AKU TAK INGIN MENGGENGGAM TANGAN BUDDHA
Aku tak ingin menggenggam tangan Buddha
Aku musafir di kota kemarau
tempat doa menggumpal jadi jelaga
Aku duduk di bawah pohon randu
yang tumbuh dari sumsum tulangku
daunnya berbisikkan nama-nama
yang dulu kusebut Tuhan,
dan tiap gugurnya
sepotong dunia runtuh dan membisu
Aku tak ingin menggenggam tangan Buddha
Aku ingin mabuk oleh suka duka dunia
hingga bayangan tersesat di tubuhku
hingga jurang gelap melahapku
hingga debu jalanan menetap di paru-paru
dan asap peradaban
mengendap seperti vonis ajal
Di lembah yang tak tercatat peta
kutemukan tubuhku menggigil
dipeluk angin malam yang asin
Kupanggil ia: kekosongan
Kupanggil lagi: hatiku sendiri
Aku tak ingin mengikuti jejak langkah Buddha
aku hanya ingin mendengar
langkahku pecah di aspal
terserak di antara debu
di bawah kabel-kabel dan deru mesin
yang terus meraung
Aku tak ingin meraih nirwana
Dan biar ku jadi batu kecil
di jalan peziarah
atau sekrup berkarat
yang menahan roda zaman
atau buih lautan
yang sebentar berkilau,
lalu hilang
2025
SULUK GAZA
Bismillahirrahmannirrahim
Segala yang patah
Segala yang tercecer di udara
Segala yang jatuh dan tercerabut
Kami sebut namaMu
Dengan lidah hangus,
Kami panggil namaMu yang suci
Dengan dada yang dilubangi peluru
Ya Nur,
Di manakah cahayaMu bersembunyi?
Di antara debu?
Di dalam jerit bayi yang tertimbun?
Atau di mata langit yang memunggungi bumi?
Tiap batu bersaksi,
Tiap tembok meratap,
Tiap tubuh jadi halaman kitab yang koyak
Kami sujud di atas beling,
Kami rukuk di bawah sirene,
Kami berseru ke segala arah
Karena semua arah telah jadi kuburan
Ya Rahman, Ya Rahim
Ya Rahman, Ya Rahim
Ya Rahman, Ya Rahim
Kami memanggilMu dari pori-pori luka
Dari nafas yang direnggut oleh mesin
Kami membersihkan diri dengan debu
Kami menyeka wajah dengan air mata
Kami menempuh suluk
Dalam lumpur merah
Setiap langkah adalah ayat
Setiap nafas adalah zikir yang terbata
Setiap denyut adalah wirid yang letih
Kau yang cuma membisu
Kau yang tak berwajah
Izinkan kami jadi suaraMu yang parau
Izinkan kami jadi bayanganMu yang muram
Angin melantunkan azan dari puing
Dan Simurgh berputar-putar di atas masjid
Di antara tulang dan besi
Ada taman kecil
Di mana kata-kata tumbuh
Tanpa tanah
Tanpa air hujan
Di kitabMu, halaman-halamannya hangus
Ayat-ayat kehilangan hurufnya
Huruf-huruf kehilangan nada
Kami mencariMu dalam badai pasir
Kami mencariMu di oase
Dalam malam-malam panjang dan dingin
Ya Haq,
Jika Kau masih di sini
Turunlah, bukan sebagai cahaya
Tapi sebagai lagu penghibur neraka dunia
Kami berseru tanpa suara
Kami berzikir tanpa lidah
Kami menyebut namaMu
Dengan denyut terakhir nadi
La illaha illalah
La illaha illalah
La illaha illalah
Dan malam mengatup seperti kelopak kata
Yang tak sempat mekar
Ketika semua nama padam
Ketika semua gema jadi kabut
Kami tahu:
Kau bukan di atas, bukan di bawah,
Kau adalah yang tersisa
Dalam bayangan gadis kecil
Yang memeluk boneka tanpa kepala
La illaha illaallah
La illaha illaallah
La illaha
2025
LITANI TEROWONGAN
ampunilah kami
ampunilah kami
yang merangkak dengan mata buta
yang menggenggam abu
meminum neon sekarat
ampunilah kami
yang kehilangan kiblat
menjadikan luka sebagai kompas
