang siang, penyair pertama telah memperoleh undangan diskusi. Penyair kedua belum memperoleh apa pun selain keraguan. Menjelang malam, penyair pertama dianggap penting. Penyair kedua masih belum yakin apakah puisinya selesai. Di antara dua peristiwa kecil itu terbentang sebuah lanskap yang semakin menentukan arah kesusastraan Indonesia: kemenangan prestise atas ketekunan, kemenangan sirkulasi simbolik atas pengalaman artistik, kemenangan posisi atas pencapaian.
Saya tidak sedang berbicara tentang korupsi dalam pengertian hukum. Saya berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih halus dan karena itu jauh lebih tahan lama. Sebuah mekanisme yang membuat orang-orang cerdas perlahan berhenti mencari kebenaran artistik dan mulai mengelola citra kecerdasannya sendiri. Sebuah sistem yang tidak membutuhkan sensor karena telah berhasil membuat banyak orang menyensor dirinya sendiri. Sebuah ekosistem yang tidak memerlukan diktator karena setiap orang bercita-cita menjadi kurator. Sebuah keadaan yang saya sebut sebagai diabolisme intelektual.
Kata “diabolisme” di sini tidak menunjuk tanduk, api neraka, atau makhluk gaib yang bersembunyi di balik rak buku filsafat. Ia menunjuk kemampuan intelektualitas untuk berbalik arah. Pengetahuan yang semula dirancang untuk menjelaskan dunia mulai dipakai untuk mengaburkan dunia. Teori yang semula dipakai untuk membuka kenyataan mulai dipakai untuk menutupi kenyataan. Bahasa yang semula digunakan untuk menghubungkan manusia mulai dipakai untuk menciptakan jarak. Yang berubah bukan perangkatnya. Yang berubah adalah orientasinya.
Sastra Indonesia hari ini menghasilkan lebih banyak wacana dibandingkan pembacaan. Lebih banyak seminar dibandingkan perdebatan. Lebih banyak peluncuran buku dibandingkan pembacaan buku. Lebih banyak kurator dibandingkan pembaca yang tekun. Lebih banyak pernyataan posisi dibandingkan eksplorasi bentuk. Di banyak ruang, karya telah berhenti menjadi pusat gravitasi. Yang menjadi pusat adalah jaringan yang mengelilingi karya tersebut.
Puisi yang biasa-biasa saja dapat tampil luar biasa apabila dikawal oleh kata pengantar yang cukup panjang. Sebaliknya puisi yang luar biasa dapat tenggelam karena tidak memiliki akses terhadap mesin distribusi simbolik. Dalam keadaan seperti ini kualitas tidak lagi menjadi syarat utama. Kualitas hanya menjadi salah satu kemungkinan di antara banyak kemungkinan lain. Yang lebih menentukan sering kali adalah kemampuan menempatkan diri pada koordinat sosial yang tepat.
Seseorang menulis puisi yang buruk. Itu bukan masalah. Semua penyair pernah menulis puisi buruk. Masalah muncul ketika puisi buruk itu memperoleh lima lapis pembelaan teoritis. Puisi itu dijelaskan sebagai eksperimen. Ketika eksperimennya gagal, ia disebut dekonstruksi. Ketika dekonstruksinya gagal, ia disebut pembongkaran bahasa. Ketika pembongkaran bahasa itu tidak menghasilkan apa-apa, ia disebut perlawanan terhadap konvensi estetik. Pada tahap tertentu, kegagalan telah memperoleh begitu banyak penjelasan sehingga tidak lagi terlihat sebagai kegagalan.
Di situlah diabolisme intelektual bekerja dengan sangat elegan. Ia tidak memperbaiki karya. Ia memperbaiki narasi tentang karya.
Sebuah puisi yang dahulu cukup dinilai berdasarkan bunyi, ritme, citraan, struktur, dan daya hidup bahasanya kini harus melewati hutan teori yang panjang. Kadang-kadang pembaca selesai membaca seluruh pengantar, esai pendamping, dan wawancara penulis tanpa mampu mengingat satu baris pun dari puisinya. Karya berubah menjadi lampiran. Penjelasan berubah menjadi bangunan utama.
Fenomena ini melahirkan jenis penyair yang sangat khas. Ia tidak terlalu tertarik pada puisi, tetapi sangat tertarik pada posisi penyair. Ia tidak terlalu tertarik pada bahasa, tetapi sangat tertarik pada identitas sebagai pengguna bahasa. Ia tidak terlalu tertarik pada pengalaman, tetapi sangat tertarik pada cara pengalaman itu dapat dipasarkan secara simbolik. Maka lahirlah industri kecil prestise.
