“Coba kau bayangkan Sulaiman, kau bercumbu mesra dengan Mirna di kamarmu yang redup itu. Kau mencium keningnya penuh birahi, lalu kau dan dia melakukan hubungan layaknya suami istri,” kata-kata menjijikkan itu meluncur sepuluh tahun yang lalu dari mulut seorang tua yang suka ngerocos. Sulaiman tidak pernah lupa dengan kata-kata itu.
“Apa maksudmu berkata begitu, hai orang tua? Bagaimana mungkin aku melakukan perbuatan sekeji itu, bersetubuh dengan putri kandungku sendiri.”
Sulaiman meludah ke tanah, membayangkan wajah orang tua itu yang ia ludahi. Mereka yang perang mulut hampir berkelahi.
“Kau ini orang tua gila. Sekali lagi kau mengatakan itu, tak segan-segan aku membunuhmu.” Sulaiman yang geram memandang orang tua itu tajam bermaksud menantang.
Orang tua itu terkekeh-kekeh, tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun, apa lagi merasa bersalah dengan ucapannya. Sulaiman merasa terhina di depannya.
“Sudah kuduga, kau yang beriman pasti menganggap perbuatan itu kelakuan kotor yang bisa mengundang murka Tuhan. Bagaimana dengan mereka yang tidak berTuhan, atau mengaku ada Tuhan tapi sesat dalam pemahaman. He……he…..he…..”
Sulaiman masih terdiam.
“Kau harus tahu Sulaiman, suatu saat nanti kelakuan memalukan seperti itu sudah dianggap biasa oleh penduduk kampung ini, bahkan sesama jenis banyak yang melakukan hubungan intim. Ada yang lebih parah dari itu, kau tunggu saja waktunya,” kemudian orang tua itu terkekeh lagi, dan pergi meninggalkan Sulaiman yang jengkel dengan jalan terbungkuk-bungkuk.
Sejak orang tua itu berkata seperti itu, dan Sulaiman menganggapnya suatu penghinaan untuknya, membuat ia yang takut naik darah tak pernah menemui orang tua itu lagi, sama-sama mengobrol tentang apa saja seperti yang sering mereka lakukan di teras rumah orang tua itu.
Bahkan waktu orang tua itu sakit parah, sengaja Sulaiman tak menjenguknya untuk menunjukkan rasa benci. Walaupun seseorang sudah datang ke rumah meminta agar ia segera datang, karena orang tua itu sakitnya bertambah parah, Sulaiman tak menggubris. Ia menganggap orang tua itu sudah jadi musuh bebuyutan setelah pertemuan mereka yang terakhir itu. Orang-orang yang tak tahu persoalan mereka, menyebut Sulaiman orang sombong.
“Kalau kau masih berniat ingin bertemu terakhir kalinya dengan Pak Lisman temanmu itu, sekaranglah saatnya,” saran seseorang yang baru datang lagi menemui Sulaiman.
Sulaiman tetap dalam pendiriannya, tak menengoknya sampai Lisman menghembuskan napas terakhirnya. Ia juga sengaja tidak ikut menyolatkan jenazah Lisman, apalagi sampai beriring-iringan dengan orang-orang itu ke kuburan. Tapi kata-kata orang tua yang menyerupai sabda itu, terjadi saat ini, ucapnya dalam hati yang menyesal, karena pernah mengabaikan orang tua itu. Sekarang Sulaiman yang hidup di tahun 2040 menemukan kebenaran dalam kata-kata orang tua itu. Tahun 2040 tahun yang mengerikan, dunia penuh kebebasan.
Ayah yang melakukan hubungan intim dengan anak kandung sendiri, sudah jadi berita yang betebaran di kampung itu, sampai dianggap biasa seolah bukan suatu dosa. Laki-laki dan perempuan juga bercumbu sesama jenis. Belakangan ini ada yang membuat tradisi baru untuk orang-orang yang baru menikah. Ketika melakukan hubungan pertama kali, pengantin baru itu diharuskan melakukannya di depan orang banyak, mereka yang telanjang bulat jadi tontonan warga. Kampung halaman Sulaiman benar-benar kacau, dan tak seorang pun yang berani teriak-teriak melarang karena pasti dapat ancaman, termasuk dirinya.
Jika kau melihat kemungkaran, dan kau tak bisa melarangnya dengan mulut dan tanganmu, maka bencilah perbuatan itu, itulah selemah-lemah iman. Sabda itu tiba-tiba muncul dalam kepalanya, mengalir ke sekejur tubuhnya. Ia sudah bisa menyimpulkan, apa yang harus ia perbuat. Ia dan keluarga harus bisa meninggalkan kampung terkutuk itu sebelum benar-benar ditenggelamkan Tuhan dengan cara-Nya yang praktis.
* * *
Istri Sulaiman berlari-lari kecil mengejar anak perempuannya yang masih berusia 5 tahun. Ia memegang erat-erat mainannya, sebuah boneka perempuan berambut panjang warna kuning. Istri Sulaiman seolah-olah ingin merampasnya dari tangan anak itu, dan ia terus berlari, sambil teriak-teriak. Mereka yang lagi asik bermain di dekat taman dipanggil Sulaiman. Ia suruh istrinya duduk dekat dari bibir pintu, sementara anak mereka yang masih kecil itu meronta-ronta menarik-narik tangan ibunya mengajak bermain lagi. Ia yang bercucuran keringat belum kecapean. Sulaiman menggendongnya. Anak itu melonjak-lonjak di atas pangkuannya, dan akhirnya ia melepas anak itu membiarkannya bermain sendirian.
