BAGAIMANA PUN sunyi dan tersembunyinya Silent Resonance Deni Setiawan kelahiran Palembang, teknologi Artificial Intelligence (AI) dapat memberikan sedikit banyak bocoran. Di Jawa ada istilah ilmu Titen, membaca tanda-tanda alam. Tanda-tanda ini semacam gejala-gejala yang tampak namun tidak semua orang paham terhadap tanda-tanda itu. Selama ini disinyalir Deni mendalami ilmu Titen ini dengan perlakuan berbeda dan penerapannya berbeda. Dimodifikasi dan aplikasikan pada karya lukis.
Suasana hati dan pikiran yang terbimbing konsep dasar pengetahuan serta pengalaman membentuk objek, garis, warna, ruang dan irama. Dari realitas subjek menjadi realitas objek. Bermula dari kenyataan subjek menjadi citraan ketertarikan dan keterikatan personal.
Berbicara masalah hubungan antara manusia dengan Tuhannya, hubungan ruh dan tubuh, hubungan antara individu manusia, hubungan dengan benda milik pribadi, hubungan dengan alam lingkungan, hubungan dengan peristiwa, ide, dan segala sesuatu di luar logika.
Gagasan itu menggumpal dibentuk pengalaman mendalam lahir batin, kedalaman pengetahuan dan pencarian tiada henti, memberikan ruang imajinasi memvisualisasikannya bukan melalui sketsa garis-garis goresan tinta pena, namun melalui narasi dan pilihan diksi yang membentuk laksana sketsa. Seperti yang dapat dibaca pada narasi pengantar setiap lukisannya ditulis senimannya. Sketsa itu bisa jadi skenario dan lukisan itu pengambilan penggalan adegan dari angle paling gacor pada skenario itu.
Karya-karya yang dikategorikan abstrak itu menyergap pemirsa. Deni Setiawan menuntun membayangkan dan merenungkan tentang apa yang sedang dan pernah dialaminya serta dipikirkan dalam hidupnya akhir-akhir ini. Dia mencoba menutup pintu pikiran pemirsanya supaya tidak keluar dari wilayah skenarionya. Tidak ingin pemirsanya berbagi fokus perhatian sejenak pun dengan tema atau gagasannya di luar yang diusungnya saat ini. Semacam permintaan membuka perhatian dan pengertian sejenak. Tanpa perlu banyak bicara, hanya berdialog melalui batin atau perasaan terdalam.
Ini bukan untuk dibanding-bandingkan dengan siapa pun: inilah suara sunyi tersembunyi yang perlu dirasakan dan dirayakan akhir tahun 2025 di IndiArt House Yogyakarta. Siapa pun boleh mengekspresikan reaksi penafsiran atas apa yang disajikan pelukis sebanyak 70 karya.
Gaya dan teknis sebagai alat ungkap akurat bagi kemiripan resonansi yang dialami dan dirasakan pelukis. Secara visual kita akan mudah mengenal dan menerka-nerka, namun satu per satu karya itu dibuat secara terstruktur, terencana, dan mendalam.
Citraan yang divisualkan pada media kanvas memiliki struktur perencanaan dan pemaknaannya berdasarkan temuan mendalam tentang kehidupan yang sunyi tersembunyi. Sehingga dapat dipahami apa pun warna, bentuk, objek, garis yang tersaji tidak karena faktor kebetulan. Semua sesuai rencana dan disengaja diciptakan berdasarkan kesesuaian penemuan dari ruang sunyi atau suara tersembunyi.
Sketsa yang berbentuk narasi skenario ini bisa jadi prototype bagi karya-karya selanjutnya. Satu skenario dapat diwujudkan beberapa teknik, gaya, dan gestur objek. Bisa saja menjadi berseri-seri. Diuji coba menyesuaikan antara perbedaan suasana hati dan perubahan pikiran pada setiap berkarya. Sejauh mana perbedaan dan persamaan artistik suara atau ruang sunyi tersembunyi itu ketika mendapat perhatian dan perlakuan berbeda.
Pameran ini menampilkan ilustratif, edukatif, inspiratif dari kajian terhadap kedalaman ruang sunyi. Tentunya Deni Setiawan sebagai akademisi yang mengajar di Universitas Negeri Semarang (UNNES) bersinggungan dengan pendidikan anak usia dini, mengalami kegelisahan mengenai penyampaian Silent Resonance sebagai cara ungkap sekaligus kajian edukasi. Bagaimana hubungan warna, garis, bentuk, gestur, dan teknik, menampilkan resonansi yang dinamis harmonis menyampaikan pesan-pesannya. Dengan upaya mudah dipahami.
Pelukis memvisualisasikan yang tersembunyi sehingga menjadi wujudnya tampak, dapat disajikan dan dinikmati bersama. Meskipun tetap penyampaian bahasa visual ini sesungguhnya masih tersembunyi. Deni mengajak menelusuri apa yang tersembunyi berdasarkan visual narasinya. Resonansi apa yang didapat?
Silent Resonance ini menunjukkan bahwa lebih banyak yang tidak kita ketahui dan belum kita pahami dalam kehidupan ini. Hanya sedikit saja yang diketahui, itu pun kulit-kulitnya saja. Pada tahap kulit saja sudah riuh dengan berbagai persoalan dan pendapat berbeda. Terkadang seolah paling mengerti dan mengetahui. Ternyata meskipun semuanya sudah terlihat nyata, memilikinya, dan mengalaminya, sesuatu yang sunyi tersembunyi tetap ada.
