KARANGASEM, Balipolitika.com– Digempur beragam jenis minuman modern, I Nyoman Wardika (49 tahun) dan istrinya Ni Made Wartini (48 tahun) tetap setia melestarikan usaha warisan keluarga selama puluhan tahun di Pasar Amlapura, Karangasem.
Berkat ketekunan dan kerja keras pria asal Banjar Kodok, Desa Abyantiing, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem, usaha jamu itu mampu mengantarkan dua putrinya menempuh pendidikan hinga ke perguruan tinggi.
Dirintis oleh almarhum ayahnya, I Nyoman Daging sejak tahun 1986, I Nyoman Wardika melanjutkan tongkat estafet bisnis jamu tersebut sejak tahun 2000.
Sudah 40 tahun I Nyoman Wardika menjual jamu kunyit dan loloh kayumanis di lokasi yang sama, yakni di Pasar Amlapura, tepatnya di depan Bank Rakyat Indonesia (BRI).
“Usaha ini pertama kali dijalankan itu sama orang tua saya. Saya meneruskan usaha jamu ini karena memang sudah menjadi warisan dari keluarga,” ujarnya.
I Nyoman Wardika mengaku keputusan untuk meneruskan usaha jamu rintisan sang ayah bukan tanpa alasan.
Dengan latar belakang pendidikan hingga tingkat SMP, ia mengaku tidak memiliki banyak pilihan pekerjaan selain melanjutkan usaha yang telah dibangun keluarganya selama bertahun-tahun.
Walau terbilang bisnis sederhana, perjalanan I Nyoman Wardika berjualan jamu tidak selalu berjalan mulus.
Ia kerap menghadapi berbagai tantangan, terutama saat musim hujan dan hari raya.
Kondisi tersebut sering membuat jumlah pembeli menurun sehingga pendapatan pun otomatis berkurang.
”Ya kalau musim hujan dan hari raya pendapatan sehari itu kita-kira hanya Rp350 ribu saja tapi kalau tidak hujan dan hari raya yang tidak begitu besar ya bisalah sekitar Rp500 ribuan kadang bisa lebih, belum lagi nanti untuk modal bahan pokoknya untuk uang dapur bekal anak-anak. Jadi per bulan dan per hari itu tidak menentu berapa penghasilan karena pengeluaran perhari saja sudah lumayan,” ujar I Nyoman Wardika.
Dalam menjalankan usahanya sehari-hari, ia dibantu oleh sang istri. Keduanya bekerja sama demi memenuhi kebutuhan keluarga dan memastikan usaha tetap berjalan.
“Yang bantu saya berjualan di pasar istri saya. Kami berusaha bersama untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” katanya.
Hasil dari berjualan jamu selama puluhan tahun itu akhirnya membuahkan hasil yang membanggakan.
Dua putrinya berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Putri pertamanya yang bernama Ni Luh Wahyuni Dewi mulai kuliah pada tahun 2022, sedangkan putri keduanya bernama Ni Kadek Sintia Pratiwi menyusul pada tahun 2024.
Keduanya menempuh pendidikan di Fakultas Bahasa dan Seni, Program Studi S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Ganesha.
Terakhir, anak bungsunya I Nyoman Agus Wahyu Pertama masih menempuh sekolah di jenjang SMP.
Menurutnya, menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi merupakan impian yang selalu ia perjuangkan. Ia ingin anak-anaknya memiliki masa depan yang lebih baik dan kesempatan yang lebih luas dibanding dirinya.
“Saya ingin anak-anak menjadi orang sukses dan tidak dipandang sebelah mata hanya karena berasal dari keluarga pedagang jamu. Saya juga tidak ingin mereka mengalami keterbatasan seperti saya yang hanya tamat sekolah,” ungkapnya.
Ia mengaku sangat bangga saat melihat kedua putrinya diterima di perguruan tinggi. Baginya, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa kerja keras dan ketekunan selama bertahun-tahun tidak sia-sia.
“Saya sangat senang dan bangga bisa melihat dua putri saya masuk perguruan tinggi,” tuturnya.
Meski berasal dari keluarga pedagang jamu, ketiga anaknya tidak pernah merasa malu dengan pekerjaan orang tua mereka.
Justru mereka mendukung usaha keluarga yang telah menghidupi dan membiayai pendidikan mereka hingga saat ini.
Ke depannya, ia berharap usaha jamu yang diwariskan keluarganya dapat terus bertahan dan berkembang.
Ia ingin usaha tersebut tetap menjadi sumber penghidupan keluarga sekaligus warisan yang dapat dilestarikan di tengah perkembangan zaman.
“Semoga usaha ini terus berjalan lancar dan bisa dikembangkan menjadi lebih baik lagi,” harapnya. (bp/Ni Kadek Sintia Pratiwi/4B/Basindo/Undiksha)