dan darah jadi bahasa terakhir
ampunilah kami
yang berlindung pada Sang Kali
di gang-gang berasap
di gereja hangus
di masjid tanpa cinta
di pura yang dingin
ampunilah kami
yang mencintai sesama jenis
yang berbicara dengan roh-roh
yang mencari-Mu
di rumah bordil dan asap tembakau
di kuburan anjing liar
ampunilah kami
yang tak sanggup menyebut nama-Mu
tanpa retak
yang hanya melihat wajah-Mu
di kawat berduri
di sirene ambulans
ampunilah kami
yang berdiang dalam goa gelap
sementara matahari memaku mata
ampunilah kami
yang tetap bernyanyi
yang terus bernyanyi
meski bibir dijahit
meski jantung dipasak
ampunilah kami
yang membangun rumah
di liang jiwa
ampunilah kami
amin
2026
ZIKIR KAUM LAPAR
kami lapar, ya Rabb
bukan lapar pesta prasmanan
bukan lapar remah-remah di meja istana
kami lapar akan keadilan
yang tak turun dari langit
dan tak tumbuh di ladang para raja
kami lapar
seperti bumi retak menunggu hujan
seperti dada kosong menunggu pelukan
seperti neraka menunggu nama-nama besar
kami menyebut nama-Mu
dengan lidah kering
di antara dengung lalat
dan bau keringat yang menguning
di kasur-kasur lapuk
yang tak pernah disinggahi kabar baik
Ya Allah,
jika Kau sungguh Maha Hadir,
mengapa pencuri berpesta
di meja yang dipahat dari tulang kami?
mengapa darah kami mengering
jadi tinta pidato mereka?
Kau bilang bersemayam di segala
maka kami mencari-Mu
di kerak nasi basi
di lem aibon yang dihirup anak jalanan
di selokan yang menampung mimpi
yang dibuang pemilik istana
jika Kau sungguh Maha Cinta,
izinkan kami mencintai-Mu
dengan rahang gemetar
dengan amarah yang tak punya alamat
pada mereka
yang menyebut nama-Mu
sambil menandatangani kontrak kematian
kami tak ingin janji surga
yang penuh buah segar dan bidadari
kami ingin perut kami berhenti bernyanyi
kami ingin melahap
nasi, bukan sesama
Ya Allah,
biarkan doa kami tajam
seperti cahaya yang membelah topeng
biarkan tangis kami berat
seperti batu di jantung kota
dan jika Kau tinggal dalam kami,
bangkitlah
dari tubuh kami yang bernanah
dari perut kami yang kosong
karena Kau bukan hanya Tuhan langit
Kau Tuhan yang duduk di emperan
yang kedinginan di kolong jembatan
yang digusur bersama tanahnya
kami tidak berdoa
kami menjerit
kami melolong
sebab doa kami tak naik
ia merayap
di perut bumi
mencari-Mu
di perut kami
yang kosong
Ubud, 2026
DI BAWAH MATAHARI BALI
Di antara semen, debu, dan keringat
seorang nenek menakar hidup dengan ember dan sekop
kulitnya pecah-pecah
seperti dinding pura
digerus musim dan nasib
Di sudut lain,
seorang gadis berhenti di kelas delapan
menatap laut
yang tak lagi menyimpan ikan
hanya hotel dan lampu-lampu
Ayahnya dulu nelayan
kini bersiul sumbang
menjaga parkiran
di trotoar Kuta
Ibunya menenun upacara
bukan untuk dewa
tapi untuk paket wisata
dari pagi sampai gelap
dengan tangan bau bunga dan utang
dupa terbakar
asapnya tipis
Matahari terus membakar
menggantung seperti paku merah
di pelipis Pura Dalem
dan tak ada yang bisa lari dari cahayanya
Ubud, 2026
BIODATA
Aria Maulana Santi. Beberapa karya puisinya dimuat di media online Bali Politika dan KBA News. Tergabung dalam antologi puisi Empat Belas Purnama, Semesta Ingatan: Trauma dan Imaji Kebebasan, dan Indonesia Satu Untuk Semua.













