DENPASAR, Balipolitika.com– Tak cuma hadir untuk melantik dan mengukuhkan Pengurus Provinsi Keluarga Olahraga Tarung Derajat (Pengprov Kodrat) Provinsi Bali Masa Bakti 2025-2029, Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Kodrat, Dr. H. Bambang Soesatyo, S.E., M.B.A. juga menunjukkan kepedulian nyata terhadap kondisi bangsa saat berpidato di Aula Sewaka Mahottama, lantai 3 Gedung Graha Sewaka Dharma (GSD), Lumintang, Denpasar, Minggu, 31 Mei 2026.
Di hadapan Ketua DPRD Provinsi Bali, I Dewa Made Mahayadnya yang turut dikukuhkan sebagai dewan pembina, Wakil Ketua DPRD Provinsi Bali, Komang Nova Sewi Putra, tokoh masyarakat I Gusti Ngurah Anom atau akrab disapa Ajik Krisna, Sekretaris KONI Bali, Ardy Ganggas, Sang Guru Badai Meganagara Drajad, Pengurus Kodrat Provinsi Bali, Pengurus Cabang Kodrat se-Bali, serta undangan penting lainnya, Bamsoet menguraikan kondisi “berbahaya” yang dihadapi masyarakat Indonesia di lapangan.
“Saya ingatkan kepada saudara-saudara, kita akan menghadapi semacam situasi sosial yang harus kita antisipasi. Akibat situasi global dan kondisi ekonomi kita, OJK mengumumkan kemarin (Sabtu, 30 Mei 2026, red), pinjaman online (pinjol) sudah melampaui Rp110 triliun. 40 persennya adalah peminjam-peminjam baru. Artinya apa? Ini menunjukkan indikasi bahwa rakyat kita sebagian sudah terdesak secara ekonomi,” ucap Bamsoet.
“Pabrik, perusahaan tempatnya bekerja, tutup karena bahan baku impor mahal. Biaya produksi mahal karena solar dan BBM semakin naik dan daya beli masyarakat turun, sehingga banyak perusahaan atau pabrik yang tidak sanggup berproduksi lagi. Nah efeknya apa? Untuk bertahan hidup, maka sebagian dari masyarakat kita terpaksa pinjam ke pinjol,” imbuhnya.
Kondisi ini digarisbawahi Bamsoet akan menunjukkan dampak nyata dua hingga tiga bulan ke depan sehingga setiap masyarakat Indonesia harus melakukan antisipasi sejak dini dari kemungkinan buruk yang berpeluang terjadi.
“Dampak sosial akan terjadi 2-3 bulan ke depan. Akan ada riak-riak. Depkolektor mendatangi saudara-saudara kita yang pinjam,” ungkap Bamsoet.
Merespons kondisi itu, Bamsoet mengingatkan bahwa setiap individu harus memperkuat pengendalian diri agar tidak salah dalam mengambil keputusan.
“Karena pesan Sang Guru bahwa bela diri yang diciptakan oleh Beliau bukan untuk menyerang, tapi untuk bertahan, membela harkat, martabat, harta benda kita, rakyat, atau masyarakat yang tertindas,” tegas Bamsoet yang saat ini juga mengemban amanah sebagai Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa olahraga bela diri tarung derajat memiliki peran strategis dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa di tengah meningkatnya tantangan sosial, polarisasi politik, penyebaran hoaks, hingga menguatnya konflik identitas di ruang digital.
Dalam situasi yang dikhawatirkan membuat masyarakat semakin mudah terbelah ke dalam kelompok-kelompok yang saling berhadapan, terang Bamsoet Indonesia membutuhkan lebih banyak ruang pemersatu yang mampu mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang dalam semangat kebangsaan sama; salah satunya tarung derajat.
“Tarung derajat mengajarkan disiplin, solidaritas, loyalitas, dan rasa hormat antar sesama. Nilai-nilai seperti inilah yang saat ini sangat dibutuhkan Indonesia untuk memperkuat persatuan nasional di tengah berbagai tantangan yang berpotensi memecah belah masyarakat,” tegas Bamsoet.
Lebih lanjut, Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini menjelaskan bahwa tarung derajat lahir sebagai olahraga bela diri asli Indonesia yang dibangun di atas filosofi ketangguhan fisik, kekuatan mental, keberanian, keuletan, dan pengendalian diri.
“Di tengah persaingan global yang semakin ketat akibat perkembangan kecerdasan buatan, otomatisasi industri, serta perubahan geopolitik dunia, Indonesia memerlukan generasi yang tangguh secara mental sekaligus memiliki rasa kebangsaan yang kuat,” tutupnya. (bp/ken)













