DENPASAR, Balipolitika.com- Bank Indonesia bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mendorong percepatan transformasi digital di sektor ekonomi dan pariwisata melalui kegiatan Bali Digital Vision 2025 yang digelar di Mall Bali Galeria, Denpasar.
Acara bertema “Bali Pulau Digital untuk Meningkatkan Industri Kita” ini menjadi wadah kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat digitalisasi sistem pembayaran, ekonomi kreatif, serta pengembangan pariwisata digital di Indonesia.
Dorong Digitalisasi Inklusif
Dalam sambutannya, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta menegaskan bahwa transformasi digital harus membawa manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya bagi kelompok tertentu.
“Digitalisasi bukan sekadar soal teknologi, melainkan tentang bagaimana teknologi tersebut dapat mempermudah kehidupan masyarakat, memperluas akses, dan membuka peluang ekonomi baru yang lebih inklusif,” ujar Filianingsih.
Ia menjelaskan, sistem pembayaran nasional telah mengalami kemajuan pesat melalui implementasi QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) yang kini digunakan oleh lebih dari 58 juta pengguna dan 41 juta merchant di seluruh Indonesia.
“Dengan QRIS, kita tidak hanya menghubungkan transaksi antarindividu, tetapi juga antarnegara. Indonesia kini telah terhubung dengan Malaysia, Thailand, Singapura, dan Jepang. Kolaborasi lintas batas ini menandai peran Indonesia sebagai pelopor digitalisasi pembayaran di kawasan,” tambahnya.
Filianingsih juga mengingatkan pentingnya menjaga kepercayaan publik terhadap sistem digital.
“Kepercayaan adalah fondasi utama. Ia dibangun dalam waktu lama, tapi bisa hilang dalam sekejap jika kita abai terhadap keamanan dan edukasi digital,” tegasnya.
Ekonomi Kreatif Jadi Motor Pertumbuhan
Sementara itu, Deputi Bidang Transformasi Digital dan Inovasi Pariwisata Kemenparekraf, Muhammad Neil El Himam menyampaikan bahwa ekonomi kreatif kini menjadi pilar penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional.
“Ekonomi kreatif adalah wujud nilai tambah dari kekayaan intelektual yang bersumber dari budaya, ilmu pengetahuan, dan teknologi,” ujarnya.
Berdasarkan data Kemenparekraf, sektor ini telah menyumbang lebih dari Rp1.500 triliun terhadap PDB nasional, menyerap 26 juta tenaga kerja langsung, serta mencatatkan nilai ekspor produk kreatif sebesar US$25 miliar.
Dengan lebih dari 143 juta pengguna aktif media sosial, Neil menilai Indonesia memiliki kekuatan besar untuk mengembangkan industri konten digital yang mendukung promosi pariwisata dan produk lokal. Namun, ia juga menyoroti sejumlah tantangan seperti kesenjangan talenta digital, literasi digital rendah, keamanan siber, dan akses pembiayaan bagi pelaku kreatif.
“Kemenparekraf terus membangun ekosistem ekonomi kreatif berbasis kolaborasi hexa helix — melibatkan akademisi, pelaku usaha, komunitas, pemerintah, media, dan lembaga keuangan,” jelasnya.
Bali sebagai Pulau Digital
Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali, Erwin Suryadi, menambahkan bahwa Bali memiliki potensi kuat untuk menjadi model digitalisasi pariwisata nasional karena dukungan ekosistem budaya dan ekonomi kreatif yang telah berkembang.
Ia menyebutkan tiga inisiatif strategis BI Bali untuk memperkuat digitalisasi pariwisata, yaitu:
1. Integrasi sistem pembayaran digital di sektor pariwisata.
2. Penerbitan buku panduan wisata berbasis digital, hasil kolaborasi BI, PJP, dan pelaku industri.
3. Peluncuran layanan digital informasi pariwisata (travel pack) yang menggabungkan informasi, pembayaran, dan edukasi bagi wisatawan.
“Kami ingin menjadikan Bali sebagai destinasi ramah digital yang memudahkan wisatawan bertransaksi dan memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat lokal,” ujarnya.
Kolaborasi untuk Ekonomi Digital Indonesia
Melalui Bali Digital Vision 2025, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk memperkuat sistem pembayaran yang aman, efisien, dan inklusif, serta membangun ekonomi digital nasional yang berkelanjutan.
“Transformasi digital adalah perjalanan panjang. Ia hanya bisa berhasil bila ada kolaborasi, inovasi, dan kepercayaan bersama,” tutup Filianingsih Hendarta. (bp/ken)













