SEJARAH mencatat bahwa para nabi dan wali sering kali menggunakan aneka wahana untuk menyiarkan wahyu Tuhan. Ajaran kebaikan itu diceritakan lewat musik atau tarian, bahkan direka ulang melalui seni drama atau jenis pertunjukan lainnya. Dengan demikian, semua kalangan dengan beragam usia, tingkat pendidikan, maupun golongan mampu mencerna dengan lebih mudah bagaimana kebenaran dan kebaikan semestinya dijalankan.
Pun demikian dengan puisi. Puisi bisa memiliki sangat banyak makna, tergantung pada persepsi serta pengalaman pembacanya. Puisi Aku Ingin karya maestro Sapardi Djoko Damono dapat hadir dengan pemaknaan yang sangat berbeda, bergantung pada rasa dan nuansa yang menyentuh si pembaca. Puisi ini bisa merupakan bentuk penyerahan yang menyeluruh kepada Tuhan, atau bentuk cinta yang manusiawi. Ketika puisi dibawakan melalui berbagai wahana—entah dalam bentuk pembacaan, deklamasi, teatrikal puisi, maupun musikalisasi—ia menjadi bentuk alih kreasi tanpa meninggalkan tafsiran makna puisi itu sendiri.
Dengan demikian, ketika menyimak pertunjukan musik puisi, musikalisasi puisi, atau pembacaan puisi yang diiringi musik, maka Rasa—menurut pandangan subjektif saya—menjadi hal mendasar untuk menilai apakah pertunjukan itu bagus, cukup bagus, atau luar biasa bagus. Meskipun “Rasa” merupakan sesuatu yang sangat pribadi dan bergantung pada selera, untuk memberi “standar” sebuah pertunjukan itu bagus atau tidak, saya kira ukurannya hampir sama, yaitu apakah pertunjukan tersebut mampu menyentuh hati penyimaknya.
Sebagai dua dimensi yang sama-sama universal, bahasa (unsur pembentuk puisi) dan musik sangat serasi disandingkan menjadi satu pertunjukan yang dapat dinikmati siapa saja. Karena itu, ketika menjadi penikmat musikalisasi puisi dalam lomba yang digelar dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali beberapa waktu lalu, penulis merasa seolah menjadi tokoh dalam puisi yang dilantunkan dengan harmoni musik yang indah dan padu padan.
Salah satu komunitas yang menjadi perhatian penulis adalah SBDA (Senang Bertemu Dengan Anda). Kelompok seni yang terdiri atas Hendika Permana, Mahendra Wijaya, Ngurah Wisnu, Jaya Wintara, Gita Raditya, Jaya Purnatha, Agung Julyana, Putra Sanjaya, Kamillo Yulisukma, dan Joni AW membawakan dua puisi, yaitu Lawat karya Ida Bagus Pawanasuta serta Patapan I Kedis karya Nyoman Tusthi Eddy.
Jika menggunakan pendekatan stilistika untuk mencermati puisi yang ditampilkan kelompok ini, maka—sekali lagi, ini merupakan pendapat subjektif penulis—potret kehidupan yang dinarasikan dalam puisi berhasil dialihkreasikan menjadi pertunjukan musikalisasi puisi yang mampu menyentuh rasa dengan nuansa yang mengharukan. Dalam puisi Lawat, bayang-bayang absurditas manusia yang semakin teralienasi dalam degup hidup yang hiruk-pikuk sering kali terasa nyata. Bayang-bayang pencapaian yang identik dengan kuasa dan jabatan kerap dipenuhi kebobrokan dan sikap bodoh yang apatis, membuat banyak orang terjerumus pada citra dunia maya yang penuh polesan palsu. Bukankah ini merupakan fenomena yang menyedihkan, ketika pencitraan terhadap keberhasilan dan pencapaian menjadi sesuatu yang sangat superfisial?
Pun dalam puisi Patapan I Kedis, suasana kontemplatif diceritakan dengan halus dan penuh kedalaman. Hidup yang dinarasikan dalam puisi -menurut pandangan penulis- adalah perjalanan menuntaskan karma. Semua godaan, cobaan, tantangan bahkan harapan dan impian semata-mata untuk mengingatkan manusia bahwa kehidupan di dunia adalah untuk membayar hutang karma. Sayangnya, seringkali hal ini disadari setelah manusia di ambang ajalnya.
Suasana yang mengharu biru itu ditangkap dengan sangat baik dalam penampilan musikalisasi puisi oleh kelompok ini. Perpaduan alat musik modern dan tradisional dengan harmoni yang dihasilkan menghadirkan nuansa yang sama seperti yang penulis rasakan ketika membaca puisinya langsung.
Meski ada beberapa kendala teknis yang penulis rasakan terkait sistem suara, keutuhan penampilan tidak terganggu. Namun, di masa mendatang, persoalan teknis tentu patut menjadi perhatian, tidak hanya bagi panitia acara, tetapi juga bagi peserta lomba secara keseluruhan.
Akhirnya, penampilan yang baik bukan semata-mata yang meraih juara, melainkan—yang lebih mendasar—mampukah penampilan itu menjadi wahana untuk menarasikan rasa dalam sastra.
*penulis menetap di Denpasar, Bali.













