JAKARTA, Balipolitika.com– Bongkar bongkaran Menkeu Purbaya. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap perbandingan yang menarik dalam pertemuan dengan DPR. Ia memaparkan data pertumbuhan ekonomi Indonesia di dua periode kepemimpinan yang berbeda.
Pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pertumbuhan ekonomi rata-rata berada di angka 6 persen. Angka ini secara signifikan lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan di era Presiden Joko Widodo yang hanya sedikit di bawah 5 persen.
“Faktanya, pertumbuhan ekonomi era SBY tembus 6%. Sementara era Jokowi mentok di 5%,” kata Purbaya dilansir dari analisa channel Bennix di kanal youtubenya, mengutip pernyataan Menkeu Purbaya,
Analisis ini memicu pertanyaan besar di kalangan pebisnis dan masyarakat. Mengapa mencari uang dan berekspansi terasa jauh lebih sulit dalam beberapa tahun terakhir?
Purbaya menegaskan, kebijakan moneter tidak bisa hanya dilihat dari suku bunga. Analisisnya mendalam, ia menyoroti laju pertumbuhan uang primer atau base money. Konsep ini adalah kunci untuk memahami perputaran ekonomi. Purbaya mengambil contoh dari sejarah ekonomi dunia, seperti krisis Amerika tahun 1930-an dan stagnasi di Jepang. Kedua negara itu mengalami stagnasi meskipun bank sentral mereka menerapkan suku bunga nol persen.
“Ekonomi bisa stagnan meskipun suku bunga nol persen. Karena uang tidak beredar dalam sistem,” tuturnya.
Purbaya mengatakan bahwa peredaran uang, atau yang dikenal sebagai velocity of money, memiliki peran krusial.
Pelajaran dari Krisis Moneter 1998
Purbaya juga menyoroti kesalahan kebijakan moneter di masa lalu. Ia menyebutkan krisis 1997-1998 sebagai contoh kasus yang fatal. Saat itu, Bank Indonesia menaikkan suku bunga hingga 60% lebih. Tujuannya untuk menjaga nilai tukar Rupiah. Namun, pada saat yang sama, mereka mencetak uang primer hingga 100%.
“Kebijakan yang kacau balau menghancurkan sektor riil. Uang malah dipakai untuk menyerang nilai tukar rupiah,” jelas Purbaya, Menteri Keuangan. Kombinasi kebijakan yang kontradiktif ini menimbulkan kehancuran ekonomi yang mendalam.
Mengapa SBY Unggul dan Jokowi Tertinggal?
Purbaya membeberkan data yang mencolok. Di era SBY, rata-rata pertumbuhan base money mencapai 17%. Ini menghasilkan pertumbuhan kredit sebesar 22%. Angka ini menunjukkan bahwa sektor swasta sangat aktif dan berperan besar.
“Pada era SBY, base money tumbuh 17%. Itu menghasilkan pertumbuhan kredit 22%,” kata Purbaya.
Sebaliknya, pada era Jokowi, pertumbuhan base money hanya sekitar 7%. Akibatnya, pertumbuhan kredit rata-rata juga hanya 5%. Menurut Purbaya, ini menyebabkan ekonomi terasa “kering.” Pembangunan infrastruktur yang masif lebih banyak dikerjakan oleh BUMN. Sektor swasta justru tidak kebagian kue.
Strategi Baru untuk Ekonomi Indonesia
Untuk mengatasi hal ini, Purbaya berencana untuk menghidupkan kembali “dua mesin” ekonomi, yakni moneter dan fiskal. Langkah pertama sudah ia jalankan. Purbaya telah mendapatkan izin untuk menarik Rp 200 triliun dari Rp 425 triliun anggaran sisa yang mengendap di Bank Indonesia. Dana ini akan disalurkan ke bank-bank BUMN (Himbara) untuk mendorong kredit ke masyarakat.
“Saya sudah tarik Rp 200 triliun dari BI Cash. Dan akan menyalurkannya ke Himbara,” ungkapnya.
Purbaya melarang bank-bank tersebut menabungkan kembali dana ini di Bank Indonesia. Ia ingin memastikan uang tersebut benar-benar beredar. Purbaya juga akan mendorong belanja pemerintah agar berjalan lebih efisien. Ia berharap, strategi ini dapat meningkatkan kembali perputaran uang. Ia meyakini, ekonomi Indonesia bisa tumbuh di atas 6% dalam beberapa tahun mendatang. (BP/CHA)













