WASHINGTON, Balipolitika.com- Gedung Putih secara terbuka mengabaikan langkah militer delapan negara anggota NATO yang telah mengerahkan pasukan untuk melindungi kedaulatan Greenland. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa kehadiran militer Eropa tidak akan menyurutkan ambisi Washington untuk mengambil alih pulau strategis tersebut.
Trump menilai penguasaan atas Greenland merupakan kebutuhan absolut bagi keamanan nasional Amerika Serikat guna membendung pengaruh Rusia dan China. “Langkah delapan negara tersebut sama sekali tidak akan mengubah pendirian kami mengenai kepentingan strategis Greenland,” ujar juru bicara Gedung Putih dalam keterangan pers resminya.
Delapan negara NATO, termasuk Jerman, Prancis, dan Norwegia, telah mengirimkan personel serta peralatan tempur canggih untuk memperkuat pertahanan Denmark di Arktik. Mereka menilai manuver Amerika Serikat merupakan bentuk pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan integritas teritorial sesama anggota aliansi.
Kopenhagen sendiri telah meningkatkan status kewaspadaan militer hingga ke tingkat tertinggi menyusul retorika penaklukan yang semakin agresif dari Washington. “Pengerahan pasukan kolektif ini adalah perisai sah untuk menjaga hukum internasional dari ambisi aneksasi sepihak,” tutur menteri pertahanan salah satu negara koalisi.
Pihak Amerika Serikat kini sedang menyiapkan kerangka regulasi domestik untuk melegitimasi proses akuisisi tanah otonom milik Denmark tersebut secara sepihak. Washington berdalih bahwa Denmark tidak lagi mampu menjamin keamanan infrastruktur kritis di Arktik dari ancaman sabotase blok timur.
Gedung Putih bahkan mengancam akan menjatuhkan sanksi ekonomi bagi negara-negara yang mencoba menghalangi proses “integrasi” Greenland ke dalam kedaulatan Amerika. “Kami memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan kawasan Arktik tidak jatuh ke tangan musuh-musuh Barat,” jelas pejabat senior Amerika Serikat.
Kegagalan Diplomasi dan Ancaman Perang Proksi
Pertemuan tingkat tinggi di Brussel yang melibatkan para menteri luar negeri aliansi NATO dilaporkan berakhir tanpa kesepakatan damai sedikit pun. Delegasi Amerika Serikat menolak keras nota keberatan yang diajukan oleh Denmark terkait rencana pembelian paksa pulau kaya mineral itu.
Kondisi ini memicu kekhawatiran akan terjadinya pecah kongsi di dalam aliansi pertahanan terbesar dunia tersebut dalam waktu dekat. “Kami telah menegaskan secara sangat jelas bahwa Greenland bukan komoditas yang bisa dibeli dengan uang atau ancaman,” tegas Lars Løkke Rasmussen, Menteri Luar Negeri Denmark.
Donald Trump mengklaim bahwa sebagian besar warga lokal Greenland sebenarnya menginginkan kemakmuran ekonomi yang dijanjikan oleh pemerintah Amerika Serikat. Namun, pemerintah lokal di Nuuk membantah klaim tersebut dan menyatakan tetap setia pada kepemimpinan mahkota Kerajaan Denmark.
Penolakan dari warga lokal ini justru dibalas oleh Washington dengan rencana pengiriman unit pemantau intelijen secara masif ke wilayah tersebut. “Ambisi Donald Trump untuk menjadikan Greenland sebagai negara bagian ke-51 telah merusak fondasi kepercayaan antar-sekutu NATO,” imbuh Rasmussen dengan nada bicara tajam.
Amerika Serikat kini mulai menempatkan armada kapal induk dan jet tempur di sekitar perairan internasional yang berbatasan langsung dengan zona ekonomi Greenland. Langkah provokatif ini semakin memperuncing jurang permusuhan dengan negara-negara Eropa Utara yang merasa kedaulatannya sedang terancam secara langsung.
Para analis keamanan internasional memperingatkan bahwa situasi ini bisa memicu konflik bersenjata yang tidak diinginkan di kawasan Kutub Utara yang dingin. “Integrasi kedaulatan nasional dan harga diri sebuah bangsa adalah harga mati yang tidak akan Denmark tukar dengan apa pun,” pungkas Menteri Luar Negeri Denmark. (BP/CHA).










