BULELENG, Balipolitika.com- Tim psikolog dari UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Dinas Sosial Kabupaten Buleleng, memberikan pemulihan emosional serta jaminan rasa aman secara berkelanjutan kepada dua anak terduga pencurian ayam di Baturiti, Tabanan.
Aksi amuk massa itu, masih menyisakan duka mendalam dan trauma berat bagi keluarga yang ditinggalkan. Guna mencegah dampak buruk pada tumbuh kembang anak-anak korban, Tim Psikolog segera melakukan pendampingan tersebut.
Langkah ini difokuskan untuk mendampingi dua anak di bawah umur yang mendadak kehilangan sosok ayah usai insiden berdarah yang menyedot perhatian publik tersebut.
Psikolog UPTD PPA, Tasya Yumika, membeberkan bahwa fokus utama jajarannya saat ini bukan untuk menyematkan label diagnosis trauma tertentu, melainkan menjaga stabilitas kondisi mental anak agar mampu melewati fase duka sesuai tahapan usianya. Pihaknya enggan terburu-buru menyimpulkan tingkat trauma tanpa melalui proses evaluasi mendalam.
“Yang kami lakukan saat ini adalah asesmen dan pendampingan. Kami memastikan bagaimana anak mampu beradaptasi dengan kondisi baru yang sedang mereka hadapi,” tutur Tasya Yumika.
Tasya menekankan bahwa seluruh tahapan konseling dijalankan secara ketat berpatokan pada kode etik profesi dan prinsip perlindungan anak. Segala data pribadi korban dipastikan tertutup dari konsumsi publik demi membentengi hak-hak psikologis mereka.
Dari hasil penyisiran dan asesmen awal di lapangan, tim mendapati respons psikologis yang bertolak belakang antara kedua anak tersebut. Konselor Psikolog, Luh Putu Yuli Surya Dewi, menuturkan bahwa sang adik yang berumur lebih muda menunjukkan gejolak emosi yang sangat fluktuatif.
“Terkadang terlihat senang, tetapi pada saat tertentu muncul tangisan yang cukup kuat. Itu merupakan bagian dari proses emosional yang sedang dialaminya,” kata Yuli.
Sebaliknya, sang kakak yang sudah duduk di bangku sekolah dasar justru cenderung lebih irit bicara dan bersikap tenang. Kendati terlihat tegar di luar, Yuli membeberkan bahwa anak tertua tersebut menyimpan kecemasan mendalam terkait rutinitas harian yang biasa dilakoni bersama mendiang ayahnya, seperti momen dijemput saat pulang sekolah.
Selain guncangan akibat kepergian sang ayah, perhatian tim psikolog juga tertuju pada ancaman paparan media sosial. Pihak keluarga membeberkan bahwa sang anak sempat menyaksikan potongan rekaman video kekerasan yang menimpa ayahnya di jagat maya. Merespons temuan tersebut, Yuli mewanti-wanti pihak keluarga agar bertindak tegas membatasi akses gawai anak agar memori traumatik tidak terpicu berulang kali.
Tak hanya menyasar anak-anak, pendampingan emosional juga diberikan kepada istri korban. Pasca-insiden tragis tersebut, sang ibu yang selama ini menggantungkan hidup dari menganyam bambu mendadak harus memikul peran ganda sebagai tulang punggung tunggal keluarga.
Guna memulihkan ritme kehidupan korban, UPTD PPA Buleleng mengagendakan koordinasi khusus dengan pihak sekolah. Langkah ini diambil agar lingkungan sekolah siap menyambut kembali kehadiran sang anak tanpa stigma atau tekanan dari teman sebaya. Tim konselor bahkan menyiapkan skema jemput bola jika anak belum siap mendatangi kantor pelayanan.
“Trauma akibat kehilangan orang tua secara mendadak tentu ada. Yang menjadi fokus kami sekarang adalah memastikan kondisi emosional anak tetap aman sehingga mereka dapat tumbuh dan menjalani kehidupan dengan lebih baik ke depannya,” pungkas Yuli. (BP/CHA).