Orang mulai mengoleksi panel diskusi seperti kolektor perangko. Mengoleksi residensi seperti kolektor pedal efek gitar. Mengoleksi pengantar buku seperti kolektor perang. Mengoleksi sertifikat seperti pegawai arsip yang takut kehilangan masa depan. Semua itu sah-sah saja sampai satu titik ketika koleksi tersebut mulai dianggap sebagai pengganti karya.
Yang mengherankan, mekanisme ini hampir selalu dibungkus dengan bahasa moral. Tidak ada yang mengaku sedang membangun jaringan. Semua mengaku sedang membangun ekosistem. Tidak ada yang mengaku sedang mengelola pengaruh. Semua mengaku sedang merawat kebudayaan. Tidak ada yang mengaku sedang mengamankan posisi. Semua mengaku sedang memperjuangkan nilai. Sementara itu puisi duduk sendirian di sudut ruangan seperti kerabat jauh yang terlupakan dalam pesta pernikahan.
Ada pula gejala lain yang lebih menarik. Dunia sastra kita semakin sering memperlakukan teori seperti jimat. Nama-nama besar beredar seperti mata uang. Satu kutipan Foucault. Dua kutipan Derrida. Sedikit Deleuze. Sedikit Agamben. Sedikit Butler. Sedikit Žižek. Semua dicampur dalam blender retorika hingga menghasilkan minuman yang tampak intelektual. Tidak ada yang salah dengan para pemikir tersebut. Yang menarik adalah cara mereka dipakai. Kadang teori tidak digunakan untuk membaca karya. Karya justru digunakan sebagai alasan untuk memamerkan teori.
Seorang penyair menulis tentang hujan. Lima belas halaman kemudian hujan itu menghilang dan digantikan oleh pembahasan mengenai tubuh, kekuasaan, kapitalisme global, pascakolonialitas, algoritma digital, dan kemungkinan ontologis dari genangan air. Hujan tidak pernah kembali. Ia mati sebagai hujan dan lahir kembali sebagai konferensi.
Padahal salah satu fungsi puisi sejak awal adalah mengembalikan dunia kepada kehadirannya yang konkret. Membuat hujan menjadi hujan. Membuat batu menjadi batu. Membuat kehilangan menjadi kehilangan. Ketika semua pengalaman harus melewati pos pemeriksaan teori sebelum memperoleh izin eksis, sastra perlahan kehilangan kontak dengan kenyataan.
Di sisi lain, muncul pula kecenderungan yang tidak kalah menarik: inflasi identitas simbolik. Setiap orang berusaha menemukan posisi yang paling sah untuk berbicara. Identitas menjadi modal budaya. Semakin spesifik identitas itu, semakin tinggi nilai tukarnya. Akibatnya banyak karya dibaca bukan berdasarkan kualitas estetiknya, melainkan berdasarkan posisi sosial penulisnya.
Pertanyaan “bagaimana karya ini bekerja?” perlahan digantikan oleh pertanyaan “siapa yang menulis karya ini?” Pertanyaan kedua tentu penting. Namun ketika ia menelan seluruh percakapan, sastra berubah menjadi sensus sosial dengan dekorasi puitik.
Sementara itu, para penyair muda masuk ke dalam arena dengan penuh harapan. Mereka membayangkan sebuah dunia yang dipenuhi percakapan tentang bahasa, bentuk, irama, dan imajinasi. Yang mereka temukan sering kali adalah tata kelola reputasi. Mereka belajar bahwa membangun jejaring jauh lebih cepat daripada membangun gaya bahasa. Mereka belajar bahwa menghadiri forum tertentu lebih terlihat dibandingkan membaca lima puluh buku secara serius. Mereka belajar bahwa menjadi terlihat kadang lebih menguntungkan daripada menjadi baik.
Pelajaran itu bekerja sangat efektif karena dunia digital menyukai visibilitas. Algoritma tidak dapat mengukur kualitas puisi. Algoritma hanya mengukur lalu lintas perhatian. Akibatnya banyak orang mulai menulis untuk sistem distribusi, bukan untuk bahasa. Mereka menyesuaikan diri dengan mekanisme perhatian yang berlaku. Mereka mempelajari cara tampil. Mereka mempelajari cara hadir. Mereka mempelajari cara menjadi topik. Bahasa perlahan menjadi departemen humas dari ego.