“Sepertinya kampung ini sudah tidak cocok untuk kita, dan anak-anak kita sebagai penerus bangsa nanti.” Wajah Sulaiman menampakkan keseriusan. Napas istrinya masih terengah-engah kecapean, walaupun ia tidak berkeringat seperti putrinya.
“Biarkan saja mereka menempuh hidupnya sendiri. Bagaimana dunia yang sesungguhnya mereka belum tahu. Mereka belajar nanti dari pengalaman sendiri. Tugas kita cukup mengarahkan mereka pada jalan kebaikan. Mereka setuju atau tidak, itu sudah di luar tanggung jawab kita sebagai orang tua.” Sulaiman terkejut mendengar jawaban istrinya yang melawan. Selama ini perempuan itu begitu penurut apa kata suaminya. Ada apa dengan istriku? Ia mengetuk hatinya.
“Jadi kau tidak sependapat denganku?”
“Ini bukan masalah pendapat. Tapi aku berprinsip tidak sepertimu.”
“Kau tidak hawatir nasib anak-anak kita sebagai penerus bangsa, jika tinggal di tempat terkutuk seperti ini.”
“Siapa juga orang tua yang tidak khawatir tentang nasib anak-anaknya. Mereka yang tinggal di negeri yang damai saja masih ketakutan.”
“Nah, kau tahu itu. Bagaimana kalau mereka tinggal di tempat yang tidak damai seperti ini.”
“Kalau mereka punya prinsip, mereka tidak akan goyah.” Istri Sulaiman yang sudah tahu dengan kebobrokan kampung itu tidak mau mengikuti jejak suaminya.
“Kalau kau tidak mau aku akan pergi sendiri membawa mereka. Tinggal kau sendirian di rumah ini,” Sulaiman mengancamnya.
“Tidak masalah kalau anak-anak mau kau bujuk. Tapi aku rasa……” ia tak melanjutkan pernyataannya. Baru kali itu istrinya menunjukkan keberaniannya di depan Sulaiman sebagai suami, sebelumnya ia tak pernah melawan.
“Apa yang kau rasa?”
“Aku rasa mereka tidak mau, apalagi Mirna, putri kita yang paling besar.”
* * *
Dua hari setelah persilihan itu, Sulaiman ajak anak-anak meninggalkan kampung. Ia bujuk dengan cara baik-baik, anak- anaknya menolak. Lalu ia lakukan dengan cara kekerasan, sampai ia terpakasa memukul mereka, tetap mereka tidak mau.
“Sepertinya ibunya sudah duluan meracuni pikiran mereka. Aku semakin curiga dengan istriku, pasti ada sesuatu yang terjadi dengannya,” ia bicara pada dirinya sendiri.
Untuk menenangkan pikiran, Sulaiman pergi ke kebun sawitnya, berteduh di sebuah pondok kecil, sampai ia tertidur pulas. Begitu ia terbangun hujan deras turun. Lama ia menunggu sampai menjelang makrib. Ia yang tak membawa persiapan, akhirnya pulang tanpa membawa payung.
Sesampai di rumah ia mengetuk-ngetuk pintu, memanggil-manggil anaknya, tak ada yang menyahut. Ia lewat pintu yang satu lagi, tak dikunci. Ia menerobos masuk memebawa tubuhnya yang basah mengambil handuk, hujan semakin deras. Ia tak menemukan juga satu pun dari anaknya. Ia pikir sedang di rumah neneknya, yang tak jauh jaraknya dari rumah mereka. Lalu ia bergegas masuk dalam kamar, tak menemukan istrinya.
Tiba-tiba ia mendengar suara desahan berasal dari kamar tamu. Ia intip ke dalam lewat jendelanya yang renggang. Ia melihat istrinya lagi selingkuh dengan seseorang. Ia langsung mendobrak pintu itu sampai rusak. Ia ingin tahu siap selingkuhan istrinya. Ternyata istrinya bermain dengan perempuan jelita berambut pendek. Wajahnya yang merah menampakkan kemarahan. Kalau saja istrinya selingkuh dengan laki-laki, ia pasti menghabisi laki-laki itu sampai mati di tempat. Ia mendesah kesal, tak tahu apa yang harus ia lakukan.
Beberapa detik kemudian, ia menampar keras kedua wanita itu dengan tangannya yang kekar. Lalu ia seret-seret kedua perempuan itu ke luar, yang belum sempurna pakaiannya menutup aurat. Ia suruh kedua perempuan itu pergi, dan ia bilang pada isrtrinya tak usah kembali lagi.
“Ternyata istriku seorang lesbi,” pekiknya dalam hati yang gundah.
BIODATA
Depri Ajopan, lahir di Desa Lubuk Gobing, Sumatera Barat, 7 Desember 1989. Lulus program S1 Universitas Negeri Padang Prodi Sastra Indonesia. Karya-karyanya dimuat di berbagai media massa lokal dan nasional. Ia bergiat sebagai anggota Komunitas Suku Seni Riau dan mengajar di Pesantren Basma Darul Ilmi Wassa’dah, Kepenuhan Barat Mulya, Rokan Hulu, Riau.