Silent Resonance menjelaskan keheningan itu memberikan makna yang bervariasi, bermula dari diam ternyata dalam diam itu terdapat dialog atau menyimpan energi. Tubuh diam dan tidak bicara tapi hati dan pikirannya bisa jadi terus bergerak, menjelajah ke mana-mana dan merasakan serta memikirkan sesuatu secara bersamaan.
Suatu aktivitas yang tidak kasat mata, di luar jangkauan pengetahuan yang belum kita ketahui belum dipahami dan tidak disadari. Menjelaskan bahwa apa yang kita lihat, tampaknya diam atau apa yang kita rasakan tidak tampak. Kehidupan baik yang tampak diam, tak kasat mata dan tampak bergerak seperti memiliki kehidupannya sendiri.
Misal bau tercium tapi bentuk bau tidak tampak, udara terasa dingin atau panas bentuk udaranya tidak tampak, dan rasa dingin tidak berbentuk. Pikiran yang bergerak, bekerja otomatis membayangkan sesuatu, dan menstimulasi tubuh. Bunyi bisa terdengar, bentuknya tidak terlihat. Begitu pun perasaan sakit, gembira, marah, benci, sayang, sejauh mana bentuknya dan bagaimana bekerjanya. Upaya kita mengetahui dari reaksi yang ditimbulkannya. Gembira dengan tersenyum atau tertawa; sakit, sedih dengan murung.
Seperti apa sesuatu yang sunyi tersembunyi mendalam itu sesungguhnya? Kita tidak pernah benar-benar mengerti dan mengetahui lebih dalam apa yang terjadi. Hanya mengira menurut pengalaman, menurut mereka yang mempelajari dan melakukan penelitian tentang perihal itu. Mengetahui yang sunyi tersembunyi itu seperti terus berusaha meniti ke dalam diri, lebih mengenali diri sendiri dan mengenal yang lebih mengetahui atas segala sesuatu. Hingga tumbuh kesadaran, memperhalus rasa dalam menangkap realitas di luar pengetahuan sebagai pengalaman batin. (*)
Yogyakarta, 12 Desember 2025
BIODATA
Jajang R. Kawentar dilahirkan di Tasikmalaya, 9 Oktober 1970. Sarjana Seni lulusan FSRD, ISI Yogyakarta. Meskipun begitu, aktif menulis puisi, esai, dan cerpen. Pernah bekerja sebagai jurnalis. Karya-karyanya dimuat di Mitra Desa, Sentana, Sumatera Ekspres, Sriwijaya Pos, Berita Pagi, Lahat Pos, Singgalang, Riau Pos, Lampung Post, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Minggu Pagi, Bisnis Indonesia, Solo Pos, Kabar Sumatera, Media Kerja Budaya, berbagai media lokal dan nasional. Antologi puisinya yang berjudul Silat Lidah (2003) dan Martil (2002) diterbitkan oleh Sanggar Air Seni Palembang. Sementara beberapa puisinya di antologi bersama adalah Cakrawala Sastra Indonesia Semangkuk Embun (Dewan Kesenian Jakarta, 2005); Temu Sastrawan Indonesia I, Tanah Pilih (Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jambi, 2008); Temu Sastrawan Indonesia II, Pedas Lada Pasir Kuarsa (Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bangka Belitung, 2009); Anto Narasoma, Andras T Wong, Jajang R Kawentar, Dialog Merah pada Malam (Dinas Pendidikan Sumatera Selatan, 2009). Dan buku cerpennya adalah Peler Negeriku (Sanggar Air Seni Palembang, 2004); Antologi Cerpen Mastera, dari Pemburu ke Terapeutik (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2005); Antologi Cerpen, Tak Ada Pilihan Lain (Forum Sastra Bulak Sumur, 2001). Cerita bersambung dimuat Terompet Rakyat, Taring Padi Yogyakarta. Juga menulis seni rupa dan pameran seni rupa.
Pameran Tunggal:
Pameran Festival Kesenian Yogyakarta 1993, Pameran Seni Kriya, Taman Budaya Yogyakarta 1995, pameran tunggal tugas Akhir Kriya 1997, pameran tunggal lukis di Halaman Universitas Sriwijaya Palembang 2001, pameran tunggal Lukis di Aliansi Jurnalis Indevenden Palembang 2002.
Pameran Bersama :
Tarung Grafis, 13 May 2022 — 05 Jun 2022, Lawangwangi ARTSociates , Bandung.
Pasca Gambar, 26-30 Mei 2022, Bentara Budaya Yogyakarta.
Indprint, Printmaking Exhibition 2024, 20-31 Agustus 2024, G Printmaking Studio Yogyakarta
Menginisiasi Hari Menggambar Nasional, Indonesia Menggambar, Daulat Sampah Installation Art, Performance Art di Muara Sungai Serang, Muara Sungai Trisik, Kulonprogo Bersama 34 seniman 31 Desember 2024
I mengelola Seni Preeet Project sejak 2017, Jogja Exhibition Roadshow dari 2019, Forum Drawing Indonesia (FDI) dari 2018, Forum Seniman Kabupaten Tasikmalaya ( FORSEKATA) 2024, Priangan Disability Art Forum, 2025.