Dalam keadaan seperti itu kritik sastra juga mengalami perubahan fungsi. Kritik tidak lagi selalu berperan sebagai pengujian kualitas. Ia sering berubah menjadi layanan publik hubungan baik. Banyak ulasan ditulis seperti surat rekomendasi. Banyak diskusi berlangsung seperti upacara penyambutan. Banyak peluncuran buku menyerupai misa syukur.
Semua orang saling menghormati. Semua orang saling memuji. Semua orang saling mengutip. Semua orang saling mengukuhkan. Dan justru karena semua orang begitu baik, tidak ada yang benar-benar dibicarakan.
Di sini ironi mencapai bentuknya yang paling sempurna. Dunia yang mengaku mencintai kebebasan berpikir kadang menghasilkan ketakutan yang sangat halus terhadap penilaian yang jujur. Kritik dianggap gangguan sosial. Ketidaksetujuan dianggap masalah personal. Perdebatan dianggap ancaman terhadap harmoni. Akhirnya banyak orang memilih aman.
Kesusastraan yang sehat membutuhkan konflik intelektual. Yang sering tersedia hanyalah diplomasi kebudayaan. Semua tersenyum. Tidak semua membaca.
Yang paling tragis, diabolisme intelektual jarang disadari oleh pelakunya. Ia tidak muncul sebagai konspirasi. Ia muncul sebagai kebiasaan. Orang mulai percaya bahwa visibilitas adalah kualitas. Orang mulai percaya bahwa pengaruh adalah pencapaian. Orang mulai percaya bahwa jaringan adalah ukuran bakat. Orang mulai percaya bahwa posisi sosial dapat menggantikan kerja artistik. Padahal sejarah sastra bergerak dengan logika yang berbeda.
Waktu tidak tertarik pada jumlah seminar yang pernah dihadiri seorang penyair. Waktu tidak tertarik pada jumlah festival yang pernah memajang namanya. Waktu tidak tertarik pada jumlah foto dokumentasi yang berhasil dikumpulkan. Waktu hanya tertarik pada satu hal yang sangat sederhana dan sangat kejam: apakah bahasa itu masih hidup setelah semua keramaian selesai.
Di hadapan waktu, seluruh pasar prestise menjadi sangat kecil. Di hadapan waktu, seluruh birokrasi reputasi berubah menjadi arsip. Di hadapan waktu, seluruh pertukaran pengaruh kehilangan nilai tukarnya. Yang tersisa hanyalah karya.
Sebab tidak ada puisi besar yang bertahan karena kuratornya terkenal. Tidak ada novel besar yang hidup karena panitianya rajin. Tidak ada esai besar yang dikenang karena memperoleh sertifikat legitimasi yang tepat. Yang bertahan adalah energi bahasa yang berhasil menangkap sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Karena itu saya selalu percaya bahwa harapan sastra tidak pernah berada di pusat keramaian. Ia sering muncul di tempat-tempat yang tidak terlihat. Pada penyair yang masih meragukan setiap barisnya. Pada pembaca yang masih membaca tanpa kebutuhan membangun citra. Pada kritikus yang masih berani mengatakan bahwa karya tertentu gagal meskipun ditulis oleh tokoh terkenal. Pada editor yang masih lebih mencintai kalimat daripada pergaulan.
Mereka mungkin tidak memenangkan banyak penghargaan. Mereka mungkin tidak selalu hadir dalam festival. Mereka mungkin tidak memiliki pasukan digital. Mereka mungkin tidak menguasai mesin distribusi prestise. Namun dari tangan merekalah biasanya sastra memperoleh kesempatan untuk tetap waras.
BIODATA
Orze Rusfinda lahir tahun 1985 di RS Santo Carolus, Salemba, dan tumbuh menjadi penulis opini kebudayaan yang gemar membongkar hubungan aneh antara sastra, kultur pop, sinema, dan musik. Tulisannya sering bergerak dari puisi modern ke dangdut koplo, dari film arthouse ke komentar warganet, seolah semua fenomena budaya layak diperlakukan setara di meja bedah. Ia percaya kebudayaan Indonesia paling jujur justru muncul di ruang-ruang absurd keseharian: tongkrongan, media sosial, konser kecil, bioskop tua, sampai obrolan receh yang diam-diam lebih tajam daripada seminar akademik.










